Pemkab Lamandau Terus Berupaya Turunkan Angka Stunting
Senin, 08 Agustus 2022 - 10:51 WIB
loading...
Foto: Doc. Pemkab Lamandau
A
A
A
NANGA BULIK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau, Kalteng terus berupaya menurunkan angka stunting, sebagai usaha mempercepat penurunan penyakit gagal tumbuh pada anak.
“Kegiatan ini dilakukan sebagai komitmen dalam mempercepat penurunan stunting,” ungkap Asisten perekonomian dan pembangunan Kabupaten Lamandau Ray Paskan saat membuka kegiatan rekonsiliasi stunting.
Pemerintah pusat telah menerbitkan perpres terkait hal tersebut sebagai payung hukum bagi strategi nasional (stranas) yang telah dicanangkan dan dilaksanakan sejak 2018.
Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024 dan 2030 sebagai target pembangunan berkelanjutan. Untuk mencapai target tersebut maka akan dilaksanakan melalui lima pilar salah satunya terkait peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di kementerian hingga tingkat kabupaten.
Hal lainnya yakni peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif hingga tingkat desa, peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat serta penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi.
“Kegiatan ini dilakukan sebagai komitmen dalam mempercepat penurunan stunting,” ungkap Asisten perekonomian dan pembangunan Kabupaten Lamandau Ray Paskan saat membuka kegiatan rekonsiliasi stunting.
Pemerintah pusat telah menerbitkan perpres terkait hal tersebut sebagai payung hukum bagi strategi nasional (stranas) yang telah dicanangkan dan dilaksanakan sejak 2018.
Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024 dan 2030 sebagai target pembangunan berkelanjutan. Untuk mencapai target tersebut maka akan dilaksanakan melalui lima pilar salah satunya terkait peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di kementerian hingga tingkat kabupaten.
Hal lainnya yakni peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif hingga tingkat desa, peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat serta penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi.
Lihat Juga :