alexametrics

392 Calon Peserta Didik SMAN 1 Kisaran Tersisih, Orangtua: Aneh, Jarak 1 Km Tak Lulus

loading...
392 Calon Peserta Didik SMAN 1 Kisaran Tersisih, Orangtua: Aneh, Jarak 1 Km Tak Lulus
Sejumlah orangtua calon peserta didik SMA Negeri 1 Kisaran yang tidak lolos hasil seleksi mempertanyakan tentang penerimaan siswa/siswi melalui Jalur Zonasi.(Foto/SINDOnews/Ismanto Panjaitan)
A+ A-
KISARAN - Sejumlah orangtua calon peserta didik SMA Negeri 1 Kisaran, Sumatera Utara yang tidak lolos hasil seleksi mempertanyakan tentang penerimaan siswa/siswi melalui Jalur Zonasi.

Mereka menyurigai bahwa sistem penerimaan dengan sistem online itu terindikasi tidak transparan dan akuntabel. Khususnya mengenai perhitungan jarak antara rumah dan sekolah. (BACA JUGA: Sumut Peringkat Pertama Pecandu dan Peredaran Narkoba)

Seperti yang disampaikan salah seorang ibu rumahtangga, Melda (39). Warga Jalan Bayan, Kelurahan Gambir Baru ini heran mengapa anaknya tidak bisa lulus. Padahal, jarak antara rumah dan sekolah sesuai dengan koordinat, sejauh 999 meter.



"Bingung kita. Masak (bagaimana mungkin) jarak 1 kilo (kilometer) bisa tak lulus. Aneh kali kalau jarak 1 kilo saja tak lulus. Jadi, mau dimana lagi anak kita sekolah," ungkapnya, saat menemui SINDOnews.com, di SMAN1 Kisaran, Senin (29/6/2020).

Menurut Melda, dari data yang dimilikinya, bawa ada calon peserta didik yang lolos seleksi, meskipun jarak antara rumah dan sekolah si calon peserta didik tersebut lebih jauh jika dibandingkan dengannya.

"Yang herannya, kok orang Mandoge (Kecamatan Bandar Pasir Mandoge) bisa lulus. Kita yang dekat, justru anak kita pula yang tak lulus. Aneh ini. Makanya kita kemari, mau minta penjelasan dari sekolah," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Mimin Rahmawati, warga Kelurahan Gambir Baru. Ia heran, bagaimana mungkin jumlah penduduk khusus angkatan SMA pada tahun ini di Kelurahan Selawan--lokasi gedung SMAN1 Kisaran berada, begitu banyak. (BACA JUGA: ASN dan Perawat Pemalsu Surat Hasil Rapid Test COVID-19 Diringkus)

Padahal, menurut dia, lokasi SMAN 1 Kisaran dikelilingi lahan perkebunan, seperti karet dan kelapa sawit serta kawasan sekolah. "Mungkin pohon karet ini pun sudah beranak, makanya banyak anak yang mau masuk di SMA satu Kisaran ini," katanya kesal.

Pada kesempatan itu, bukan hanya Melda dan Mimin yang hadir. Ada belasan orangtua lainnya yang berniat mempertanyakan soal ketidaklulusan anak mereka, di sekolah negeri tertua di Asahan itu. Namun tak satupun pihak sekolah menemui mereka.

Dari informasi yang dihimpun SINDOnews.com dari laman ppdb.disdik.sumutprov.go.id bahwa jumlah peserta didik yang lolos melalui jalur umum/zonasi sebanyak 218 peserta didik dari 610 pendaftar. Skor (meter) tertinggi 188 meter, sedangkan terendah 997 meter. Sebanyak 392 calon peserta didik yang tersisih. (BACA JUGA: Pecah Pembuluh Darahnya, Buruh Bangunan di Medan Tewas)

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 1 Kisaran, Heri Gindo saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui mengapa hal tersebut bisa terjadi. Menurut dia, pihaknya hanya menerima dan memverifikasi data yang dikirimkan calon peserta didik yang memilih Jalur Zonasi.

Jalur Zonasi diperuntukkan bagi peserta didik yang berdomisili di dalam wilayah zonasi yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) antar 0 sampai 20 kilometer. "Kalau lulus atau tidaknya, tanya ke Kacabdis (Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kisaran/Jumadi) aja. Bukan di-kita yang menentukannya itu," katanya.

Namun, Heri Gindo menolak saat dimintai data-data kependudukan para calon peserta didik yang lolos tersebut. "Kalau itu, ya gak bisa-lah. Tanya ke Cabdis saja," pungkasnya.
(vit)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak