Kisah Sunan Ngudung, Panglima Perang Demak yang Gugur saat Memimpin Penyerangan ke Majapahit
Senin, 04 Juli 2022 - 04:55 WIB
loading...
A
A
A
Raden Utsman Haji adalah putra dari Raden Raja Pandito saudara Raden Rahmat atau Sunan Ampel, dan Siti Zaenab. Tiga bersaudara, yakni Raden Raja Pandito, Raden Rahmat atau Sunan Ampel, dan Siti Zaenab adalah putra-putri dari Ibrahim al Asmar yang menikah dengan Condrowulan Binti Raja Campa.
Garis keturunan Sunan Ngudung, menurut Prihananto apabila ditarik ke atas, maka akan muttashil atau terhubung hingga ke Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, melalui jalur Sayyidah Fatimah al Zahra berputra Zainul Abidin berputra Zainul Hakam berputra Zainul Husain berputra al Zain al Kabir berputra Najmudin al Kabir berputra Najmudin al Kabir berputra Syam'un berputra Ustar berputra Abdullah berputra Abdurrahman berputra Mahmud Akbar berputra Najmuddin Akbar, kemudian berputra Ibrahim al Asmar.
Dalam memimpin penyerangan ke Majapahit, Sultan Ngudung akhirnya gugur. Dilansir dari kisahsejarah.id, disebutkan dalam Babad Majapahit dan Para wali, Sunan Ngudung menjadi panglima perang Kesultanan Demak, ketika bertempur melawan Kerajaan Majapahit.
Baca juga: Kisah Ratu Nilakendra, Raja Kelima Pajajaran Penganut Sekte Tantra yang Mewajibkan Ritual Persetubuhan
Raja Kesultanan Demak, Raden Patah melakukan penyerangan ke Majapahit, diduga karena Majapahit telah jatuh ke tangan Kerajaan Kadiri. Saat Majapahit jatuh ke tangan Kadiri, rajanya adalah Brawijaya V yang merupakan ayah kandung Raden Patah.
Saat Raden Ngudung melakukan pertempuran dengan Kerajaan Majapahit, pasukan Kerajaan Majapahit dipimpin Raden Kusen yang merupakan adik tiri dari Raden Patah. Raden Kusen adalah seorang muslim, yang mengabdi di Kerajaan Majapahit, sebagai Adipati Terung.
Setelah Sunan Ngudung gugur dalam pertempuran tersebut, Raden Patah akhirnya menugaskan putra Sunan Ngudung, yakni Sunan Kudus menjadi panglima perang. Berkat kepemimpnan Sunan Kudus inilah, akhirnya Kesultanan Demak mampu mengalahkan Majapahit yang kala itu sudah berada di bawah kekuasaan Kadiri.
Garis keturunan Sunan Ngudung, menurut Prihananto apabila ditarik ke atas, maka akan muttashil atau terhubung hingga ke Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, melalui jalur Sayyidah Fatimah al Zahra berputra Zainul Abidin berputra Zainul Hakam berputra Zainul Husain berputra al Zain al Kabir berputra Najmudin al Kabir berputra Najmudin al Kabir berputra Syam'un berputra Ustar berputra Abdullah berputra Abdurrahman berputra Mahmud Akbar berputra Najmuddin Akbar, kemudian berputra Ibrahim al Asmar.
Dalam memimpin penyerangan ke Majapahit, Sultan Ngudung akhirnya gugur. Dilansir dari kisahsejarah.id, disebutkan dalam Babad Majapahit dan Para wali, Sunan Ngudung menjadi panglima perang Kesultanan Demak, ketika bertempur melawan Kerajaan Majapahit.
Baca juga: Kisah Ratu Nilakendra, Raja Kelima Pajajaran Penganut Sekte Tantra yang Mewajibkan Ritual Persetubuhan
Raja Kesultanan Demak, Raden Patah melakukan penyerangan ke Majapahit, diduga karena Majapahit telah jatuh ke tangan Kerajaan Kadiri. Saat Majapahit jatuh ke tangan Kadiri, rajanya adalah Brawijaya V yang merupakan ayah kandung Raden Patah.
Saat Raden Ngudung melakukan pertempuran dengan Kerajaan Majapahit, pasukan Kerajaan Majapahit dipimpin Raden Kusen yang merupakan adik tiri dari Raden Patah. Raden Kusen adalah seorang muslim, yang mengabdi di Kerajaan Majapahit, sebagai Adipati Terung.
Setelah Sunan Ngudung gugur dalam pertempuran tersebut, Raden Patah akhirnya menugaskan putra Sunan Ngudung, yakni Sunan Kudus menjadi panglima perang. Berkat kepemimpnan Sunan Kudus inilah, akhirnya Kesultanan Demak mampu mengalahkan Majapahit yang kala itu sudah berada di bawah kekuasaan Kadiri.
(eyt)
Lihat Juga :