Kisah Sunan Ngudung, Panglima Perang Demak yang Gugur saat Memimpin Penyerangan ke Majapahit
Senin, 04 Juli 2022 - 04:55 WIB
loading...
A
A
A
Pertempuran hebat antara Kesultanan Demak menghadapi Majapahit ini, juga direkonstruksi dalam bentuk kesenian tari jaranan. Sunan Ngudung, yang memiliki nama asli Raden Utsman Haji tersebut, dikenal menjadi panglima perang yang sangat handal di zamannya.
Sunan Ngudung tak hanya handal sebagai panglima perang, namun dia juga memiliki jejak sejarah sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah Tuban, tepatnya di wilayah Desa Wadung, Kecamatan Soko.
Baca juga: Kisah Pembunuhan Raja Demak Sunan Prawoto Dipicu Dendam Kesumat Arya Penangsang
Dalam tulisannya, Prihananto menyebut, budayawan Nadlatul Ulama (NU), Agus Sunyoto mencatat jejak dakwah Sunan Ngudung adalah pencipta tari jaranan atau jatilan. Tari jaranan digunakan sebagai media dakwah keliling, untuk mengumpulkan warga di lapangan desa.
Setelah warga berkumpul di lapangan, kemudian warga diajak untuk membaca kalimat syahadat. Dakwah yang akulturalif ini, menginspirasi penyebar Islam setelah Sultan Ngudung. Hal itu salah satunya dapat dilihat dari cara berdakwah putra Sunan Ngudung, Sunan Kudus.
Dalam karya ilmiahnya, Prihananto juga menyebut, Raden Utsman Haji atau Sunan Ngudung, memiliki hubungan kekerabatan dengan waliyullah lainnya. Raden Utsman Haji adalah putra dari Raja Pandito, saudara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Siti Zaenab.
Baca juga: Kisah Alas Donoloyo, Dijaga Keturunan Majapahit Penyumbang Tiang Masjid Agung Demak
Sunan Ngudung tak hanya handal sebagai panglima perang, namun dia juga memiliki jejak sejarah sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah Tuban, tepatnya di wilayah Desa Wadung, Kecamatan Soko.
Baca juga: Kisah Pembunuhan Raja Demak Sunan Prawoto Dipicu Dendam Kesumat Arya Penangsang
Dalam tulisannya, Prihananto menyebut, budayawan Nadlatul Ulama (NU), Agus Sunyoto mencatat jejak dakwah Sunan Ngudung adalah pencipta tari jaranan atau jatilan. Tari jaranan digunakan sebagai media dakwah keliling, untuk mengumpulkan warga di lapangan desa.
Setelah warga berkumpul di lapangan, kemudian warga diajak untuk membaca kalimat syahadat. Dakwah yang akulturalif ini, menginspirasi penyebar Islam setelah Sultan Ngudung. Hal itu salah satunya dapat dilihat dari cara berdakwah putra Sunan Ngudung, Sunan Kudus.
Dalam karya ilmiahnya, Prihananto juga menyebut, Raden Utsman Haji atau Sunan Ngudung, memiliki hubungan kekerabatan dengan waliyullah lainnya. Raden Utsman Haji adalah putra dari Raja Pandito, saudara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Siti Zaenab.
Baca juga: Kisah Alas Donoloyo, Dijaga Keturunan Majapahit Penyumbang Tiang Masjid Agung Demak
Lihat Juga :