Kisah Cinta Sultan Syarif Kasim II dan Ratu Wilhelmina Bersemi di Antara Kolonialisme dan Kecamuk Perang

Senin, 09 Mei 2022 - 05:02 WIB
loading...
A A A
Bukan hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga dengan tegas menolak mengakui Kesultanan Siak sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, meskipun sebelumnya para sultan di Kerajaan Siak telah terikat perjanjian dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, termasuk Perjanjian London 1824.

Mendapatkan perlawanan dari Sultan Syarif Kasim II, pemerintah kolonial Hindia Belanda akhirnya mendatangkan bala bantuan Marsose dari Medan, di bawah pimpinan Letnan Leiner. Pasukan bersenjata yang dikenal bengis ini, dikerahkan untuk meredam kekuatan di Kerajaan Siak.

Kepedulian Sultan Syarif Kasim II terhadap rakyatnya sangat kuat. Bahkan, untuk melawan penjajahan yang dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dia juga mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat, dan memberikan beasiswa bagi anak-anak dari Kerajaan Siak untuk menempuh pendidikan tinggi.

Perlawanan Sultan Syarif Kasim II, juga terjadi di masa pendudukan Jepang. Pasukan Jepang, sempat menangkapi raja-raja di Riau, namun belum berani menangkap Sultan Syarif Kasim II, karena takut terjadi pemberontakan dari rakyat Kerajaan Siak. Sultan Syarif Kasim II juga menentang pengiriman romusha. Dia tetap melindungi rakyatnya, meskipun kekuasaannya dilucuti.

Kekalahan Jepang dari Sekutu pada 15 Agustus 1945, dan disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, tersiar hingga di Kerajaan Siak. Kabar ini membuat Sultan Syarif Kasim II langsung mengibarkan bendera merah putih di Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Pada tahun 1946, Sultan Syarif Kasih II berangkat ke Jawa, untuk menemui Bung Karno. Dalam pertemuan tersebut, Sultan Syarif Kasim II, dengan tegas menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia.
(eyt)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3771 seconds (11.97#12.26)