Budidaya Pisang Cavendish, Asa di Tengah Pandemi COVID-19
Jum'at, 19 Juni 2020 - 14:50 WIB
loading...
A
A
A
Pasar Kebun Pisang Susanto belum mengarah ke ekspor atau wilayah di luar Jawa Timur. Tapi untuk melayani permintaan di daerah Kabupaten Kediri dan beberapa kota di Jawa Timur sudah kewalahan.
Pemilik Kebun Pisang Desa Kapi, Susanto menuturkan, kebun pisang miliknya merupakan hasil perenungan setelah berkiprah selama 35 tahun dari pekerjaannya di tambang batu bara, Kalimantan Timur.
"Saat harga minyak jatuh, batu bara juga jatuh. Saya berpikir investasi ke bidang apa, properti atau yang lain. Tapi setelah dipikir lebih mendalam akhirnya saya pilih menanam pisang. Saya ingin menikmati hidup. Apalagi yang dicari," kata Susanto ditemui seusai istirahat siang.
Menurut Susanto, meski sudah ada 11 hektare lahan yang ditanami pisang, hidupnya jauh lebih tenang karena perawatan pisang sangat mudah. Tidak seperti petani cabai yang masih stres memikirkan harga cabai yang anjlok, sekali tanam bibit pisang bisa sampai 3 tahun panen. Harga pisang juga relatif stabil.
Satu hektare lahan bisa diisi 2.250 bibit pisang. Dalam 7-8 bulan sudah panen pisang. Juga panen anak pisang yang hanya diambil dua batang untuk ditumbuhkan.
"Anggap saja satu tanda pisang dijual Rp 50 ribu (harga di pasar bisa mencapai Rp 150 ribu per tandan), petani sudah mengantongi uang Rp 112.5 juta. Padahal itu hanya memasok pasar di daerah kita sendiri, belum ke mana mana," tandas pria asli Udanawu, Kabupaten Blitar ini.
(Baca juga: WHO Optimistis Ratusan Juta Dosis Vaksin Covid-19 Bisa Siap Sebelum 2021 )
Demikian pula pada saat musim pandemi COVID-19. Saat bidang-bidang lain terdampak, seperti banyak pemutusan hubungan kerja, penurunan penjualan, justru kebun pisang Susanto semakin eksis.
Permintaan pisang tetap lancar bahkan sedikit kewalahan melayani pesanan dari daerah lain."Bagi yang ingin belajar tentang pisang monggo bisa berdiskusi dan belajar di tempat kami," katanya.
Pemilik Kebun Pisang Desa Kapi, Susanto menuturkan, kebun pisang miliknya merupakan hasil perenungan setelah berkiprah selama 35 tahun dari pekerjaannya di tambang batu bara, Kalimantan Timur.
"Saat harga minyak jatuh, batu bara juga jatuh. Saya berpikir investasi ke bidang apa, properti atau yang lain. Tapi setelah dipikir lebih mendalam akhirnya saya pilih menanam pisang. Saya ingin menikmati hidup. Apalagi yang dicari," kata Susanto ditemui seusai istirahat siang.
Menurut Susanto, meski sudah ada 11 hektare lahan yang ditanami pisang, hidupnya jauh lebih tenang karena perawatan pisang sangat mudah. Tidak seperti petani cabai yang masih stres memikirkan harga cabai yang anjlok, sekali tanam bibit pisang bisa sampai 3 tahun panen. Harga pisang juga relatif stabil.
Satu hektare lahan bisa diisi 2.250 bibit pisang. Dalam 7-8 bulan sudah panen pisang. Juga panen anak pisang yang hanya diambil dua batang untuk ditumbuhkan.
"Anggap saja satu tanda pisang dijual Rp 50 ribu (harga di pasar bisa mencapai Rp 150 ribu per tandan), petani sudah mengantongi uang Rp 112.5 juta. Padahal itu hanya memasok pasar di daerah kita sendiri, belum ke mana mana," tandas pria asli Udanawu, Kabupaten Blitar ini.
(Baca juga: WHO Optimistis Ratusan Juta Dosis Vaksin Covid-19 Bisa Siap Sebelum 2021 )
Demikian pula pada saat musim pandemi COVID-19. Saat bidang-bidang lain terdampak, seperti banyak pemutusan hubungan kerja, penurunan penjualan, justru kebun pisang Susanto semakin eksis.
Permintaan pisang tetap lancar bahkan sedikit kewalahan melayani pesanan dari daerah lain."Bagi yang ingin belajar tentang pisang monggo bisa berdiskusi dan belajar di tempat kami," katanya.
(eyt)
Lihat Juga :