Mereka Bertarung Nyawa Melawan Corona di Sektor Liang Lahat
Senin, 15 Juni 2020 - 12:43 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, jenazah COVID-19 justru lebih aman dari pada pasien. Karena sebelum dimakamkan, jenazah itu sudah dimasukkan ke dalam peti dan dilapisi plastik sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan. “Awalnya hanya beberapa petugas yang turun, kemudian ada 22 teman ikut berani turun. Pasca sebulan itu kemudian akhirnya semuanya diwajibkan untuk ikut terjun,” katanya.
Bahkan, ia juga kerap kali harus membantu pemakaman jenazah COVID-19 saat tengah malam hingga dini hari. Bahkan, ketika pulang dan sampai di rumah, ia harus kembali berdinas untuk membantu rekan-rekannya.
“Seringkali sudah sampai rumah itu saya harus kembali membantu. Tidak hanya malam hari, dini hari sampai pagi pokoknya 24 jam. Bahkan, di luar jam dinas saya harus turun,” ungkapnya.
Sejak COVID-19 ada di Surabaya, mobil ambulance Dinsos tak hanya digunakan untuk mengantar orang sakit biasa. Namun, kendaraan ini juga digunakan untuk mengantar pasien ataupun jenazah COVID-19 ke tempat pemakaman.
Zuliyanto mengaku, dirinya juga kerap kali harus bersitegang dengan pihak keluarga pasien. Alasannya, keluarga pasien ingin memakamkan sendiri kerabatnya itu, meski tenaga kesehatan telah menyatakan jenazah itu confirm COVID-19. Padahal, pemerintah telah menetapkan jenazah COVID-19 harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan.
“Sering bersitegang sama pihak keluarga karena mereka tidak mengerti tupoksi kita di mana. Padahal tujuan kita hanya ingin membantu meringankan mereka. Hampir juga sempat berantem, untungnya saya masih sadar, saya berikan pengertian kepada pihak keluarga kalau proses pemakaman sesuai protokol,” ungkapnya.
Bahkan, ia juga kerap kali harus membantu pemakaman jenazah COVID-19 saat tengah malam hingga dini hari. Bahkan, ketika pulang dan sampai di rumah, ia harus kembali berdinas untuk membantu rekan-rekannya.
“Seringkali sudah sampai rumah itu saya harus kembali membantu. Tidak hanya malam hari, dini hari sampai pagi pokoknya 24 jam. Bahkan, di luar jam dinas saya harus turun,” ungkapnya.
Sejak COVID-19 ada di Surabaya, mobil ambulance Dinsos tak hanya digunakan untuk mengantar orang sakit biasa. Namun, kendaraan ini juga digunakan untuk mengantar pasien ataupun jenazah COVID-19 ke tempat pemakaman.
Zuliyanto mengaku, dirinya juga kerap kali harus bersitegang dengan pihak keluarga pasien. Alasannya, keluarga pasien ingin memakamkan sendiri kerabatnya itu, meski tenaga kesehatan telah menyatakan jenazah itu confirm COVID-19. Padahal, pemerintah telah menetapkan jenazah COVID-19 harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan.
“Sering bersitegang sama pihak keluarga karena mereka tidak mengerti tupoksi kita di mana. Padahal tujuan kita hanya ingin membantu meringankan mereka. Hampir juga sempat berantem, untungnya saya masih sadar, saya berikan pengertian kepada pihak keluarga kalau proses pemakaman sesuai protokol,” ungkapnya.
(vit)
Lihat Juga :