Teruslah Berlari San, Kenali Temanmu dan Hilangkan Racun Gadget
Sabtu, 31 Desember 2022 - 06:41 WIB
loading...
A
A
A
Senyum kecil Sandi mulai terlihat. Mereka berdua larut dalam percakapan ketika Sandi berkali-kali ingin diajari oleh Rizky untuk bisa memutar gasing itu dengan cepat. "Tarik yang keras dan lemparkan di posisi ujung, biar berputar kencang," jawab Rizky.
Baca juga: Labfor dan Inafis Lakukan Olah TKP Gedung RSUP dr Kariadi yang Terbakar
Sandi mencoba berkali-kali. Namun gagal. Pada percobaan yang ketujuh, Sandi akhirnya berhasil. Ia langsung melompat kegirangan. Mereka berdua kini mulai beradu gasing, saling menatap kecepatan dan melilitkan tali dengan kencang-kencang.
Saat matahari semakin hangat, Founder KLG Achmad Irfandi mencoba untuk mendatangi Sandi yang masih asyik dengan gasing. Ia kemudian mengajak Sandi dan Rizky itu untuk berjalan ke kolam ikan yang jaraknya tak begitu jauh. Suara burung kutilang menemani pagi itu yang teduh di Dusun Bendet.
Saat berjalan, Sandi masih mengenakan sepatu dan terus menghindari dari tanah liat yang becek. Irfandi mencoba memintanya untuk melepas sepatu itu, namun ajakan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Sandi. "Nggak mau, kotor!" katanya.
"Nggak apa-apa, bermain itu harus berani kotor. Nanti kita kan cuci tangan dan kaki, sama mandi juga kalau selesai bermain," jawab Irfandi.
Sandi tetap tak mau. Berkali-kali ia ragu untuk melintas di atas lumpur. Sepatunya sudah mulai kotor, dan ia merasa itu tidak baik-baik saja. Irfandi dan anak-anak yang lain mencoba untuk menjelaskan kalau kita akan segera masuk ke kolam ikan.
"Ayo, lepas saja sepatunya. Asyik kok, ayo turun ke sini!" ajak anak-anak sambil bergantian masuk ke kolam.
Sandi masih ragu-ragu. Dipandanginya kanan dan kiri, melihat ikan-ikan yang berenang di air yang keruh. Ia coba dibantu masuk ke air setelah sepatunya dilepas. Sandi canggung, tapi setelah diajari cara menangkap ikan, ia langsung sumringah. Air yang bercampur lumpur kini membasahi badannya. Sandi cuek. Ia masih fokus untuk menangkap salah satu ikan. Tapi belum berhasil.
Sudah empat jam Sandi tak lagi bertanya tentang gadget. Irmaningtyas senang. Dia pun melihat senyum yang tak biasa dari buah hatinya. Apalagi melihatnya berinteraksi dengan teman-teman baru, bermain bersama. Dan melihat anaknya yang berani untuk kotor. "Disuruh buang bekas tisu ke tempat sampah saja nggak mau. Katanya kotor," jelas Siska.
![Teruslah Berlari San, Kenali Temanmu dan Hilangkan Racun Gadget]()
Dunia Anak adalah Tempat Bermain
Pandemi COVID-19 mengubah banyak kebiasaan bagi anak-anak. Mereka yang dulunya banyak berinteraksi dengan teman sebayanya, kini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gawai.
Di KLG, tak ada anak-anak yang memakai gawai. Mereka dikembalikan pada hakikat dunia anak yang penuh keceriaan dengan berbagai permainan yang menemani hari-harinya. Anak-anak terus bermain dan berlarian di bawah pohon pole yang menjulang tinggi.
Mereka ada yang bermain bentengan, gobak sodor, lompat tali, mendengarkan dongeng, dan ada yang memilih membaca buku di bawah pohon yang rindang. Suara mereka renyah, memecah siang yang terik menjadi hangat dalam riang dan gembira.
Irfandi menuturkan, anak-anak ketika pertama datang ke KLG harus dihilangkan dulu ketergantungan pada gawai. Dampak kegiatan dan permainan tradisional terhadap anak-anak bisa mengembalikan keceriaan mereka.
Anak-anak juga diajak untuk kembali mengenal kearifan lokal, membantu orang tua dan mengajak mereka untuk bisa mengenal kebudayaan keluarga dengan landasa tepo seliro dan saling membantu. "Racun-racun dari gawai harus dikeluarkan. Jadi mereka kalau kesini lupa gawai," imbuhnya.
Baca juga: Usai Periksa 34 Orang, Polisi Panggil Habib Bahar bin Smith ke Polda Jabar
Ia mulai bercerita, KLG mulai dibuka pada 2018. Posisinya dikelilingi persawahan yang masih membentang hijau dan habitat burung yang masih terjaga. KLG lahir dari kegelisahan melihat anak-anak terlalu sering bermain gawai.
Menurutnya, tumbuh kembang anak era sekarang kurang seimbang karena terlalu lekat dengan gadget. Padahal, di masa tumbuh kembang, anak-anak harus bermain dan berinteraksi dengan sebayanya.
Baca juga: Labfor dan Inafis Lakukan Olah TKP Gedung RSUP dr Kariadi yang Terbakar
Sandi mencoba berkali-kali. Namun gagal. Pada percobaan yang ketujuh, Sandi akhirnya berhasil. Ia langsung melompat kegirangan. Mereka berdua kini mulai beradu gasing, saling menatap kecepatan dan melilitkan tali dengan kencang-kencang.
Saat matahari semakin hangat, Founder KLG Achmad Irfandi mencoba untuk mendatangi Sandi yang masih asyik dengan gasing. Ia kemudian mengajak Sandi dan Rizky itu untuk berjalan ke kolam ikan yang jaraknya tak begitu jauh. Suara burung kutilang menemani pagi itu yang teduh di Dusun Bendet.
Saat berjalan, Sandi masih mengenakan sepatu dan terus menghindari dari tanah liat yang becek. Irfandi mencoba memintanya untuk melepas sepatu itu, namun ajakan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Sandi. "Nggak mau, kotor!" katanya.
"Nggak apa-apa, bermain itu harus berani kotor. Nanti kita kan cuci tangan dan kaki, sama mandi juga kalau selesai bermain," jawab Irfandi.
Sandi tetap tak mau. Berkali-kali ia ragu untuk melintas di atas lumpur. Sepatunya sudah mulai kotor, dan ia merasa itu tidak baik-baik saja. Irfandi dan anak-anak yang lain mencoba untuk menjelaskan kalau kita akan segera masuk ke kolam ikan.
"Ayo, lepas saja sepatunya. Asyik kok, ayo turun ke sini!" ajak anak-anak sambil bergantian masuk ke kolam.
Sandi masih ragu-ragu. Dipandanginya kanan dan kiri, melihat ikan-ikan yang berenang di air yang keruh. Ia coba dibantu masuk ke air setelah sepatunya dilepas. Sandi canggung, tapi setelah diajari cara menangkap ikan, ia langsung sumringah. Air yang bercampur lumpur kini membasahi badannya. Sandi cuek. Ia masih fokus untuk menangkap salah satu ikan. Tapi belum berhasil.
Sudah empat jam Sandi tak lagi bertanya tentang gadget. Irmaningtyas senang. Dia pun melihat senyum yang tak biasa dari buah hatinya. Apalagi melihatnya berinteraksi dengan teman-teman baru, bermain bersama. Dan melihat anaknya yang berani untuk kotor. "Disuruh buang bekas tisu ke tempat sampah saja nggak mau. Katanya kotor," jelas Siska.

Dunia Anak adalah Tempat Bermain
Pandemi COVID-19 mengubah banyak kebiasaan bagi anak-anak. Mereka yang dulunya banyak berinteraksi dengan teman sebayanya, kini lebih banyak menghabiskan waktunya dengan gawai.
Di KLG, tak ada anak-anak yang memakai gawai. Mereka dikembalikan pada hakikat dunia anak yang penuh keceriaan dengan berbagai permainan yang menemani hari-harinya. Anak-anak terus bermain dan berlarian di bawah pohon pole yang menjulang tinggi.
Mereka ada yang bermain bentengan, gobak sodor, lompat tali, mendengarkan dongeng, dan ada yang memilih membaca buku di bawah pohon yang rindang. Suara mereka renyah, memecah siang yang terik menjadi hangat dalam riang dan gembira.
Irfandi menuturkan, anak-anak ketika pertama datang ke KLG harus dihilangkan dulu ketergantungan pada gawai. Dampak kegiatan dan permainan tradisional terhadap anak-anak bisa mengembalikan keceriaan mereka.
Anak-anak juga diajak untuk kembali mengenal kearifan lokal, membantu orang tua dan mengajak mereka untuk bisa mengenal kebudayaan keluarga dengan landasa tepo seliro dan saling membantu. "Racun-racun dari gawai harus dikeluarkan. Jadi mereka kalau kesini lupa gawai," imbuhnya.
Baca juga: Usai Periksa 34 Orang, Polisi Panggil Habib Bahar bin Smith ke Polda Jabar
Ia mulai bercerita, KLG mulai dibuka pada 2018. Posisinya dikelilingi persawahan yang masih membentang hijau dan habitat burung yang masih terjaga. KLG lahir dari kegelisahan melihat anak-anak terlalu sering bermain gawai.
Menurutnya, tumbuh kembang anak era sekarang kurang seimbang karena terlalu lekat dengan gadget. Padahal, di masa tumbuh kembang, anak-anak harus bermain dan berinteraksi dengan sebayanya.
Lihat Juga :