Senyum Aulia dan Jalan Cadas Merawat Kebahagiaan di Tengah Pandemi
Selasa, 30 November 2021 - 22:21 WIB
loading...
A
A
A
Mereka bertiga kini memulai kehidupan baru tanpa kedua orang tua. Tanpa ada pelukan hangat yang diberikan di malam hari, tanpa ada dongeng yang disampaikan menjelang tidur dan tidak ada orang yang mengingatkan untuk belajar. "Kami tak mau menyerah, alhamdulilah biaya sekolah tak lagi bayar. Untuk makan juga sudah diberikan. Tetangga juga baik dan selalu membantu," katanya.
Aulia yang masih belia dan masih duduk di bangku kelas 5 SD pun lebih tegar. Awal ketika kedua orang tuanya meninggal karena COVID-19, ia sempat tak mau diajak bicara. Perasaannya terpukul, kesadarannya belum bisa pulih ketika membayangkan wajah ibunya. Orang yang dicintai pergi untuk selamanya.
Sesekali ia masih berharap ibunya muncul dari pintu dapur, membawakannya sepiring makanan dan mereka larut dalam obrolan seputar sekolah dan teman bermain. Ibunya paling suka untuk membuatkannya teh hangat di pagi hari, katanya biar tidak masuk angin. "Pokoknya sekarang harus sekolah, ada mas juga yang bisa jaga Aulia," kata Aulia dengan senyum kecilnya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih mendata berapa banyak warga yang menjadi yatim, piatu, dan yatim piatu karena pandemi COVID-19. Forkopimda Kota Surabaya sepakat untuk berjuang habis-habisan demi kepentingan masyarakat.
Baca juga: Cegah Penyelundupan, Bea Cukai Gelar Pertemuan Laut dengan Singapore Police Coast Guard
Berbagai kendala maupun kebutuhan bagi anak-anak yatim maupun yatim-oiatu karena ditinggak orang tuanya meninggal dunia akan terus dipenuhi. Bahkan, pihaknya menyiapkan asrama bagi anak-anak yang rumahnya tidak layak huni. Tidak hanya itu, pemkot juga akan menjamin pendidikan mereka hingga jenjang kuliah.
"Kita akan berikan asrama jika tidak punya rumah atau rumahnya tidak memenuhi, mereka bisa tinggal di asrama. Kita juga akan biayai pendidikannya sampai dengan kuliah. Sehingga, anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya ini masih merasa mempunyai keluarga besar, yaitu keluarga besar Kota Surabaya," kata Eri.
Tercatat, sampai hari ini ada 1.258 anak yang ditinggal orang tuanya karena terdampak pandemi COVID-19. Mereka terus dilakukan intervensi untuk memastikan sehat, tetap sekolah dan memperoleh kehidupan yang layak. Proses intervensi itu mulai dari bantuan terkait administrasi kependudukan, kesehatan, permakanan hingga bidang pendidikan.
Ribuan anak yang menjadi yatim piatu karena ditinggalkan orang tuanya setelah terpaoar COVID-19 kini terus dipantau. Salah satunya anak-anak yang tak lagi memiliki keluarga untuk mengasuh. UPTD Kalijudan disiapkan untuk menjadi tempat pengasuhan anak-anak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP5A Kota Surabaya, Antiek Sugiharti menuturkan, saat ini Pemkot Surabaya juga tengah memikirkan terkait pengasuhan dari anak-anak tersebut. Utamanya, terhadap anak di bawah umur yang kedua orang tuanya meninggal dunia karena COVID-19.
Baca juga: Gugatan Pejabat Cantik Aceh Tengah Terhadap Ibu Kandungnya Ditolak Hakim PN Takengon
"Termasuk pengasuhan, kami juga masih komunikasikan. Kalau mereka yang tidak punya pengasuhan dari keluarganya, maka pemkot sudah menyiapkan tempat di UPTD Kalijudan untuk mereka yang tidak punya keluarga," jelasnya.
Ia melanjutkan, dari total 1.258 anak terdampak COVID-19, Pemkot Surabaya sudah memberikan intervensi sekitar 90 persen dari segi administrasi kependudukan. Baik itu terkait pembuatan kartu anak, pengurusan akta kematian orang tua, maupun Kartu Keluarga (KK).
"Mereka (anak-anak) yang sudah berusia 17 tahun, maka KK-nya bisa sendiri yang yatim piatu. Tapi yang belum, maka kita harus mengikutkan di keluarganya. Itu sudah diproses dan mungkin sudah 90 persen," ungkapnya.
Tak hanya intervensi mengenai administrasi kependudukan, Antiek juga menyatakan, bahwa anak-anak tersebut juga sudah mendapatkan bantuan permakanan dari pemkot. "Untuk permakanan, dari Dinsos (Dinas Sosial) untuk anak yatim piatu juga sudah ditindaklanjuti terus, setiap hari dikirim ke masing-masing rumah," ujarnya.
Di samping itu, Antiek menyebut, Pemkot Surabaya juga sudah mengcover biaya kesehatan anak-anak melalui BPJS Kesehatan. Jika sebelum-nya anak-anak itu di-cover biaya kesehatan dari tempat kerja orang tuanya, maka selanjutnya dibiayai oleh pemkot.
"Ketika kemarin mereka orang tuanya ada, maka BPJS-nya bisa dari kantor orang tuanya. Ketika sekarang (orang tua) tidak ada (meninggal), maka oleh pemkot sudah dialihkan dan dibiayai. Itu sudah 99 persen terlaksana," jelasnya.
Baca juga: Garut Diterjang Banjir Bandang, Ratusan Warga Kampung Cileles Terisolir
Sementara terkait bidang pendidikan, Antiek mengaku, bahwa anak-anak terdampak COVID-19 juga sudah difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Baik itu jenjang SD, SMP, SMA/SMK maupun yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Aulia yang masih belia dan masih duduk di bangku kelas 5 SD pun lebih tegar. Awal ketika kedua orang tuanya meninggal karena COVID-19, ia sempat tak mau diajak bicara. Perasaannya terpukul, kesadarannya belum bisa pulih ketika membayangkan wajah ibunya. Orang yang dicintai pergi untuk selamanya.
Sesekali ia masih berharap ibunya muncul dari pintu dapur, membawakannya sepiring makanan dan mereka larut dalam obrolan seputar sekolah dan teman bermain. Ibunya paling suka untuk membuatkannya teh hangat di pagi hari, katanya biar tidak masuk angin. "Pokoknya sekarang harus sekolah, ada mas juga yang bisa jaga Aulia," kata Aulia dengan senyum kecilnya.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menuturkan, sampai saat ini pihaknya masih mendata berapa banyak warga yang menjadi yatim, piatu, dan yatim piatu karena pandemi COVID-19. Forkopimda Kota Surabaya sepakat untuk berjuang habis-habisan demi kepentingan masyarakat.
Baca juga: Cegah Penyelundupan, Bea Cukai Gelar Pertemuan Laut dengan Singapore Police Coast Guard
Berbagai kendala maupun kebutuhan bagi anak-anak yatim maupun yatim-oiatu karena ditinggak orang tuanya meninggal dunia akan terus dipenuhi. Bahkan, pihaknya menyiapkan asrama bagi anak-anak yang rumahnya tidak layak huni. Tidak hanya itu, pemkot juga akan menjamin pendidikan mereka hingga jenjang kuliah.
"Kita akan berikan asrama jika tidak punya rumah atau rumahnya tidak memenuhi, mereka bisa tinggal di asrama. Kita juga akan biayai pendidikannya sampai dengan kuliah. Sehingga, anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya ini masih merasa mempunyai keluarga besar, yaitu keluarga besar Kota Surabaya," kata Eri.
Tercatat, sampai hari ini ada 1.258 anak yang ditinggal orang tuanya karena terdampak pandemi COVID-19. Mereka terus dilakukan intervensi untuk memastikan sehat, tetap sekolah dan memperoleh kehidupan yang layak. Proses intervensi itu mulai dari bantuan terkait administrasi kependudukan, kesehatan, permakanan hingga bidang pendidikan.
Ribuan anak yang menjadi yatim piatu karena ditinggalkan orang tuanya setelah terpaoar COVID-19 kini terus dipantau. Salah satunya anak-anak yang tak lagi memiliki keluarga untuk mengasuh. UPTD Kalijudan disiapkan untuk menjadi tempat pengasuhan anak-anak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP5A Kota Surabaya, Antiek Sugiharti menuturkan, saat ini Pemkot Surabaya juga tengah memikirkan terkait pengasuhan dari anak-anak tersebut. Utamanya, terhadap anak di bawah umur yang kedua orang tuanya meninggal dunia karena COVID-19.
Baca juga: Gugatan Pejabat Cantik Aceh Tengah Terhadap Ibu Kandungnya Ditolak Hakim PN Takengon
"Termasuk pengasuhan, kami juga masih komunikasikan. Kalau mereka yang tidak punya pengasuhan dari keluarganya, maka pemkot sudah menyiapkan tempat di UPTD Kalijudan untuk mereka yang tidak punya keluarga," jelasnya.
Ia melanjutkan, dari total 1.258 anak terdampak COVID-19, Pemkot Surabaya sudah memberikan intervensi sekitar 90 persen dari segi administrasi kependudukan. Baik itu terkait pembuatan kartu anak, pengurusan akta kematian orang tua, maupun Kartu Keluarga (KK).
"Mereka (anak-anak) yang sudah berusia 17 tahun, maka KK-nya bisa sendiri yang yatim piatu. Tapi yang belum, maka kita harus mengikutkan di keluarganya. Itu sudah diproses dan mungkin sudah 90 persen," ungkapnya.
Tak hanya intervensi mengenai administrasi kependudukan, Antiek juga menyatakan, bahwa anak-anak tersebut juga sudah mendapatkan bantuan permakanan dari pemkot. "Untuk permakanan, dari Dinsos (Dinas Sosial) untuk anak yatim piatu juga sudah ditindaklanjuti terus, setiap hari dikirim ke masing-masing rumah," ujarnya.
Di samping itu, Antiek menyebut, Pemkot Surabaya juga sudah mengcover biaya kesehatan anak-anak melalui BPJS Kesehatan. Jika sebelum-nya anak-anak itu di-cover biaya kesehatan dari tempat kerja orang tuanya, maka selanjutnya dibiayai oleh pemkot.
"Ketika kemarin mereka orang tuanya ada, maka BPJS-nya bisa dari kantor orang tuanya. Ketika sekarang (orang tua) tidak ada (meninggal), maka oleh pemkot sudah dialihkan dan dibiayai. Itu sudah 99 persen terlaksana," jelasnya.
Baca juga: Garut Diterjang Banjir Bandang, Ratusan Warga Kampung Cileles Terisolir
Sementara terkait bidang pendidikan, Antiek mengaku, bahwa anak-anak terdampak COVID-19 juga sudah difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Baik itu jenjang SD, SMP, SMA/SMK maupun yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Lihat Juga :