Ada Gibran, Purnomo 'Terpaksa' Mundur, Peluang Rekomendasi Tipis
Jum'at, 05 Juni 2020 - 19:20 WIB
loading...
Putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka dan Achmad Purnomo saat bertemu dalam prosesi pemakaman adik Raja Keraton Kasunanan Surakarta, 1 November 2019 lalu. Foto: DOK SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A
A
A
SOLO - Pengamat Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto menilai mundurnya Achmad Purnomo sebagai Bakal Calon Wali Kota Solo bukan sekedar tidak setuju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) digelar saat pandemi wabah COVID-19.
Munculnya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka sebagai pesaing mengakibatkan peluangnya mendapat rekomendasi dari DPP PDIP semakin tipis.(Baca juga : Mundur dari Bakal Calon Wali Kota Solo, Purnomo Pasrah ke Partai )
"Saya membaca dari aspek politik, dilihat dari gestur dan pesan pesan politik di balik itu, dia ingin mengatakan simbolik bahwa Pilkada Solo telah selesai. Karena hadirnya Gibran secara politik kalkulatif membuatnya tidak berpeluang untuk direkomendasi PDIP sebagai Calon Wali Kota Solo," kata Agus Riewanto kepada SINDOnews, Jumat (5/6/2020).
Sehingga besar kemungkinan pesan politik yang mau disampaikan adalah daripada martabatnya turun karena tidak mendapat rekomendasi, maka lebih baik menyatakan mundur terlebih dahulu. Adanya pandemi wabah COVID-19 menjadi moment sebagai alasan kultural sebagai bentuk kearifannya.
Sebagai orangtua, kata Agus, Purnomo memandang hal itu sebagai bentuk kompetisi. Sehingga lebih baik mundur mengingat secara politik tidak memungkinkan mendapat rekomendasi. Sehingga Achmad Purnomo dinilai tengah menyampaikan realitas politik yang tengah dihadapi saat ini.
Berkompetisi dengan Gibran sebagai anak Presiden, dianggap sangat berat karena secara politik gennya lebih tinggi. Mulai dari aspek popularitas, dukungan politik, dan lainnya. Sehingga untuk memenangkan rekomendasi DPP PDIP untuk diusung sebagai Calon Wali Kota tentunya sangat berat. (Baca juga : Golkar Dukung Gibran Tanpa Syarat di Pilwalkot Solo )
Terkait sikap DPC PDIP Solo yang dinilai masih menginginkan Achmad Purnomo tetap maju, dia menilai karena mundurnya Purnomo karena masih keputusan pribadi. Namun hal itu belum diputuskan dalam rapat organisasi. Selama ini, Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo (Rudy) yang paling keras agar pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa yang maju. Terlebih DPC PDIP Solo yang mengusulkan pasangan itu ke DPP PDIP.
Munculnya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka sebagai pesaing mengakibatkan peluangnya mendapat rekomendasi dari DPP PDIP semakin tipis.(Baca juga : Mundur dari Bakal Calon Wali Kota Solo, Purnomo Pasrah ke Partai )
"Saya membaca dari aspek politik, dilihat dari gestur dan pesan pesan politik di balik itu, dia ingin mengatakan simbolik bahwa Pilkada Solo telah selesai. Karena hadirnya Gibran secara politik kalkulatif membuatnya tidak berpeluang untuk direkomendasi PDIP sebagai Calon Wali Kota Solo," kata Agus Riewanto kepada SINDOnews, Jumat (5/6/2020).
Sehingga besar kemungkinan pesan politik yang mau disampaikan adalah daripada martabatnya turun karena tidak mendapat rekomendasi, maka lebih baik menyatakan mundur terlebih dahulu. Adanya pandemi wabah COVID-19 menjadi moment sebagai alasan kultural sebagai bentuk kearifannya.
Sebagai orangtua, kata Agus, Purnomo memandang hal itu sebagai bentuk kompetisi. Sehingga lebih baik mundur mengingat secara politik tidak memungkinkan mendapat rekomendasi. Sehingga Achmad Purnomo dinilai tengah menyampaikan realitas politik yang tengah dihadapi saat ini.
Berkompetisi dengan Gibran sebagai anak Presiden, dianggap sangat berat karena secara politik gennya lebih tinggi. Mulai dari aspek popularitas, dukungan politik, dan lainnya. Sehingga untuk memenangkan rekomendasi DPP PDIP untuk diusung sebagai Calon Wali Kota tentunya sangat berat. (Baca juga : Golkar Dukung Gibran Tanpa Syarat di Pilwalkot Solo )
Terkait sikap DPC PDIP Solo yang dinilai masih menginginkan Achmad Purnomo tetap maju, dia menilai karena mundurnya Purnomo karena masih keputusan pribadi. Namun hal itu belum diputuskan dalam rapat organisasi. Selama ini, Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo (Rudy) yang paling keras agar pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa yang maju. Terlebih DPC PDIP Solo yang mengusulkan pasangan itu ke DPP PDIP.
Lihat Juga :