Disbudpar Maros Bagikan Sembako untuk Pelaku Usaha Wisata Rammang-rammang

Rabu, 22 April 2020 - 16:18 WIB
loading...
Disbudpar Maros Bagikan Sembako untuk Pelaku Usaha Wisata Rammang-rammang
Pelaku usaha wisata Rammang-rammang menerima bantuan paket sembako dari Disbudpar Maros. Foto/SINDOnews/Najmi Limonu
A A A
MAROS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menyalurkan bantuan 185 paket sembako untuk pelaku usaha wisata Rammang-rammang. Mereka berhak mendapatkan bantuan pemerintah karena ikut terdampak pandemi virus corona alias covid-19.

Kepala Disbudpar Maros, M Ferdiansyah, menyampaikan bantuan paket sembako tersebut diharapkan bisa meringankan beban para pelaku usaha wisata Rammang-rammang. Diketahui sejak covid-19 mewabah, kawasan wisata yang terletak di Kecamatan Bontoa itu sepi pengunjung.

Kondisi tersebut berdampak buruk pada pelaku usaha wisata Rammang-rammang yang hanya mengandalkan pendapatan dari kunjungan wisatawan. Olehnya itu, pemerintah berinisiatif memberikan bantuan sembako kepada mereka yang selama ini telah ikut berkontribusi membangun sektor pariwisata di Maros.

"Hari ini kami mewakili pemerintah daerah memberikan paket sembako kepada 185 pelaku usaha pariwisata yang menggantungkan hidup mereka di Kawasan Wisata Karst Rammang-rammang," ujar Ferdiansyah.

Menurut dia, pemberian paket sembako diawali di area dermaga satu. Kemudian dilanjutkan ke area dermaga dua Kawasan Wisata Karst Rammang-rammang. "Untuk menghindari kerumunan warga, kami mendistribusikan paket sembako ini secara bertahap diawali di area dermaga satu, lalu dilanjutkan ke dermaga dua," jelasnya.

Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Maros, Yusriadi, menambahkan pihaknya berharap paket sembako itu dapat meringankan beban warga yang secara tidak langsung terdampak ekonominya di tengah pandemi corona.

Diketahui semenjak pandemi corona melanda tanah air, kondisi sektor industri pariwisata terdampak cukup parah. Seperti halnya di Kawasan Wisata Bantimurung yang telah ditutup sejak awal Maret lalu. Dengan ditutupnya kawasan wisata, otomatis mereka yang menggantungkan kehidupan sehari-harinya dari berjualan di kawasan wisata kini tidak lagi memiliki pekerjaan tetap.
(tri)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1839 seconds (11.252#12.26)