Pengganti Gajah Mada, Mahapatih Enggon yang Tak Tegas Sebabkan Kehancuran Majapahit
Rabu, 03 November 2021 - 05:02 WIB
loading...
Gajah Enggon yang diangkat Raja Hayam Wuruk setelah melalui sidang Dewan Sapta Prabu, ternyata tidak mampu mengembalikan kejayaan Kerajaan Majapahit. Foto ilustrasi SINDOnews
A
A
A
- SEPENINGGALAN Mahapatih Gajah Mada, Kerajaan Majapahit semakin lemah. Gajah Enggon yang diangkat Raja Hayam Wuruk setelah melalui sidang Dewan Sapta Prabu, ternyata tidak mampu mengembalikan kejayaan Kerajaan Majapahit.
Pengangkatan Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi hanya menegaskan fakta bahwa Gajah Mada seorang sosok yang tidak tergantikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Inilah yang membuat Hayam Wuruk merasa kehilangan atas sosok Gajah Mada. Baca juga: Nasib Tragis Gajah Mada Usai Membunuh Raja Sunda dan Putri Dyah Pithaloka di Perang Bubat
Dalam Kakawin Nagarakretagama, Gajah Enggon dikatakan tidak mampu meneruskan kejayaan yang pernah ditorehkan Mahapati Gajah Mada . Sebab selama Gajah Enggon menjabat selama 27 tahun hingga dia wafatnya pada 1398, alih-alih kembali ke masa keemasan, Majapahit justru terjerumus dalam konflik internal. Serangkaian perang saudara yang muncul mengancam keutuhan Nusantara.
Pada masa kepatihan Gajah Enggon, muncul persaingan-persaingan dalam kerajaan. Sebut misalnya Kedhaton Wetan bentukan Sri Wijayarajasa. Kedhaton Wetan muncul, tidak lain untuk menyaingi Kedhaton Kulon yang sebelumnya dibentuk oleh Dyah Hayamwuruk.
Tidak hanya persaingan tersebut. Dalam Pararaton, disebutkan bahwa pada 1376, muncul "gunung baru" yang mengisyaratkan terbentuknya keraton baru di Pamotan, yang terletak di timur Kerajaan Majapahit. Keraton tersebut dipimpin oleh Bhre Wengker alias Wijayarajasa, suami Rajadewi, yang diduga ingin menjadi raja Majapahit.
Karena tidak bisa meredam perasaingan, maka kemudian muncul pemberontakan dan perpecahan yang berujung pada malapetaka perang saudara di Majapahit.
Pengangkatan Gajah Enggon sebagai Patih Mangkubumi hanya menegaskan fakta bahwa Gajah Mada seorang sosok yang tidak tergantikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Inilah yang membuat Hayam Wuruk merasa kehilangan atas sosok Gajah Mada. Baca juga: Nasib Tragis Gajah Mada Usai Membunuh Raja Sunda dan Putri Dyah Pithaloka di Perang Bubat
Dalam Kakawin Nagarakretagama, Gajah Enggon dikatakan tidak mampu meneruskan kejayaan yang pernah ditorehkan Mahapati Gajah Mada . Sebab selama Gajah Enggon menjabat selama 27 tahun hingga dia wafatnya pada 1398, alih-alih kembali ke masa keemasan, Majapahit justru terjerumus dalam konflik internal. Serangkaian perang saudara yang muncul mengancam keutuhan Nusantara.
Pada masa kepatihan Gajah Enggon, muncul persaingan-persaingan dalam kerajaan. Sebut misalnya Kedhaton Wetan bentukan Sri Wijayarajasa. Kedhaton Wetan muncul, tidak lain untuk menyaingi Kedhaton Kulon yang sebelumnya dibentuk oleh Dyah Hayamwuruk.
Tidak hanya persaingan tersebut. Dalam Pararaton, disebutkan bahwa pada 1376, muncul "gunung baru" yang mengisyaratkan terbentuknya keraton baru di Pamotan, yang terletak di timur Kerajaan Majapahit. Keraton tersebut dipimpin oleh Bhre Wengker alias Wijayarajasa, suami Rajadewi, yang diduga ingin menjadi raja Majapahit.
Karena tidak bisa meredam perasaingan, maka kemudian muncul pemberontakan dan perpecahan yang berujung pada malapetaka perang saudara di Majapahit.
Lihat Juga :