Kisah Perang Saudara di Balik Legenda Terbelahnya Pulau Jawa dan Sumatera
Senin, 01 November 2021 - 20:32 WIB
loading...
Selat Sunda yang membelah Pulau Jawa dan Sumatera. Foto/Ilustrasi/Dok.BMKG
A
A
A
BANDUNG - Pulau Jawa dan Pulau Sumatera dipercaya masyarakat, termasuk para ahli sebagai daratan yang awalnya tak terpisahkan. Ada dua versi sejarah pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera, yakni akibat letusan Gunung Krakatau dan akibat gerakan lempeng bumi.
Mengacu pada Pustaka Raja Purwa yang ditulis pujangga besar Jawa, Ronggowarsito pada tahun 1869, letusan Gunung Krakatau sebagai penyebab terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatera itu disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.
Baca juga: Hasil Pemodelan BMKG, Tsunami di Selat Sunda Akibat Gempa Magnitudo 8,7 Bisa Sampai Jakarta
Ken Wohletz, seorang peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico) termasuk yang mendukung teori tentang kemungkinan letusan besar Gunung Krakatau purba yang memisahkan dia pulau besar di Indonesia itu.
Bahkan, dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan bahwa letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu. Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi juga memastikan bahwa Gunung Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat.
Dalam versi lain, pemisahan Jawa dan Sumatera sebagai produk gerakan tektonik di dalam bumi. Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam bumi seperti teori yang disampaikan geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo.
Baca juga: Kisah Trimah, Lansia yang Diserahkan Anaknya ke Panti Jompo karena Tak Sanggup Mengurus
Diketahui, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 1883 sangat dahsyat dimana awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu bahkan terdengar hingga Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.
Mengacu pada Pustaka Raja Purwa yang ditulis pujangga besar Jawa, Ronggowarsito pada tahun 1869, letusan Gunung Krakatau sebagai penyebab terpisahnya Pulau Jawa dan Sumatera itu disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.
Baca juga: Hasil Pemodelan BMKG, Tsunami di Selat Sunda Akibat Gempa Magnitudo 8,7 Bisa Sampai Jakarta
Ken Wohletz, seorang peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico) termasuk yang mendukung teori tentang kemungkinan letusan besar Gunung Krakatau purba yang memisahkan dia pulau besar di Indonesia itu.
Bahkan, dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan bahwa letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu. Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi juga memastikan bahwa Gunung Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat.
Dalam versi lain, pemisahan Jawa dan Sumatera sebagai produk gerakan tektonik di dalam bumi. Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam bumi seperti teori yang disampaikan geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo.
Baca juga: Kisah Trimah, Lansia yang Diserahkan Anaknya ke Panti Jompo karena Tak Sanggup Mengurus
Diketahui, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada 1883 sangat dahsyat dimana awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu bahkan terdengar hingga Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.
Lihat Juga :