Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Integrasi Pelabuhan, Mengantarkan Semanggi Merebut Cuan

loading...
Integrasi Pelabuhan, Mengantarkan Semanggi Merebut Cuan
Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melemparkan mimpi setinggi langit untuk menguasai pasar dunia. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
SURABAYA - Seperti kumpulan semut, para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melemparkan mimpi setinggi langit untuk menguasai pasar dunia. Mereka tak pernah gentar untuk mendulang pundi-pundi rezeki, dan kini jalan mereka untuk membanjiri pasar internasional terbentang lebar melalui intergrasi pelabuhan di Indonesia.

Baca juga: Merger Pelindo Oktober 2021, Erick Thohir: Terminal Peti Kemasnya No 8 Terbesar Dunia

Usia Aminah tak lagi belia ketika dirinya memutuskan untuk mengubah jalan warisan kuliner keluarganya. Jual beli semanggi yang sejak zaman sebelum kemerdekaan sudah dilakukan buyutnya. Makanan khas Surabaya yang hanya bisa tumbuh di antara pematang rawa yang kini mulai dibawanya naik kelas.





Sore yang hangat, ibu dua anak ini menunjukan produknya pada perwakilan negara-negara asing di Kota Surabaya. Sebuah kotak berukuran 15x20 cm warna putih dengan ujung karton hijau di tiap sisinya. Gambar daun semanggi gagah di depan dengan tampilan sajian yang menggugah selera, lengkap dengan sambal kacang dan krupuk puli pelengkap hidangan.

Baca juga: Ibu dan Anak Gadisnya Dibunuh dan Dilucuti Pakaiannya, Yoris: Alphard Itu Tak Ada Kunci Rahasianya

Kotak dengan kemasan rapi itu ditarik ke bawah dan membuka tiga plastik rapi yang bersandar di tiap sisi. Ada potongan daun semanggi kering, bumbu kacang dan rempah, serta lima buah kerupuk beras berwarna kuning yang siap mengembang, memenuhi sajian. "Ini tanpa ada bahan pengawet, semua bisa dikirim ke berbagai negara, saya sudah melakukan ekspor," ujar Aminah, Minggu (19/9/2021).

Perempuan kelahiran Surabaya, 18 Januari 1978 ini mulai mengubah pakem semanggi yang lazim dijual keliling di tiap kampung dengan gendongan di belakang punggung. Sama seperti yang sejak lama dilakukan ibunya, neneknya dan buyutnya dulu. Menyusuri jalanan Surabaya, keriuhan kampung-kampung dan harapan bertahan hidup dengan berdagang.

Namun, ia tak lagi melakukan itu lagi. Anak pasangan Tuji dan Anteng ini ingin menyebar Semangginya ke kampung-kampung yang ada di luar negeri. Di jalanan ramai Singapura, dapur-dapur di Belanda, trotoar yang dingin di Jepang sampai restoran-restoran mewah di Swiss.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top