Integrasi Pelabuhan, Mengantarkan Semanggi Merebut Cuan
Minggu, 19 September 2021 - 23:18 WIB
loading...
Para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melemparkan mimpi setinggi langit untuk menguasai pasar dunia. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A
A
A
SURABAYA - Seperti kumpulan semut, para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melemparkan mimpi setinggi langit untuk menguasai pasar dunia. Mereka tak pernah gentar untuk mendulang pundi-pundi rezeki, dan kini jalan mereka untuk membanjiri pasar internasional terbentang lebar melalui intergrasi pelabuhan di Indonesia.
Baca juga: Merger Pelindo Oktober 2021, Erick Thohir: Terminal Peti Kemasnya No 8 Terbesar Dunia
Usia Aminah tak lagi belia ketika dirinya memutuskan untuk mengubah jalan warisan kuliner keluarganya. Jual beli semanggi yang sejak zaman sebelum kemerdekaan sudah dilakukan buyutnya. Makanan khas Surabaya yang hanya bisa tumbuh di antara pematang rawa yang kini mulai dibawanya naik kelas.
Sore yang hangat, ibu dua anak ini menunjukan produknya pada perwakilan negara-negara asing di Kota Surabaya. Sebuah kotak berukuran 15x20 cm warna putih dengan ujung karton hijau di tiap sisinya. Gambar daun semanggi gagah di depan dengan tampilan sajian yang menggugah selera, lengkap dengan sambal kacang dan krupuk puli pelengkap hidangan.
Baca juga: Ibu dan Anak Gadisnya Dibunuh dan Dilucuti Pakaiannya, Yoris: Alphard Itu Tak Ada Kunci Rahasianya
Kotak dengan kemasan rapi itu ditarik ke bawah dan membuka tiga plastik rapi yang bersandar di tiap sisi. Ada potongan daun semanggi kering, bumbu kacang dan rempah, serta lima buah kerupuk beras berwarna kuning yang siap mengembang, memenuhi sajian. "Ini tanpa ada bahan pengawet, semua bisa dikirim ke berbagai negara, saya sudah melakukan ekspor," ujar Aminah, Minggu (19/9/2021).
Perempuan kelahiran Surabaya, 18 Januari 1978 ini mulai mengubah pakem semanggi yang lazim dijual keliling di tiap kampung dengan gendongan di belakang punggung. Sama seperti yang sejak lama dilakukan ibunya, neneknya dan buyutnya dulu. Menyusuri jalanan Surabaya, keriuhan kampung-kampung dan harapan bertahan hidup dengan berdagang.
Namun, ia tak lagi melakukan itu lagi. Anak pasangan Tuji dan Anteng ini ingin menyebar Semangginya ke kampung-kampung yang ada di luar negeri. Di jalanan ramai Singapura, dapur-dapur di Belanda, trotoar yang dingin di Jepang sampai restoran-restoran mewah di Swiss.
Baca juga: Siksa 3 Suster di Luar Batas Kemanusiaan, Kekejaman KKB Menuai Beragam Kecaman
Aminah menekuni usaha kuliner legendaris ini secara turun temurun. Ia adalah generasi ketiga pedagang semanggi. Di kampungnya yang berada di wilayah paling Barat Surabaya yakni di Kelurahan Sambikerep semua dimulai, di lokasi yang bisa ditumbuhi daun semanggi sebagai berkah.
Semanggi sendiri hanya ada di Surabaya. Makanan khas Kota Pahlawan ini sepintas mirip dengan pecel. Namun sambalnya lebih gurih dan berani. Sayur utamanya adalah daun Semanggi dengan lalap berupa kerupuk puli yang terbuat dari beras yang khas berwarna kuning. Makanan ini biasa ditemukan di penjual keliling dengan bakul besar diangkat dipunggung serta penjual perempuan yang berusia senja.
Aminah yang juga pernah pengalaman berjualan bersama ibunya. Keliling kampung untuk menjajakan Semanggi. Hingga pada titik tertentu ia mulai menemukan inovasi dengan membuat semanggi instan yang bisa dinikmati semua orang di seluruh dunia.
"Sejak dulu penjual semanggi harus kuat bertahan di jalan. Saya lihat sendiri betapa kerasnya perjuangan nenek dan ibu saya. Mereka melakukannya sendiri, mulai dari membuat sambal dan memetik semanggi untuk dijual keliling ke tengah kota. Makanya saya pun tergugah membuat jualan yang tidak perlu keliling tapi dikenal," imbuhnya.
Baca juga: Pimpinan Teroris MIT Tewas Tertembak, Kapolda dan Danrem Pantau Langsung Lokasi Baku Tembak
Jalan pun mulai terbentang. Perjumpaannya pada teknologi pada 2011 memunculkan banyak ide baru. Caranya, dengan membawa semanggi untuk bisa dijadikan makanan oleh-oleh dan bisa diakses banyak orang.
Aminah yang jago membuat sambal semanggi ini pun diajari bagaimana mengeringkan sambal dan daun semanggi. Setelah dikeringkan, semua sajian bahan semanggi itu bisa bertahan hingga dua sampai tiga bulan tanpa bahan pengawet secuil pun.
Kalau mau menyantap makanan khas yang tersohor dari Surabaya ini cukup menyeduh air panas dan mendidih sehingga sambal dan daun bisa dimakan. Proses itu tidak mengurangi gurihnya masakan dan berkurangnya kandungan zat pada bahan semanggi yang legendaris itu.
Baca juga: Merger Pelindo Oktober 2021, Erick Thohir: Terminal Peti Kemasnya No 8 Terbesar Dunia
Usia Aminah tak lagi belia ketika dirinya memutuskan untuk mengubah jalan warisan kuliner keluarganya. Jual beli semanggi yang sejak zaman sebelum kemerdekaan sudah dilakukan buyutnya. Makanan khas Surabaya yang hanya bisa tumbuh di antara pematang rawa yang kini mulai dibawanya naik kelas.
Sore yang hangat, ibu dua anak ini menunjukan produknya pada perwakilan negara-negara asing di Kota Surabaya. Sebuah kotak berukuran 15x20 cm warna putih dengan ujung karton hijau di tiap sisinya. Gambar daun semanggi gagah di depan dengan tampilan sajian yang menggugah selera, lengkap dengan sambal kacang dan krupuk puli pelengkap hidangan.
Baca juga: Ibu dan Anak Gadisnya Dibunuh dan Dilucuti Pakaiannya, Yoris: Alphard Itu Tak Ada Kunci Rahasianya
Kotak dengan kemasan rapi itu ditarik ke bawah dan membuka tiga plastik rapi yang bersandar di tiap sisi. Ada potongan daun semanggi kering, bumbu kacang dan rempah, serta lima buah kerupuk beras berwarna kuning yang siap mengembang, memenuhi sajian. "Ini tanpa ada bahan pengawet, semua bisa dikirim ke berbagai negara, saya sudah melakukan ekspor," ujar Aminah, Minggu (19/9/2021).
Perempuan kelahiran Surabaya, 18 Januari 1978 ini mulai mengubah pakem semanggi yang lazim dijual keliling di tiap kampung dengan gendongan di belakang punggung. Sama seperti yang sejak lama dilakukan ibunya, neneknya dan buyutnya dulu. Menyusuri jalanan Surabaya, keriuhan kampung-kampung dan harapan bertahan hidup dengan berdagang.
Namun, ia tak lagi melakukan itu lagi. Anak pasangan Tuji dan Anteng ini ingin menyebar Semangginya ke kampung-kampung yang ada di luar negeri. Di jalanan ramai Singapura, dapur-dapur di Belanda, trotoar yang dingin di Jepang sampai restoran-restoran mewah di Swiss.
Baca juga: Siksa 3 Suster di Luar Batas Kemanusiaan, Kekejaman KKB Menuai Beragam Kecaman
Aminah menekuni usaha kuliner legendaris ini secara turun temurun. Ia adalah generasi ketiga pedagang semanggi. Di kampungnya yang berada di wilayah paling Barat Surabaya yakni di Kelurahan Sambikerep semua dimulai, di lokasi yang bisa ditumbuhi daun semanggi sebagai berkah.
Semanggi sendiri hanya ada di Surabaya. Makanan khas Kota Pahlawan ini sepintas mirip dengan pecel. Namun sambalnya lebih gurih dan berani. Sayur utamanya adalah daun Semanggi dengan lalap berupa kerupuk puli yang terbuat dari beras yang khas berwarna kuning. Makanan ini biasa ditemukan di penjual keliling dengan bakul besar diangkat dipunggung serta penjual perempuan yang berusia senja.
Aminah yang juga pernah pengalaman berjualan bersama ibunya. Keliling kampung untuk menjajakan Semanggi. Hingga pada titik tertentu ia mulai menemukan inovasi dengan membuat semanggi instan yang bisa dinikmati semua orang di seluruh dunia.
"Sejak dulu penjual semanggi harus kuat bertahan di jalan. Saya lihat sendiri betapa kerasnya perjuangan nenek dan ibu saya. Mereka melakukannya sendiri, mulai dari membuat sambal dan memetik semanggi untuk dijual keliling ke tengah kota. Makanya saya pun tergugah membuat jualan yang tidak perlu keliling tapi dikenal," imbuhnya.
Baca juga: Pimpinan Teroris MIT Tewas Tertembak, Kapolda dan Danrem Pantau Langsung Lokasi Baku Tembak
Jalan pun mulai terbentang. Perjumpaannya pada teknologi pada 2011 memunculkan banyak ide baru. Caranya, dengan membawa semanggi untuk bisa dijadikan makanan oleh-oleh dan bisa diakses banyak orang.
Aminah yang jago membuat sambal semanggi ini pun diajari bagaimana mengeringkan sambal dan daun semanggi. Setelah dikeringkan, semua sajian bahan semanggi itu bisa bertahan hingga dua sampai tiga bulan tanpa bahan pengawet secuil pun.
Kalau mau menyantap makanan khas yang tersohor dari Surabaya ini cukup menyeduh air panas dan mendidih sehingga sambal dan daun bisa dimakan. Proses itu tidak mengurangi gurihnya masakan dan berkurangnya kandungan zat pada bahan semanggi yang legendaris itu.
Lihat Juga :