Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Arca Emas hingga Candi Tikus Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Termasyhur

loading...
Arca Emas hingga Candi Tikus Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Termasyhur
Peninggalan Kerajaan Majapahit: Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14. Foto okezone.com
BERAGAM benda peninggalan Kerajaan Majapahit menceritakan banyak hal tentang keberadaan kerajaan itu. Lewat benda-benda peninggalan seperti arca, prasasti dan candi bisa ditelusuri banyak hal mengenai peradaban, budaya, ekonomi, hubungan internasional dan lain sebagainya.

Dalam buku berjdul Majapahit: Batas Kota dan Jejak Kekayaan di Luar Kota (2012) diceritakan bahwa Raden Wijaya mulai merintis Majapahit dari sebuah hutan di dekat Sungai Brantas, Jawa Timur. Baca juga: Kisah Kesaktian Eyang Bintulu Aji, Sang Pamomong Wahyu Keraton Mataram

Putera Raden Wijaya, yaitu Hayam Wuruk yang memerintah sejak 1350 menghantar kerajaan Majapahit pada jaman keemasan. Pati Gajah Mada adalah sosok penting pada masa keemasan ini.

Pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada inilah Majapahit menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Kekuasaannya meluas hingga ke semenanjung Malaya dan beberapa wilayah Asia Tenggara.



Banyak peninggalan penting berasal dari Kerajaan Majapahit tersebar di berbagai lokasi, terutama di tiga titik yang pernah menjadi pusat pemerintahan, seperti Daha atau Kediri, Mojokerto, dan Trowulan. Baik peninggalan berupa prasasti, arca hingga candi menunjukkan bahwa kerajaan ini tidak sekadar menaklukkan dan menguasai wilayah yang begitu luas, tapi juga mengukir peradaban tinggi.

Peninggalan berupa prasasti, menunjukkan kerajaan ini sudah mengenal peradaban baca-tulis yang kemudian menjadi media untuk mewariskan riwayat entah tokoh atau tempat tertentu. Prasasti Wurare Berangka, misalnya. Prasasti dengan kode tahun 1211 Saka atau 1289 Masehi ini menceritakan kisah seorang brahmana bernama Aryya Bharad yang membagi tanah Jawa menjadi dua akibat peperangan antara Kerajaan Panjalu dan Janggala.

Ada juga prasasti Kudadu (1216 Saka atau 1294 M) yang mengisahkan riwayat cerita Raden Wijaya yang dibantu Rama Kudadu dalam pelarian karena dikejar Jayakatwang yang telah membunuh Raja Singasari, Kertanegara. Prasasti ini juga mengisahkan penetapan daerah Kudadu menjadi Swatantra atau daerah istimewa karena telah melindungi raja.

Lalu prasasti Sukamerta (1208 Saka atau 1296 M). Prasasti ini menceritakan Raden Wijaya yang memperistri 4 putri Kartanegara. Lewat prasasti ini dicerita penobatan Jayanegara, putra mahkota Raden Wijaya, sebagai raja muda di Daha atau Kediri pada 1295 M. Baca juga: Bangunan Candi Peninggalan Ratu Shima di Abad ke-7 Ditemukan di Pekarangan Warga Rowosari Kendal

Yang menarik dari sekian prasasti adalah Prasasti Biluluk. Prasasti ini tidak meriwayatkan tokoh, tapi menceritakan soal otonomi kekuasaan daerah Desa Bluluk dan Tanggulan. Di dalamnya ada dokumen seputar peraturan tentang pajak serta hal lain yang menyangkut penggunaan air asin. Artiya, pajak sudah diterapkan sebagai sumber pendapatan ekonomi pada masa itu.
Arca Emas hingga Candi Tikus Peninggalan Kerajaan Majapahit yang Termasyhur
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top