Pemuda Ini Jadi Pahlawan Saat Merah Putih Gagal Berkibar di Sumba Barat karena Pengait Putus

Selasa, 17 Agustus 2021 - 12:55 WIB
loading...
Pemuda Ini Jadi Pahlawan Saat Merah Putih Gagal Berkibar di Sumba Barat karena Pengait Putus
Soleman Sairo, sosok pahlawan yang menyelamatkan Merah Putih karena gagal dikibarkan.
A A A
SUMBA BARAT - Insiden Merah Putih jatuh saat upacara HUT ke-76 Kemerdekaan RI terjadi di Lapangan Pangadu Rade, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, NTT, Selasa (17/08/2021). Bendera merah putih jatuh gara-gara pengaitnya putus.

Sosok Soleman Sairo menjadi pahlawan penyelamat Sang Merah Putih. Lajang usia 30 tahun ini memberanikan diri memanjat tiang bendera berbahan bambu. Berkat sikap patriotiknya, bendera merah putih dikibarkan lagi dan upacara kembali khidmat.

Saat dihubungi melalui ponselnya, Leman demikian dirinya biasa disapa, mengakui yang dia lakukan hanyalah spontanitas, tanpa berpikir nantinya akan menjadi sosok terkenal. Dia mengaku hanya bisa melakukan itu sebagai bentuk nyata cintanya pada NKRI.

“Saat bendera itu dikibarkan saya sebenarnya sedang menutup mata dan berdoa, ucap terima kasih pada Tuhan atas kemerdekaan. Tapi ketika saya buka mata saya kaget benderanya sudah jatuh ke tanah. Ketika saya lihat itu saya menangis,” jelasnya.

Baca juga: Insiden Bendera Merah Putih Jatuh Warnai Upacara HUT Kemerdekaan di Konawe Utara

Tak sampai disitu, dengan suara bergetar Leman kembali berkisah. Dirinya juga terus memanjatkan doa ketika salah satu anggota Paskibra berupaya memanjat tiang bendera. Namun kemudian dipertengahan kembali turun karena tidak mampu.

“Ketika saya lihat dia turun, saya langsung tergerak untuk maju tanpa pikir panjang. Buka baju dan langsung memanjat tapi memang saya sempat berhenti ditengah karena dada saya perih dan nafas saya sesak. Namun saya berdoa lagi dan minta Tuhan beri kekuatan, apalagi tiang ini sempat kena hujan gerimis tadi, dan goyang saat saya di atas,” jelasnya.

Adanya handuk yang dilemparkan kedirinya ketika sedang berada diatas tiang dinilainya pula sebagai bentuk lain jawaban Tuhan atas doanya. “Ada yang lempar handuk ke atas untuk saya lap keringat dan air. Hampir gagal tapi saya berupaya untuk bisa meraih tali dan tetap dengan doa agar saya bisa sammpai ke tali itu dan kemudian saya gigit turun ke bawah,” paparnya.

Leman yang juga merupakan Kepala Urusan (Kaur) Umum pada desa Bera Dolu lebih lanjut juga mengakui setelah uapcara usai, dirinya diperlakukan bagai artis dan pahlawan oleh warga peserta upacara.

“Saya macam artis saja, padahal itu bukan tujuan saya sebenarnya. Banyak yang minta foto dengan saya dan memberikan ucapan selamat padahal yang saya lakukan hanya spontanitas dan bukan semata karena kekkuatan saya tapi kehendak Tuhan.Pak Camat juga berikan saya kain tenun sebagai bentuk terima kasih secara adat kami di sini,” timpalnya.
(msd)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3152 seconds (11.97#12.26)