Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal

loading...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Bagi masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), khusus di wilayah Pesisir Pantai Barat, Sumatera Utara, nama Baturusa sudah tidak asing lagi bagi mereka. SINDOnews/Zia
MANDAILING NATAL - Bagi masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), khusus di wilayah Pesisir Pantai Barat, Sumatera Utara, nama Baturusa sudah tidak asing lagi bagi mereka, karena daerah tersebut merupakan tujuan wisata . Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahaui asal muasal penamaan tempat itu dinamakan Baturusa.

Baturusa adalah sebuah batu besar yang terletak di sekitar bibir pantai di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal. Jarak antara Baturusa dengan garis pantai lebih kurang 300 meter ke tengah laut.

Di dalam batu besar tersebut terdapat sejumlah lubang besar mirip dengan goa. Meski jaraknya terbilang jauh dari bibir pantai, namun masyarakat bisa berjalan kaki ke tempat itu. Sebab, air lautnya sangat dangkal.

Konon, menurut cerita masyarakat setempat, awalnya batu besar tersebut tempat Rusa melahirkan anaknya. Di dalam lubang yang berbentuk seperti gua-gua kecil itu, Rusa sering melahirkan anaknya. Sehingga, oleh masyarakat setempat dinamakan Baturusa.



“Dahulu, di dalam butu besar tersebut sering ditemukan Rusa yang sedang beranak, makanya oleh nenek moyang kami diberi nama Baturusa”ujar Ciko Ciko (60), salah seorang tokoh masyarakat kepada SINDONews.com.

Baturusa tersebut tempat yang paling aman bagi rusa untuk melahirkan anaknya. Sebab, di wilayah itu sangat banyak binatang buas lainnya yang siap memangsa anak rusa.”Mungkin, di dalam batu besar tersebut dianggap tempat yang paling aman untuk melahirkan anak, karena sebelum hutan di daerah ini dibuka, sangat banyak binatang buas, seperti harimau”tuturnya.

Meski Baturusa berada di laut lepas, namun, memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang berkunjung. Karena air laut di tempat itu selalu dangkal dan tidak pernah. “Namun, kalau sudah sore, terutama pada saat Magrib dianjurkan untuk tidak ke batu tersebut, karena banyak hal-hal mungkin terjadi yang tidak nampak oleh mata,”imbuhnya. Baca: Kisah Buaya Kuning Penjaga dan Suku Dayak Tunjung.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1994, pemerintah membuka akses jalan nasional ke tempat itu. Baturusa menjadi salah satu tujuan objek wisata favorit di kawasan Sumatera Utara, terutama di Mandailing Natal. Pasirnya yang putih ditambah banyaknya spot pemandangan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang datang ke tempat itu.

Untuk sampai ke Baturusa, alangkah baiknya memilih jalur Pantai Barat. Para pengunjung terlebih dahulu harus melewati daerah Batangtoru, Simataniari, Rianiate, Danau Siais, Kabupaten Tapanuli Selatan. Perjalanan akan semakin dekat terasa ketika memasuki Desa Batumundom, yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Mandailing Natal dan Tapsel.

Dari Batumundom, hanya membutuhkan 1 jam perjalanan ke Baturusa. Sebelum sampai ke tampat itu, pengunjung akan melewati sejumlah desa seperti, Sikapas dan Singkuang. Baca Juga: Tiong Hwa Ie Sia, Kisah Perjuangan Warga Tionghoa Melawan Pagebluk dan Kolonialisme.
(nag)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top