Penjual Ayam Goreng Keliling Ini Harus Makan Nasi Aking Demi Bertahan Hidup
Selasa, 26 Mei 2020 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
“Saya merantau di Kalimantan sudah sekitar 7 tahunan, hidup mengontrak berpindah-pindah. Namun saat ini saya sudah menjadi warga Kobar dan sudah memiliki KK dan KTP,” ujar bapak ini dengan ceria meski perjalanan hidupnya sangat dramatis.
Dia mengaku selama hidup merantau di Kalimantan pernah menjadi tukang rosok (mencari barang bekas) hingga berjualan ayam goreng demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
Meski hidup di bawah garis kemiskinan, tak nampak sama sekali kesedihan di raut wajahnya. Hariadi bisa menutupi kesulitannya dengan selalu optimistis dan tidak patah semangat. “Hidup terus berjalan dan saya harus menjalaninya selagi saya masih bisa berusaha sendiri. Total anak saya sebenarnya ada 7. Tiga anak dari istri pertama, dua anak bawaan dari istri sekarang ditambah 2 anak dari istri sekarang,” ujarnya.
“Namun dua anak saya sudah menetap di Pulau Jawa. Jadi sekarang yang di sini 5 anak. Sebelum COVID-19, satu anak perempuan saya yang sudah punya putra, kerja di Jawa. Karena kerjaannya ditutup, dia balik ke sini. Padahal biasanya anak saya ini ikut membantu keuangan rumah tangga kami,” imbuhnya.
Tak pernah mendapat bantuan
Sejak menjadi warga Kobar, keluarga ini tak tersentuh bantuan sama sekali dari pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Bahkan di masa sulit wabah COVID-19. “Pernah saya menanyakan ke pak RT 15, Kelurahan Sidorejo sesuai KK saya. Meski sudah didata, tetap saja saya sampai sekarang tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah, tapi ya sudahlah,” ujarnya.
Kegigihan Hariadi menafkahi keluarga meski dalam kondisi sulit patut diacungi jempol. Dia tak berharap banyak atas bantuan pemerintah. Dia lebih baik berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga meski masih sangat kurang.
Dia mengaku selama hidup merantau di Kalimantan pernah menjadi tukang rosok (mencari barang bekas) hingga berjualan ayam goreng demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
Meski hidup di bawah garis kemiskinan, tak nampak sama sekali kesedihan di raut wajahnya. Hariadi bisa menutupi kesulitannya dengan selalu optimistis dan tidak patah semangat. “Hidup terus berjalan dan saya harus menjalaninya selagi saya masih bisa berusaha sendiri. Total anak saya sebenarnya ada 7. Tiga anak dari istri pertama, dua anak bawaan dari istri sekarang ditambah 2 anak dari istri sekarang,” ujarnya.
“Namun dua anak saya sudah menetap di Pulau Jawa. Jadi sekarang yang di sini 5 anak. Sebelum COVID-19, satu anak perempuan saya yang sudah punya putra, kerja di Jawa. Karena kerjaannya ditutup, dia balik ke sini. Padahal biasanya anak saya ini ikut membantu keuangan rumah tangga kami,” imbuhnya.
Tak pernah mendapat bantuan
Sejak menjadi warga Kobar, keluarga ini tak tersentuh bantuan sama sekali dari pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Bahkan di masa sulit wabah COVID-19. “Pernah saya menanyakan ke pak RT 15, Kelurahan Sidorejo sesuai KK saya. Meski sudah didata, tetap saja saya sampai sekarang tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah, tapi ya sudahlah,” ujarnya.
Kegigihan Hariadi menafkahi keluarga meski dalam kondisi sulit patut diacungi jempol. Dia tak berharap banyak atas bantuan pemerintah. Dia lebih baik berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga meski masih sangat kurang.
Lihat Juga :