Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Pagi

Cerita Tentang Pecel Blitar, Bung Karno, dan Revolusi Makanan Rakyat

loading...
Disampaikan juga bagaimana usai kena semprot, mereka pada menginsafi diri. "Maaf Pak kata mereka dengan penyesalan. Tentu bikin malu kita saja. Kami rasa orang Barat memandang rendah pada makanan kita yang melarat," sambung Bung Karno dalam buku " Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia".

Baca juga: Catur Piwulang dan Singo Mengkok, Senjata Sunan Drajat Menebar Syiar Islam di Pesisir

Yang dimaksud "penganan enak kepunyaan kita sendiri" seperti kata Soekarno adalah kue-kue berbahan lokal. Seperti singkong, ubi, jagung, tepung beras, dan tepung ketan. Yang menyebabkan para wanita di kabinetnya menganggap makanan Eropa lebih bergengsi daripada "makanan kita" yang dianggapnya melarat tampaknya tidak lepas dari pengaruh dan propaganda bahwa selera Eropa lebih unggul dari selera sendiri.

Dalam buku "Jejak Rasa Nusantara, Sejarah Makanan Indonesia ", Fadly Rahman menuliskan, bahan-bahan lokal terkesan sulit menyaingi dominasi bahan-bahan Eropa yang hingga 1950-an tetap gencar menanamkan pengaruhnya. "Rasa tidak percaya diri terhadap makanan sendiri dan lebih memuliakan selera Eropa juga tidak terlepas propaganda iklan seperti margarin yang masih berkuasa di media-media massa," tulis Fadly Rahman.

Margarin menjadi salah satu contoh bahan makanan fabrikasi Eropa, yang sukses membentuk sekaligus mengubah selera masak dan makan di belahan dunia . Termasuk Indonesia. Pengaruh margarin, kue basah seperti jenis taart dan kue kering seperti nastaart dan kastangel lebih disukai.

Baca juga: Kisah Maling Aguno, Si Pencuri Sakti Berhati Budiman yang Selalu Membikin Resah Orang-orang Kaya

Bagi ibu rumah tangga margarin adalah pasangan masak yang agung. Menurut Fadly, pengutuban "makanan Eropa" dan "makanan kita" seperti dalam percakapan Soekarno menunjukkan sebentuk konstruksi berfikir terhadap "makanan ningrat" dan "makanan rakyat" dalam bentuk barunya.

"Dengan kata lain, 'makanan Eropa' dikesankan sebagai standar dari cita rasa modern dan 'makanan kita' yang 'melarat' itu dikesankan sebagai standar dari cita rasa tradisional," tulis Fadly. Kotomi modern dan tradisional itu masih berlaku hingga sekarang. Kebanyakan orang Indonesia masih suka menyebut lemper, dodol, nagasari, cucur dan carabikang sebagai tradisional. Kemudian masih gemar menyebut taart, nastaart, dan kaastengel sebagai kue modern.

Kecintaan Bung Karno terhadap makanan tradisional ditunjukkan dengan proyek politik pangan nasional. Program "Empat Sehat, Lima Sempurna", dicanangkan. Negara menerapkan program Revolusi Makanan Rakyat. Lembaga yang bernama Operasi Buta Gizi, didirikan. Saat itu tahun 1964. Populasi rakyat Indonesia mencapai 103 juta jiwa. Tahun 1965 diprediksi akan naik lebih dari 105 juta jiwa. Produksi padi tidak lagi mencukupi konsumsi rakyat Indonesia.

Baca juga: Misteri Macan Putih di Candi Mleri dan Silangsengkarut Anak Turunan Ken Arok

Dalam pidato peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Bung Karno menyebut sebagai tahun Vivere Pericoloso (Hidup penuh bahaya). Bung Karno menyerukan, rakyat yang biasa makan nasi 2-3 kali sehari untuk mengubah menu. Mencampur dengan jagung, ketela rambat, singkong, ubi, dan lain lain, yang itu dikatakan tidak akan merusak kesehatan.

"Kepada yang biasa makan nasi, 2-3 kali sehari saya serukan: Ubahlah menumu, campurlah dengan jagung, ketela rambat, singkong, ubi, dan lain-lain. Hanya ini yang kuminta mengubah menu, yang tidak akan merusak kesehatanmu," seru Bung Karno .

Upaya mengamankan kebutuhan pangan rakyat juga dilakukan Bung Karno dengan mengumpulkan seluruh resep makanan di nusantara. Semua racikan makanan mulai dari Sabang sampai Merauke dikumpulkan. Selama 1964-1966, terkumpul sebanyak 1.600 resep makanan dan minuman.

Baca juga: Kisah Kesaktian Hang Tuah dan Keris Taming Sari Menjaga Kedaulatan Kesultanan Malaka

Dari Jawa terkumpul sejumlah 440 resep , dan itu menduduki posisi teratas. Disusul masyarakat Sumatera 184 resep, Sulawesi 95 resep, Bali 73 resep, Kalimantan 48 resep, Madura 41 resep, Nusatenggara 24 resep, Papua 16 resep, Maluku 13 resep, dan Timor 12 resep.
halaman ke-2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top