Perhatian! Berita ini memuat konten dewasa.
Apakah anda sudah berusia 17 tahun atau lebih?

Cerita Mahasiswi Cantik Naik Turun Gunung Demi Mengajar Siswa SD

loading...
Cerita Mahasiswi Cantik Naik Turun Gunung Demi Mengajar Siswa SD
Seorang mahasiswi di Kota Semarang Jawa Tengah, memiliki kesibukan baru mengajar di desa terpencil. iNews TV/Taufik
KENDAL - Seorang mahasiswi di Kota Semarang Jawa Tengah, memiliki kesibukan baru. Bukan hanya berkutat dengan diktat perkuliahan secara daring, kini dia harus menempuh perjalanan panjang dan menyeberangi sungai untuk mendatangi bangunan sebuah sekolah dasar (SD).

Gadis itu bernama Firlanda Dayu Pramesti, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang. Dia tengah mengikuti program Kampus Mengajar yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), di SDN 5 Getas Kendal.

“Akses aku ke SD-nya kita itu aku sama temen-temen seperti lewat turun gunung, terus menyeberangi sungai, baru naik (gunung) lagi. Perjalanannya tidak mudah,” kata Firlanda ketika mengawali cerita menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak SD, Kamis (3/6/2021).

Dia mengatakan, perjalanan ke sekolah tak hanya memakan waktu tetapi juga membutuhkan nyali besar. Jalanan ekstrem dengan medan menantang mesti ditaklukkan demi bertemu anak-anak yang siap menunggu pelajaran.



“Itu ada jembatan kayu juga yang mesti dilalui, tapi jembatannya tidak kokoh. Di bawahnya itu sungai lebar dan dalam. Waktu awal takut banget, karena aku memang takut ketinggian. Jadi waktu awal itu kaget banget, tapi lama-lama terbiasa,” imbuh gadis berkerudung itu.

Bangunan sekolah itu terdapat di Dusun Mambang Desa Getas Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Sekolah itu tidak memiliki banyak siswa, karena hanya terdiri tiga rombongan belajar. Yakni kelas 2, 4, dan 6.

“Jadi di SD 5 Getas itu cuma ada 3 kelas, 2, 4, dan 6 karena memang di sana kayanya cuma sekira 70 kepala keluarga. Jadi anak-anak tidak banyak. Nah tahun ini kebetulan ada kelulusan sekolah. Jadi mereka ngelulusin dan siap menerima murid itu tiap 2 tahun sekali,” terangnya.

Di tengah semangat mengajar, pandemi COVID-19 tak urung menjadi tembok besar yang menghadang sebagaimana sektor lainnya. Firlanda dan rekan-rekan mahasiswa yang mengikuti kegiatan Kampus Mengajar, tak lagi berangkat ke sekolah. Sistem pengajaran diubah. Mereka lebih aktif menyambangi rumah-rumah siswa untuk memberikan materi pelajaran.

“Sistem belajarnya sekarang adalah home visit. Soalnya waktu itu pihak sekolah ditegur sama masyarakat situ, enggak boleh ngadain sekolah di sekolah. Jadi kita ngajar tetap home visit, sepekan ada tiga kali, Senin, Rabu, dan Sabtu,” jelas dia.

“Kalau sekolahnya sendiri masih takut karena sudah beberapa kali dapat teguran dari masyarakat, meskipun kita sekolahnya pun juga hanya 2 jam dan tidak ada jeda. Jadi masuk belajar langsung pulang. Tapi banyak masyarakat yang masih tidak ngebolehin. Jadi beli home visit,” beber dia.



Firlanda juga menyampaikan mesti kreatif dan menggunakan beragam metode pengajaran kepada siswa. Sebab semangat belajar mereka mesti dijaga, terlebih pada masa pandemi intensitas berkumpul bersama teman sangat dikurangi.

“Kita juga memanfaatkan sumber daya yang ada. Misalnya kemarin siswa kelas 4 aku ajak buat kerajinan pot dari tanah liat. Jadi ya mereka dibikin nyaman. Kalau home visit mereka bebas tidak pakai seragam biar nyaman,” tandasnya. Baca: Hujan Deras Picu Longsor di Sejumlah Titik Menuju TPA Sarimukti.

Sekadar diketahui, Kampus Mengajar Angkatan 1 Tahun 2021 merupakan bagian program Kampus Merdeka yang membuka peluang mahasiswa menjadi pendidik di SD. Kegiatan ini bertujuan menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi.

Selain itu, membantu pembelajaran di masa pandemi, terutama SD di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) dan pelosok yang membutuhkan bantuan para pengajar dari para mahasiswa. Syarat mengikuti kegiatan ini yakni mahasiswa semester 5 ke atas dari semua program studi, minimal IPK 3,00.

Termasuk aktif di organisasi dan dengan izin atau rekomendasi dari masing-masing kampus. Bagi mahasiswa yang mengikuti program ini mendapat pengakuan setara 12 SKS, dengan aktivitas mengajar selama enam jam mulai Senin-Jumat. Baca Juga: Gubernur Wahidin Berhentikan 20 Pejabat Dinkes Banten.

Mahasiswa yang ikut serta ke dalam Kampus Mengajar Angkatan 1 berhak mendapatkan insentif dari LPDP. Bantuan biaya hidup Rp700 ribu per bulan dan bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) maksimal sebesar Rp2,4 juta.
(nag)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top