Stok Menumpuk, Harga Sayuran di Cimahi Turun Drastis
Sabtu, 16 Mei 2020 - 19:46 WIB
loading...
Foto/ilustrasi.ist
A
A
A
CIMAHI - Sepekan menjelang Lebaran, harga komoditas sayuran di sejumlah pasar tradisional Kota Cimahi mengalami penurunan. Berdasarkan pantauan dari laman uptpasar.cimahikota.go.id, dari 49 komoditas yang ada, 23 item di antaranya mengalami penurunan harga.
Harga cabai merah misalnya, turun Rp4.800-Rp10.000. Harga bawang merah juga turun Rp15.000 dari Rp45.000 menjadi Rp30.000. Sementara harga daging ayam dan sapi relatif stabil.
"Sekarang ini harga untuk komoditas sayuran sekitar 70%-nya turun. Penyebabnya karena stok banyak sementara pembeli sedikit," terang Kepala Paguyuban Pedagang Pasar Cimindi, Asep Rohendi, Sabtu (16/5/2020).
(Baca: Petani Sayur Alumni Pelatihan OTM Manfaatkan Peluang Pemasaran Online)
Menurut dia, pedagang tidak punya pilihan selain menurunkan harga. Dengan begitu, paling tidak pedagang punya peluang balik modal ketimbang merugi karena stok barang tidak terjual dan busuk. Penurunan konsumen yang berbelanja disebabkan karena wabah COVID-19 , sehingga orang enggan untuk berpergian termasuk ke pasar.
Asep mengatakan, sejak adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), aktivitas operasional pasar dibatasi hingga pukul 12.00 WIB. Waktu dagang yang terbatas plus berkurangnya orang yang ke pasar secara langsung juga menurunkan angka penjualan.
"Warung nasi, rumah makanan, penjual kuliner juga banyak yang berhenti berjualan. Makanya konsumen dari pedagang makanan jadi tidak ke pasar, sehingga omzet menurun," ucapnya.
Harga cabai merah misalnya, turun Rp4.800-Rp10.000. Harga bawang merah juga turun Rp15.000 dari Rp45.000 menjadi Rp30.000. Sementara harga daging ayam dan sapi relatif stabil.
"Sekarang ini harga untuk komoditas sayuran sekitar 70%-nya turun. Penyebabnya karena stok banyak sementara pembeli sedikit," terang Kepala Paguyuban Pedagang Pasar Cimindi, Asep Rohendi, Sabtu (16/5/2020).
(Baca: Petani Sayur Alumni Pelatihan OTM Manfaatkan Peluang Pemasaran Online)
Menurut dia, pedagang tidak punya pilihan selain menurunkan harga. Dengan begitu, paling tidak pedagang punya peluang balik modal ketimbang merugi karena stok barang tidak terjual dan busuk. Penurunan konsumen yang berbelanja disebabkan karena wabah COVID-19 , sehingga orang enggan untuk berpergian termasuk ke pasar.
Asep mengatakan, sejak adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), aktivitas operasional pasar dibatasi hingga pukul 12.00 WIB. Waktu dagang yang terbatas plus berkurangnya orang yang ke pasar secara langsung juga menurunkan angka penjualan.
"Warung nasi, rumah makanan, penjual kuliner juga banyak yang berhenti berjualan. Makanya konsumen dari pedagang makanan jadi tidak ke pasar, sehingga omzet menurun," ucapnya.
Lihat Juga :