Survei BNPT: 85% Milenial Rentan Terpapar Radikalisme
Kamis, 17 Desember 2020 - 11:45 WIB
loading...
Penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam. Foto/SINDOnews/Chus
A
A
A
DENPASAR - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan hasil survei nasional tentang potensi radikalisme tahun ini.
Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu 85% generasi milenial rentan terpapar faham radikal. Hasil survei itu diumumkan di sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.
"Dengan hasil survei ini, kita diingatkan untuk mewaspadai pergerakan spread of radicalisation di dunia maya ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia," kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.
Dia memaparkan, situasi pandemi COVID-19 yang dimanifestasikan dalam aktivitas sekolah yang diliburkan dan perkantoran sebagian diatur membuat masyarakat di rumah lebih banyak menggunakan waktunya untuk berselancar di dunia maya.
Menurut Boy, generasi milenial yang mengakses internet ibarat masuk ke hutan belantara. Saat mencari konten keagamaan misalnya, ada kecenderungan menerima preferensi ceramah keagamaan dengan durasi singkat sehingga tidak diterima secara utuh.
Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu 85% generasi milenial rentan terpapar faham radikal. Hasil survei itu diumumkan di sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.
"Dengan hasil survei ini, kita diingatkan untuk mewaspadai pergerakan spread of radicalisation di dunia maya ini. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia," kata Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.
Dia memaparkan, situasi pandemi COVID-19 yang dimanifestasikan dalam aktivitas sekolah yang diliburkan dan perkantoran sebagian diatur membuat masyarakat di rumah lebih banyak menggunakan waktunya untuk berselancar di dunia maya.
Menurut Boy, generasi milenial yang mengakses internet ibarat masuk ke hutan belantara. Saat mencari konten keagamaan misalnya, ada kecenderungan menerima preferensi ceramah keagamaan dengan durasi singkat sehingga tidak diterima secara utuh.
Lihat Juga :