Dosen UNS Ubah Limbah Popok Menjadi Peredam Suara Dalam Ruang
Selasa, 12 Mei 2020 - 17:30 WIB
loading...
Prototipe panel akustik atau peredam suara dalam ruang dari limbah popok sekali pakai (pospak) hasil penelitian Prabang Setyono Dosen Ilmu Lingkungan FMIPA UNS Solo. Foto/Dok Humas UNS
A
A
A
SOLO - Penelitian Prabang Setyono selama delapan bulan berbuah manis. Dosen Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tersebut berhasil mengubah limbah popok sekali pakai (Pospak) menjadi prototipe panel akustik atau peredam suara dalam ruang.
Penelitian terkait teknologi tepat guna dan bernilai ekonomi lebih tinggi itu, dilatarbelakangi keresahan keberadaan limbah pospak yang sulit terurai dan dalam jumlah besar di Indonesia. "Kemudian saya berpikir sumber daya apa yang melimpah tapi belum dimanfaatkan dengan maksimal. Sebagai orang lingkungan, saya juga berpikir dari aspek lingkungan dan bagaimana mengurangi waste atau limbah. Ketemulah Pospak ini," Prabang Setyono, Selasa (12/5/2020).
Selain itu, ia menyoroti pola kebiasaan impor peredam suara atau panel akustik berbahan glasswool di Indonesia yang memiliki harga cukup mahal. Padahal, bidang industri membutuhkan peredam suara dengan harga terjangkau, efektif, dan sebisa mungkin berbahan dasar lokal atau tidak perlu impor. Sebab, impor lambat laun akan menimbulkan ketergantungan.
Menurutnya, sejak lahir hingga mampu buang air di toilet secara mandiri pada usia 3 tahun, setidaknya seorang bayi sudah menghabiskan sekitar 4.000 Pospak. Berdasarkan data, pada 2018 jumlah bayi usia 0—3 bulan di Indonesia sebanyak 23.729.600. Jika 50% dari jumlah tersebut menggunakan Pospak, maka jumlah limbah Pospak di Indonesia sangat besar.
Pembuangan Pospak masih sering sembarangan, seperti di sungai. Pospak mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, meskipun dihilangkan dengan cara dibakar, gel di dalam Pospak tidak dapat terbakar dengan baik.
Penelitian terkait teknologi tepat guna dan bernilai ekonomi lebih tinggi itu, dilatarbelakangi keresahan keberadaan limbah pospak yang sulit terurai dan dalam jumlah besar di Indonesia. "Kemudian saya berpikir sumber daya apa yang melimpah tapi belum dimanfaatkan dengan maksimal. Sebagai orang lingkungan, saya juga berpikir dari aspek lingkungan dan bagaimana mengurangi waste atau limbah. Ketemulah Pospak ini," Prabang Setyono, Selasa (12/5/2020).
Selain itu, ia menyoroti pola kebiasaan impor peredam suara atau panel akustik berbahan glasswool di Indonesia yang memiliki harga cukup mahal. Padahal, bidang industri membutuhkan peredam suara dengan harga terjangkau, efektif, dan sebisa mungkin berbahan dasar lokal atau tidak perlu impor. Sebab, impor lambat laun akan menimbulkan ketergantungan.
Menurutnya, sejak lahir hingga mampu buang air di toilet secara mandiri pada usia 3 tahun, setidaknya seorang bayi sudah menghabiskan sekitar 4.000 Pospak. Berdasarkan data, pada 2018 jumlah bayi usia 0—3 bulan di Indonesia sebanyak 23.729.600. Jika 50% dari jumlah tersebut menggunakan Pospak, maka jumlah limbah Pospak di Indonesia sangat besar.
Pembuangan Pospak masih sering sembarangan, seperti di sungai. Pospak mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air. Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, meskipun dihilangkan dengan cara dibakar, gel di dalam Pospak tidak dapat terbakar dengan baik.
Lihat Juga :