Jalan Kolaboratif Bebaskan Jatim dari Zona Merah
Selasa, 27 Oktober 2020 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Penularan utama Covid-19 kepada anak-anak ini diketahui berasal dari keluarga dekat mereka sendiri, yaitu orang tua atau saudara yang tinggal dalam satu rumah. Ditambah lagi gejala dan klinis anak yang terinfeksi Covid-19 tidak sama persis dengan orang dewasa. (Baca juga: Mengenal Sejarah Taman Nasional Komodo yang Lagi Viral)
“Dari 2.143 anak yang konfirmasi positif dan dilakukan pemeriksaan dalam sebuah penelitian berskala besar menunjukkan 90% di antaranya mempunyai gejala asimtomatis atau tidak memberikan gejala klinis, jadi seperti gejala menyerupai penyakit Kawasaki,” kata Leny.
Data per 15 September 2020 jumlah anak-anak usia 0-9 tahun di Jawa Timur yang positif terinveksi Covid-19 mencapai 1.412 anak. Sementara jumlah anak-anak usia 10-19 tahun yang terpapar Covid-19 mencapai 2.472 anak.
Khusus untuk anak bawah lima tahun atau balita (1-4 tahun) di Jawa Timur yang terkena Covid-19, hingga 14 Juli 2020, mencapai 170 anak. Meskipun tercatat 39% (67 anak) dinyatakan sembuh, tingkat kematian mencapai 1% (1 anak).
Epidemiolog FKM Unair Surabaya Dr M Atoillah Isfandiari, dr, M.Kes mengatakan, ketika awal virus masuk ke Indonesia, terdapat kesenjangan pengetahuan antara mereka yang paham tentang Covid-19 dengan masyarakat awam. Ini yang menjadi penyebab kesimpang-siuran dan kebingungan masyarakat terhadap informasi yang benar tentang Covid-19. (Baca juga: Normalisasi Hubungan Sudan-Israel Picu Kontroversi)
“Banyak hal yang masih belum diketahui tentang Covid-19 sehingga pengetahuan perlu disampaikan sebaik mungkin,” kata Atoillah.
Seperti kesimpang-siuran masalah antibodi, misalnya. Bagi Atoillah, antibodi akan diproduksi apabila ada kuman atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Untuk memproduksi antibodi ini tubuh manusia membutuhkan waktu 4-5 hari.
Setelah antibodi terbentuk, mereka akan melawan virus. Itulah mengapa sebagian besar penderita yang terinfeksi Covid-19 dapat sembuh dan rata-rata kesembuhan pasien Covid terjadi pada 21-27 hari. “Karena itu imunitas harusnya seimbang. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu lemah,” ucap Atoillah.
Ketika semua sektor bisa bergerak bersama, lanjutnya, maka sebaran virus bisa terus ditekan. Edukasi masyarakat terus terbangun serta upaya keras dari mereka untuk membentuk pemahaman yang sama. “Ini modal besarnya, jadi pemerintah tidak sendirian, tetapi didukung oleh semua sektor untuk bergerak bersama melawan sebaran Covid-19 ,” paparnya. (Lihat videonya: Pemprov DKI Putuskan Perpanjang Masa PSBB Transisi)
Jawa Timur sempat menjadi provinsi dengan jumlah kasus aktif terbanyak di Indonesia, melewati DKI Jakarta yang menjadi episentrum awal penularan. Pada Juli 2020 saja menembus di atas 7.300 kasus. Sebagian besar kabupaten/kota pun ditetapkan sebagai zona merah penularan.
Ego sektoral diletakkan, semua pihak memainkan perannya masing-masing dan mampu menekan jumlah penularan. Harapan itu kini kembali muncul, membenamkan keinginan untuk terbebas dari pandemi. (Aan haryono)
“Dari 2.143 anak yang konfirmasi positif dan dilakukan pemeriksaan dalam sebuah penelitian berskala besar menunjukkan 90% di antaranya mempunyai gejala asimtomatis atau tidak memberikan gejala klinis, jadi seperti gejala menyerupai penyakit Kawasaki,” kata Leny.
Data per 15 September 2020 jumlah anak-anak usia 0-9 tahun di Jawa Timur yang positif terinveksi Covid-19 mencapai 1.412 anak. Sementara jumlah anak-anak usia 10-19 tahun yang terpapar Covid-19 mencapai 2.472 anak.
Khusus untuk anak bawah lima tahun atau balita (1-4 tahun) di Jawa Timur yang terkena Covid-19, hingga 14 Juli 2020, mencapai 170 anak. Meskipun tercatat 39% (67 anak) dinyatakan sembuh, tingkat kematian mencapai 1% (1 anak).
Epidemiolog FKM Unair Surabaya Dr M Atoillah Isfandiari, dr, M.Kes mengatakan, ketika awal virus masuk ke Indonesia, terdapat kesenjangan pengetahuan antara mereka yang paham tentang Covid-19 dengan masyarakat awam. Ini yang menjadi penyebab kesimpang-siuran dan kebingungan masyarakat terhadap informasi yang benar tentang Covid-19. (Baca juga: Normalisasi Hubungan Sudan-Israel Picu Kontroversi)
“Banyak hal yang masih belum diketahui tentang Covid-19 sehingga pengetahuan perlu disampaikan sebaik mungkin,” kata Atoillah.
Seperti kesimpang-siuran masalah antibodi, misalnya. Bagi Atoillah, antibodi akan diproduksi apabila ada kuman atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Untuk memproduksi antibodi ini tubuh manusia membutuhkan waktu 4-5 hari.
Setelah antibodi terbentuk, mereka akan melawan virus. Itulah mengapa sebagian besar penderita yang terinfeksi Covid-19 dapat sembuh dan rata-rata kesembuhan pasien Covid terjadi pada 21-27 hari. “Karena itu imunitas harusnya seimbang. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu lemah,” ucap Atoillah.
Ketika semua sektor bisa bergerak bersama, lanjutnya, maka sebaran virus bisa terus ditekan. Edukasi masyarakat terus terbangun serta upaya keras dari mereka untuk membentuk pemahaman yang sama. “Ini modal besarnya, jadi pemerintah tidak sendirian, tetapi didukung oleh semua sektor untuk bergerak bersama melawan sebaran Covid-19 ,” paparnya. (Lihat videonya: Pemprov DKI Putuskan Perpanjang Masa PSBB Transisi)
Jawa Timur sempat menjadi provinsi dengan jumlah kasus aktif terbanyak di Indonesia, melewati DKI Jakarta yang menjadi episentrum awal penularan. Pada Juli 2020 saja menembus di atas 7.300 kasus. Sebagian besar kabupaten/kota pun ditetapkan sebagai zona merah penularan.
Ego sektoral diletakkan, semua pihak memainkan perannya masing-masing dan mampu menekan jumlah penularan. Harapan itu kini kembali muncul, membenamkan keinginan untuk terbebas dari pandemi. (Aan haryono)
(ysw)
Lihat Juga :