Gerakan Ekonomi Warga Lewat Bakul Anyaman

Jum'at, 09 Oktober 2020 - 01:38 WIB
loading...
Gerakan Ekonomi Warga Lewat Bakul Anyaman
Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan terus mengajak masyarakat di berbagai desa untuk membuat besek dan bakul. Besek berbahan anyaman bambu dan daun. Foto SINDOnews
A A A
KUBU RAYA - Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan terus mengajak masyarakat di berbagai desa untuk membuat besek dan bakul. Besek atau tempat makanan berbahan anyaman bambu dan daun, menurut rencana pada 2021 mendatang akan digunakan menggantikan kotak makanan berbahan kertas, styrofoam, dan plastik.

Khususnya dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan kerja Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Muda Mahendrawan menerangkan hal itu dilakukan dengan sejumlah alasan. Selain tujuan pelestarian lingkungan, penggunaan besek dan bakul produksi masyarakat akan menggerakkan ekonomi lokal. Karena besek tersebut akan dibeli oleh pemerintah daerah dan organisasi-organisasi di bawah naungannya.

“Kita ingin bagaimana perputaran uang itu jangan sampai lari keluar padahal kita mau memajukan daerah. Mana kebutuhan yang bisa dipenuhi sendiri jangan disia-siakan. Karena sumber daya alamnya ada dan bisa menjadi tambahan penghasilan,” tuturnya di Sungai Raya, Kamis (8/10). (Baca: Bupati Kubu Raya Ingatkan Agustus Bulan Vitamin A)

Muda mengatakan nantinya besek dan bakul akan digunakan untuk mewadahi makanan berat dan ringan yang dikonsumsi pada setiap agenda kegiatan pemerintah daerah. Karena itu, dirinya bakal mengeluarkan peraturan yang mewajibkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk menggunakan besek dan bakul. Hal itu rencananya akan dimulai pada 2021 mendatang.

“Sehingga kita membantu produk punya masyarakat. Sekaligus uangnya kembali ke masyarakat dan inilah keberpihakan yang nyata buat masyarakat di kampung-kampung. Ke depannya wajib bagi semua dinas dan organisasi di bawah naungan pemerintah daerah hingga di desa. Ini bukan soal perintah, melainkan inilah tanggung jawab karena uangnya lari ke masyarakat sendiri,” terangnya.

Ia menegaskan pemerintah kabupaten melalui birokrasi komit untuk menyerap produk masyarakat. Sebelumnya, produk-produk seperti beras lokal, seragam sekolah, dan produk-produk UMKM juga diserap oleh pemerintah daerah. Kondisi pandemi, menurutnya, justru menjadi peluang bagi warga untuk berkreasi menciptakan produk-produk dari sumber daya alam yang ada. Sebab di masa pandemi produk luar yang masuk berkurang drastis.

“Di masa ketika produk luar berkurang justru kitalah yang berusaha keras untuk menciptakan produk-produk dari tempat kita dari hasil alam. Kenapa? Karena nantinya ketika pasca pandemi ini produk kita bisa masuk ke tempat yang bersaing dengan produk dari luar,” jelasnya.

Dirinya mengatakan pemerintah kabupaten sangat fokus memasifkan penggunaan besek dan bakul. Bahkan Kubu Raya diharapkan dapat menjadi sentra penghasil besek. Dia menyatakan pemerintah daerah komit memperkuat usaha masyarakat melalui dinas-dinas dan organisasi yang ada.

“Semua akan kita mintakan untuk menggunakan produk ini. Memang membangun kebiasaan itu perlu waktu, tapi akhirnya masyarakat akan memakai itu. Mulai dari dari arisan-arisan kecil, majelis taklim, kegiatan masjid, dan berbagai tempat acara-acara memakai bakul semua. Ini ramah lingkungan jadi jangan ragu,” ajaknya.

Lebih jauh Muda Mahendrawan menyebut penggunaan besek dan bakul kembali ke peradaban awal manusia. Di mana hal tersebut dahulu juga dilakukan. Pembuatan dan penggunaan besek, ujarnya, adalah salah satu cara membangun karakter mandiri generasi muda. “Kita sudah ajarkan karakter kepada anak-anak untuk mandiri. Ini tidak perlu dibeli dari luar,” ucapnya.
Halaman :
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.4269 seconds (0.1#10.140)