Menelusuri Jejak Misteri Makam Putri Cempo
loading...
A
A
A
Akhirnya Adipati Pecatonda membawa Pangeran Bintara ke Majapahit. Menghadapkannya kepada Raja Brawijaya. Namun setelah tahu bahwa Pangeran Bintara bernama asli Raden Patah, anaknya sendiri, Raja Brawijaya tidak memberi hukuman namun menyetujui Raden Bintara sebagai Sultan di Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak pernah terlibat perang saudara dengan Kerajaan Majapahit. Secara terpaksa Raden Patah memberontak pada Kerajaan Majapahit yang ingin mempersempit perkembangan Islam. Dalam pemberontakan itu Demak menang dan berhasil membunuh Raja Brawijaya V. Bukti kemengan Demak adalah dibawa pulangnya delapan soko ukir penopang pendapa Kerajaan Majapahit yang saat ini menjadi tiang luar Masjid Agung Demak.
Selain itu dampar kencana atau tempat duduk raja Majapahit saat ini digunakan sebagai mimbar khotbah Masjid Agung Demak. Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun. Dimakamkan tidak jauh dari Masjid Agung Demak. Raden Patah merupakan ulama, mubaligh, dan Sultan Kerajaan Demak yang namanya tetap harum sampai sekarang. Makamnya setiap hari selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Sementara kisah lain Putri Campa datang dari Mojokerto. Masyarakat setempat sangat akrab dengan nama Putri Campa. Makamnya diyakini warga berada di Desa/Kecamatan Trowulan, hingga kini masih dirawat dengan baik. Istri Raja Brawijaya V ini dianggap sebagai cikal bakal tersebarnya ajaran Islam di Bumi Majapahit.
Kisah Putri Campa dan masuknya Islam ke Majapahit ditulis pemerhati sejarah Mojokerto, Saiful Amin dalam bukunya ‘Babad Keruntuhan Majapahit Invasi Raden Patah Suatu Kemustahilan Sejarah’.(Baca juga : Pelarian Eyang Onggoloco di Hutan Wonosadi Gunungkidul )
Berdasarkan literatur puja sastra sejenis babad atau serat, Prabu Brawijaya V menikah dengan putri dari Kerajaan Campa. Putri Campa itu hadiah dari Raja Campa Indravarman VI sekitar tahun 1428 masehi.
Dia menjelaskan bahwa Putri Campa bernama Darawati atau Dwarawati. Dia dikirim ke Majapahit saat berusia 17 tahun. Darawati menjadi istri selir dari Prabu Brawijaya V atau Dyah Kretawijaya sejak 1430 Masehi.
“Putri Campa bukan putri bangsawan atau putri raja. Sehingga hanya menjadi istri selir Brawijaya V,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan Putri Campa yang menjadi istri raja, mengundang imigran asal Campa datang ke Kerajaan Majapahit.
Para imigran muslim tersebut diperkirakan masuk ke Majapahit 1476-1478 masehi. Agama Islam sudah dianut sebagian kecil masyarakat Campa sejak abad 11. Ekspansi agama itu buah masuknya para pedagang dari Arab dan Persia ke negeri tersebut.
Terdapat nama-nama ulama besar di antara imigran asal Campa yang datang ke Majapahit. Di antaranya Raden Rahmat atau Sunan Ampel, ayah Raden Rahmat Makdum Brhaim Asmara atau Ibrahim Asmarakandi, Raden Santri Ali, Raden Ali Murtolo, dan Raden Burereh.
Kerajaan Demak pernah terlibat perang saudara dengan Kerajaan Majapahit. Secara terpaksa Raden Patah memberontak pada Kerajaan Majapahit yang ingin mempersempit perkembangan Islam. Dalam pemberontakan itu Demak menang dan berhasil membunuh Raja Brawijaya V. Bukti kemengan Demak adalah dibawa pulangnya delapan soko ukir penopang pendapa Kerajaan Majapahit yang saat ini menjadi tiang luar Masjid Agung Demak.
Selain itu dampar kencana atau tempat duduk raja Majapahit saat ini digunakan sebagai mimbar khotbah Masjid Agung Demak. Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun. Dimakamkan tidak jauh dari Masjid Agung Demak. Raden Patah merupakan ulama, mubaligh, dan Sultan Kerajaan Demak yang namanya tetap harum sampai sekarang. Makamnya setiap hari selalu ramai dikunjungi para peziarah.
Sementara kisah lain Putri Campa datang dari Mojokerto. Masyarakat setempat sangat akrab dengan nama Putri Campa. Makamnya diyakini warga berada di Desa/Kecamatan Trowulan, hingga kini masih dirawat dengan baik. Istri Raja Brawijaya V ini dianggap sebagai cikal bakal tersebarnya ajaran Islam di Bumi Majapahit.
Kisah Putri Campa dan masuknya Islam ke Majapahit ditulis pemerhati sejarah Mojokerto, Saiful Amin dalam bukunya ‘Babad Keruntuhan Majapahit Invasi Raden Patah Suatu Kemustahilan Sejarah’.(Baca juga : Pelarian Eyang Onggoloco di Hutan Wonosadi Gunungkidul )
Berdasarkan literatur puja sastra sejenis babad atau serat, Prabu Brawijaya V menikah dengan putri dari Kerajaan Campa. Putri Campa itu hadiah dari Raja Campa Indravarman VI sekitar tahun 1428 masehi.
Dia menjelaskan bahwa Putri Campa bernama Darawati atau Dwarawati. Dia dikirim ke Majapahit saat berusia 17 tahun. Darawati menjadi istri selir dari Prabu Brawijaya V atau Dyah Kretawijaya sejak 1430 Masehi.
“Putri Campa bukan putri bangsawan atau putri raja. Sehingga hanya menjadi istri selir Brawijaya V,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan Putri Campa yang menjadi istri raja, mengundang imigran asal Campa datang ke Kerajaan Majapahit.
Para imigran muslim tersebut diperkirakan masuk ke Majapahit 1476-1478 masehi. Agama Islam sudah dianut sebagian kecil masyarakat Campa sejak abad 11. Ekspansi agama itu buah masuknya para pedagang dari Arab dan Persia ke negeri tersebut.
Terdapat nama-nama ulama besar di antara imigran asal Campa yang datang ke Majapahit. Di antaranya Raden Rahmat atau Sunan Ampel, ayah Raden Rahmat Makdum Brhaim Asmara atau Ibrahim Asmarakandi, Raden Santri Ali, Raden Ali Murtolo, dan Raden Burereh.