Cerita Letjen TNI (Purn) Soegito Gagal Raih Baret Merah Kopassus karena Tak Kuat Jalan Kaki dari Bandung-Cilacap
Sabtu, 03 Agustus 2024 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kisah 6 Juta Gulden Sumbangan Raja Yogyakarta Modal Awal Negara Republik Indonesia
Saat membantu Mayor Heru, jam terjun Soegito semakin bertambah. Namun, Mayor Heru malah memberikan tugas merevisi kurikulum latihan komando kepada Soegito. Soegito keberatan, tetapi Mayor Heru mengalihkan pembicaraan rencana-rencana penerjunan.
“Besok saya terjun, ikut ya.” Alhasil, dari kegiatannya membantu Mayor Gunawan dan Mayor Heru, jam terjun Soegito meningkat signifikan. Hingga saat itu, jam terjun Soegito paling tinggi dari semua perwira lulusan AMN 61.
Di kemudian hari, di atas wing terjunnya ditambahkan bintang dan bintang merah sekembalinya dari Dili pada 1976.Sambil menunggu pendidikan komando dibuka lagi, Soegito memeriksakan ke dokter untuk mengetahui penyebab sakit di kakinya.
Dokter mendiagnosa bahwa ia terkena malaria, yang menyebabkan sakit di persendian kaki dan menurunnya daya tahan tubuh. Akhirnya kesempatan kedua untuk mengikuti pendidikan komando tiba juga.
Baca Juga: Kisah Asmujiono, Prajurit TNI yang Sempat Tak Diluluskan Prabowo Masuk Kopassus, Ternyata Taklukkan Everest
Soegito menikmati setiap tahap yang dilaluinya. Pada tahap long march, ia menyimpan petanya di ransel dan langkahnya diikuti oleh peserta yang lain, yang semuanya adalah yuniornya.
Salah satu kenangannya saat pendidikan komando adalah disuruh jungkir oleh bintara pelatih dari sebuah ketinggian hanya karena Soegito orang Cilacap. Beberapa tahun kemudian, pelatih asal Aceh yang dikenal galak itu menjadi anggotanya saat diterjunkan di Dili pada Desember 1975.
Seminggu setelah penutupan latihan, Komandan RPRAD Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo menarik seluruh peserta latihan ke Cijantung untuk mengikuti parade dan defile di Senayan.
“Saya salut dengan keuletan Pak Gito. Walaupun gagal latihan awalnya, namun mengulangi lagi sampai selesai. Itu sebuah keuletan yang kami hargai. Beliau tidak pantang menyerah. Mengulangi dari awal itu kan tidak main-main, diperlukan ketabahan yang tinggi,” ungkap Soetedjo.
Usai pendidikan dasar komando, Soegito ditempatkan sebagai Komandan Kompi di Batalion 2 RPKAD di Magelang. Setelah itu, ia ditarik ke Cijantung dan diserahi jabatan Danki A Batalion 1 dengan komandan Mayor Soekoso.
Saat membantu Mayor Heru, jam terjun Soegito semakin bertambah. Namun, Mayor Heru malah memberikan tugas merevisi kurikulum latihan komando kepada Soegito. Soegito keberatan, tetapi Mayor Heru mengalihkan pembicaraan rencana-rencana penerjunan.
“Besok saya terjun, ikut ya.” Alhasil, dari kegiatannya membantu Mayor Gunawan dan Mayor Heru, jam terjun Soegito meningkat signifikan. Hingga saat itu, jam terjun Soegito paling tinggi dari semua perwira lulusan AMN 61.
Di kemudian hari, di atas wing terjunnya ditambahkan bintang dan bintang merah sekembalinya dari Dili pada 1976.Sambil menunggu pendidikan komando dibuka lagi, Soegito memeriksakan ke dokter untuk mengetahui penyebab sakit di kakinya.
Dokter mendiagnosa bahwa ia terkena malaria, yang menyebabkan sakit di persendian kaki dan menurunnya daya tahan tubuh. Akhirnya kesempatan kedua untuk mengikuti pendidikan komando tiba juga.
Baca Juga: Kisah Asmujiono, Prajurit TNI yang Sempat Tak Diluluskan Prabowo Masuk Kopassus, Ternyata Taklukkan Everest
Soegito menikmati setiap tahap yang dilaluinya. Pada tahap long march, ia menyimpan petanya di ransel dan langkahnya diikuti oleh peserta yang lain, yang semuanya adalah yuniornya.
Salah satu kenangannya saat pendidikan komando adalah disuruh jungkir oleh bintara pelatih dari sebuah ketinggian hanya karena Soegito orang Cilacap. Beberapa tahun kemudian, pelatih asal Aceh yang dikenal galak itu menjadi anggotanya saat diterjunkan di Dili pada Desember 1975.
Seminggu setelah penutupan latihan, Komandan RPRAD Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo menarik seluruh peserta latihan ke Cijantung untuk mengikuti parade dan defile di Senayan.
“Saya salut dengan keuletan Pak Gito. Walaupun gagal latihan awalnya, namun mengulangi lagi sampai selesai. Itu sebuah keuletan yang kami hargai. Beliau tidak pantang menyerah. Mengulangi dari awal itu kan tidak main-main, diperlukan ketabahan yang tinggi,” ungkap Soetedjo.
Usai pendidikan dasar komando, Soegito ditempatkan sebagai Komandan Kompi di Batalion 2 RPKAD di Magelang. Setelah itu, ia ditarik ke Cijantung dan diserahi jabatan Danki A Batalion 1 dengan komandan Mayor Soekoso.
(ams)
Lihat Juga :