Cerita Letjen TNI (Purn) Soegito Gagal Raih Baret Merah Kopassus karena Tak Kuat Jalan Kaki dari Bandung-Cilacap
Sabtu, 03 Agustus 2024 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Tahap demi tahap latihan dilalui Soegito dengan baik tanpa kesulitan. Namun, memasuki tahap terakhir yaitu longmarch dari Batujajar, Bandung Barat ke Nusakambangan, Cilacap sejauh hampir 500 kilometer selama 10 hari.
Soegito merasakan sakit tak tertahankan di seluruh sendi-sendi kakinya. Ia tidak mampu melawan rasa sakitnya dan akhirnya menyerah. Pelatihnya, Serma Sutari, berusaha menguatkan tetapi sia-sia. Soegito akhirnya dievakuasi oleh pelatih dan dikembalikan ke Cijantung.
Baca Juga: Kisah Cinta Pangeran Diponegoro, Pahlawan Gagah yang Dipaksa Menikah Lagi demi Kepentingan Politik
Letjen (Pur) Soetedjo, yang saat itu sudah berada di Nusakambangan, baru tahu bahwa Soegito tidak ada di kelompok mereka. “Pak Gito itu kan sprinter, pelari cepat. Biasanya pelari cepat tidak tahan jarak jauh. Tapi apakah itu sebabnya, saya tidak tahu,” kata Letjen (Pur) Soetedjo.
Soegito tidak lama meratapi kegagalannya. Ia segera larut dalam kesibukan baru sebagai staf dari Mayor Inf Gunawan Wibisono, teman satu angkatan Mayor Inf Benny Moerdani. Mayor Gunawan yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris terlihat begitu pintar dan berwibawa.
Soegito membantu riset tentang peredam suara senapan dan airdrop resupply di Lanud Halim Perdanakusuma. Gagal dalam pendidikan komando memberi Soegito kesempatan untuk menambah jam terjun.
Sebagai perwira yang bertanggung jawab dalam riset penerjunan, ia harus total selama proses penelitian. Sorti demi sorti terjun statik diikutinya, termasuk malam hari, hingga ia mengantongi hampir 10 kali terjun.
Baca Juga: Kisah Syekh Jumadil Kubro Sebarkan Agama Islam di Kerajaan Majapahit
Kesibukan baru sebagai staf Mayor Gunawan memberikan Soegito kesempatan untuk menambah pengalaman. Pada 5 Oktober 1965, ia membantu pemakaman tujuh Pahlawan Revolusi di TMP Kalibata.
Ia mendapat tugas menggotong peti jenazah Jenderal Ahmad Yani. Setelah membantu Mayor Gunawan, Soegito ditugaskan membantu Mayor Inf Heru Sisnodo di Pusdik RPKAD di Batujajar. Mayor Heru dikenal sebagai pahlawan Trikora.
Ia terjun bersama 160 prajurit Batalion 530 dan 55 anggota RPKAD dalam Operasi Naga dipimpin Mayor Inf Benny Moerdani pada 24 Juni 1962 di Merauke.
”Dek Gito, nanti kalau mau latihan komando lagi, bila perlu apa-apa bilang saja kepada saya. Sekarang ikut saya jam terjun, sekalian nanti free fall,” ajak Mayor Heru yang akrab disapa Soegito.
Soegito merasakan sakit tak tertahankan di seluruh sendi-sendi kakinya. Ia tidak mampu melawan rasa sakitnya dan akhirnya menyerah. Pelatihnya, Serma Sutari, berusaha menguatkan tetapi sia-sia. Soegito akhirnya dievakuasi oleh pelatih dan dikembalikan ke Cijantung.
Baca Juga: Kisah Cinta Pangeran Diponegoro, Pahlawan Gagah yang Dipaksa Menikah Lagi demi Kepentingan Politik
Letjen (Pur) Soetedjo, yang saat itu sudah berada di Nusakambangan, baru tahu bahwa Soegito tidak ada di kelompok mereka. “Pak Gito itu kan sprinter, pelari cepat. Biasanya pelari cepat tidak tahan jarak jauh. Tapi apakah itu sebabnya, saya tidak tahu,” kata Letjen (Pur) Soetedjo.
Soegito tidak lama meratapi kegagalannya. Ia segera larut dalam kesibukan baru sebagai staf dari Mayor Inf Gunawan Wibisono, teman satu angkatan Mayor Inf Benny Moerdani. Mayor Gunawan yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris terlihat begitu pintar dan berwibawa.
Soegito membantu riset tentang peredam suara senapan dan airdrop resupply di Lanud Halim Perdanakusuma. Gagal dalam pendidikan komando memberi Soegito kesempatan untuk menambah jam terjun.
Sebagai perwira yang bertanggung jawab dalam riset penerjunan, ia harus total selama proses penelitian. Sorti demi sorti terjun statik diikutinya, termasuk malam hari, hingga ia mengantongi hampir 10 kali terjun.
Baca Juga: Kisah Syekh Jumadil Kubro Sebarkan Agama Islam di Kerajaan Majapahit
Kesibukan baru sebagai staf Mayor Gunawan memberikan Soegito kesempatan untuk menambah pengalaman. Pada 5 Oktober 1965, ia membantu pemakaman tujuh Pahlawan Revolusi di TMP Kalibata.
Ia mendapat tugas menggotong peti jenazah Jenderal Ahmad Yani. Setelah membantu Mayor Gunawan, Soegito ditugaskan membantu Mayor Inf Heru Sisnodo di Pusdik RPKAD di Batujajar. Mayor Heru dikenal sebagai pahlawan Trikora.
Ia terjun bersama 160 prajurit Batalion 530 dan 55 anggota RPKAD dalam Operasi Naga dipimpin Mayor Inf Benny Moerdani pada 24 Juni 1962 di Merauke.
”Dek Gito, nanti kalau mau latihan komando lagi, bila perlu apa-apa bilang saja kepada saya. Sekarang ikut saya jam terjun, sekalian nanti free fall,” ajak Mayor Heru yang akrab disapa Soegito.
Lihat Juga :