Warkop Unik di Pangkalan Bun, Meski Bayar Seikhlasnya Penjual Mengaku Untung
Senin, 24 Agustus 2020 - 15:55 WIB
loading...
A
A
A
Dirinya membuka warkop ini sejak Januari 2020 hingga sekarang. Namun lantaran pandemi COVID-19, warkopnya sempat tutup sejak Maret-Juni 2020. "Juli baru saya buka lagi karena sudah boleh dan masuk adaptasi kebiasaan baru atau New Normal," ujar warga asli Kelurahan Raja Pangkalan Bun ini.
Ia mengaku ikhlas melakukan ini semua dan ini bukan trik marketing. Bahkan banyak juga pembeli yang tak membayar sepeserpun saat minum kopi dan teh, ia tetap ikhlas.
Namun banyak juga yang membayar dengan uang pas maupun lebih. "Saya ikhlas, tidak bayar juga tidak apa apa. Bayar pas atau lebih juga saya terima. Syaratnya pembeli hanya ikhlas," sebutnya.
Meski pembeli boleh bayar seikhlasnya, ia mengaku tak pernah rugi. Bahkan selalu untung. Itu terjadi karena rezeki tak tertukar. "Ya kalau yang sering tidak bayar itu anak-anak sekolah. Saya mengerti saja dan saya ikhlas. Profit saya justru dari orang yang bayar lebih. Berapa sih modal kopi dan teh, itu tidak banyak. Sekaligus saya beramal," ujar Ade yang sudah tinggal di Perumahan Cemara Permai 10 tahun lalu.
Meski bayar seikhlasnya, ia tetap meraup rejeki setiap harinya bahkan tidak pernah sama sekali rugi. "Paling kecil omzet sehari Rp100 ribu. Dan itupun saya sudah untung. Kalau lagi rame bisa omzet Rp500 ribu. Tapi rata-rata sehari omzet Rp200 ribu-Rp300 ribuan," sebutnya.
Untuk lokasi warkop ia menyewa lahan kosong di pintu masuk Perumahan Cemara Permai dengan uang sewa Rp500 ribu per bulan.
Ia mengaku ikhlas melakukan ini semua dan ini bukan trik marketing. Bahkan banyak juga pembeli yang tak membayar sepeserpun saat minum kopi dan teh, ia tetap ikhlas.
Namun banyak juga yang membayar dengan uang pas maupun lebih. "Saya ikhlas, tidak bayar juga tidak apa apa. Bayar pas atau lebih juga saya terima. Syaratnya pembeli hanya ikhlas," sebutnya.
Meski pembeli boleh bayar seikhlasnya, ia mengaku tak pernah rugi. Bahkan selalu untung. Itu terjadi karena rezeki tak tertukar. "Ya kalau yang sering tidak bayar itu anak-anak sekolah. Saya mengerti saja dan saya ikhlas. Profit saya justru dari orang yang bayar lebih. Berapa sih modal kopi dan teh, itu tidak banyak. Sekaligus saya beramal," ujar Ade yang sudah tinggal di Perumahan Cemara Permai 10 tahun lalu.
Meski bayar seikhlasnya, ia tetap meraup rejeki setiap harinya bahkan tidak pernah sama sekali rugi. "Paling kecil omzet sehari Rp100 ribu. Dan itupun saya sudah untung. Kalau lagi rame bisa omzet Rp500 ribu. Tapi rata-rata sehari omzet Rp200 ribu-Rp300 ribuan," sebutnya.
Untuk lokasi warkop ia menyewa lahan kosong di pintu masuk Perumahan Cemara Permai dengan uang sewa Rp500 ribu per bulan.
Lihat Juga :