Tertular Corona dari Mayat, Ahli Forensik di Thailand Meninggal
Selasa, 14 April 2020 - 20:09 WIB
loading...
A
A
A
Angelique Corthals, profesor patologi di Universitas Kota New York John Jay College of Criminal Justice, yang tidak terlibat dalam kasus ini, mengatakan kepada BuzzFeed News; "Tidak hanya pemeriksa medis, tetapi teknisi kamar mayat dan orang-orang di rumah duka perlu hati-hati."
Summer Johnson McGee, seorang ahli kebijakan kesehatan di University of New Haven, juga mengatakan kepada BuzzFeed News bahwa siapa pun yang bersentuhan dengan tubuh yang telah dites positif terkena virus corona, "hidup atau mati", harus memakai alat pelindung diri untuk menghindari penyebaran virus.
"Autopsi dan penyelidikan selanjutnya menghadirkan risiko nyata bagi koroner untuk terpapar COVID-19," katanya, yang dilansir Selasa (14/4/2020).
Dalam panduan sementara tentang cara mengelola jasad korban COVID-19 yang aman yang diterbitkan pada akhir Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan mayat umumnya tidak menular, kecuali dalam kasus demam berdarah seperti Ebola dan Marburg, atau jika paru-paru pasien dengan pandemi influenza tidak ditangani dengan baik.
Menurut WHO, hingga saat ini tidak ada bukti orang yang telah terinfeksi corona akibat terpapar tubuh orang yang meninggal karena COVID-19. Meskipun begitu, WHO membuka peluang perubahan cara pengelolaan jasad terinfeksi corona. "Rekomendasi ini dapat direvisi ketika bukti baru tersedia," kata badan yang beranaung di bawah PBB tersebut.
Summer Johnson McGee, seorang ahli kebijakan kesehatan di University of New Haven, juga mengatakan kepada BuzzFeed News bahwa siapa pun yang bersentuhan dengan tubuh yang telah dites positif terkena virus corona, "hidup atau mati", harus memakai alat pelindung diri untuk menghindari penyebaran virus.
"Autopsi dan penyelidikan selanjutnya menghadirkan risiko nyata bagi koroner untuk terpapar COVID-19," katanya, yang dilansir Selasa (14/4/2020).
Dalam panduan sementara tentang cara mengelola jasad korban COVID-19 yang aman yang diterbitkan pada akhir Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan mayat umumnya tidak menular, kecuali dalam kasus demam berdarah seperti Ebola dan Marburg, atau jika paru-paru pasien dengan pandemi influenza tidak ditangani dengan baik.
Menurut WHO, hingga saat ini tidak ada bukti orang yang telah terinfeksi corona akibat terpapar tubuh orang yang meninggal karena COVID-19. Meskipun begitu, WHO membuka peluang perubahan cara pengelolaan jasad terinfeksi corona. "Rekomendasi ini dapat direvisi ketika bukti baru tersedia," kata badan yang beranaung di bawah PBB tersebut.
(muh)
Lihat Juga :