Sejarah Kesultanan Mataram: Pendiri, Kejayaan, Keruntuhan, dan Peninggalan

Selasa, 26 September 2023 - 15:51 WIB
loading...
Sejarah Kesultanan Mataram:...
Masjid Agung Kotagede merupakan peninggalan Kesultanan Mataram Islam. Foto/Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta
A A A
JAKARTA - Kesultanan Mataram atau Kerajaan Mataram Islam berkuasa di tanah Jawa antara abad ke-16 hingga ke-18 M. Kerajaan yang berpusat di wilayah Jawa Tengah ini memiliki sejarah yang panjang dan kompleks.

Pada awalnya, Kesultanan Mataram merupakan sebuah kadipaten yang diberikan Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang pada tahun 1575 kepada seorang bangsawan Jawa yang bernama Panembahan Senopati.

Pemberian itu disebut sebagai "tanah Mataram" dan menjadi cikal bakal Kesultanan Mataram. Panembahan Senopati, yang juga dikenal sebagai Senapati, adalah tokoh penting dalam pembentukan Kesultanan Mataram. Dia memerintah tanah Mataram dan secara bertahap memperluas wilayah kekuasaannya.

Baca Juga Kemegahan Keraton Kerajaan Mataram Islam di Plered dengan Gerbang Tiga Lapis

Untuk mengetahuinya lebih lanjut, berikut sejarah Kesultanan Mataram dari berdiri hingga mengalami keruntuhan.

Kejayaan Kesultanan Mataram


Kerajaan Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya selama masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645). Salah satu pencapaian terbesar Sultan Agung adalah ekspansi wilayah kesultanan.

Sultan Agung berhasil menguasai banyak wilayah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Ekspansi wilayah ini membuat Kesultanan Mataram menjadi salah satu kekuatan dominan di Nusantara pada masanya.

Pada masa itu juga terjadi pemindahan ibu kota Kesultanan Mataram dari Kota Gede ke Kartasura, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan yang penting.

Baca Juga 3 Penguasa Pertama Kesultanan Mataram, Salah Satunya Mencapai Masa Keemasan

Selain itu, Sultan Agung yang dikenal sebagai pemimpin militer yang ulung sempat beberapa kali menaklukkan pasukan Belanda, seperti Pertempuran Gresik (1619) dan Pertempuran Plered (1625).

Pemerintahan Sultan Agung juga berhasil membuat Kesultanan Mataram juga mencapai kejayaan dalam bidang seni dan budaya dengan mendukung pengembangan seni pertunjukan seperti wayang kulit dan wayang orang.

Keruntuhan Kesultanan Mataram


Meskipun Sultan Agung adalah salah satu penguasa paling kuat dalam sejarah Kesultanan Mataram, kejayaan ini tidak berlangsung lama.

Setelah kematiannya, Kerajaan Mataram Islam mengalami periode konflik internal dan perpecahan yang mengakibatkan pembagian wilayah antara Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta sesuai dengan Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Keruntuhan Kesultanan Mataram yang terjadi di sekitar abad ke-18 ini terpicu akan beberapa faktor. Salah satunya adalah perselisihan mengenai pewarisan takhta.

Baca Juga 10 Raja Kesultanan Mataram Islam: Dari Awal hingga Menjelang Keruntuhannya

Setelah kematian Sultan Agung, ada perselisihan di antara pewaris yang potensial, yang mengakibatkan perpecahan dan konflik internal dalam keluarga kerajaan.

Dari konflik tersebut Belanda mengambil keuntungan dengan mendukung pihak yang berseteru, sehingga memperburuk situasi.

Perjanjian Giyanti adalah perjanjian yang dihasilkan dari konflik di Kesultanan Mataram. Perjanjian ini, yang ditandatangani pada tahun 1755, membagi wilayah Mataram menjadi dua. Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Pemimpin dari masing-masing kesultanan ini diangkat oleh Belanda, yang secara efektif menjadikan mereka penguasa boneka di bawah kendali kolonial Belanda.

Pembagian wilayah antara Surakarta dan Yogyakarta mengurangi kekuasaan Kesultanan Mataram secara keseluruhan.

Peninggalan Kesultanan Mataram


Terdapat beberapa peninggalan yang membuktikan keberadaan dan keberjayaan Kesultanan Mataram, mulai dari masjid, makam hingga karya sastra.

Masjid Agung Kotagede yang dikenal sebagai Masjid tertua di Yogyakarta itu dibangun oleh Panembahan Senopati pada tahun 1575.

Makam Imogiri yang berada di Bantul dibangun oleh Sultan Agung pada tahun 1632. Kemudian ada Taman Sari yang dibangun Sunan Pakubuwana I pada tahun 1758.

Terdapat pula Serat Centhini yang merupakan karya sastra berbahasa Jawa yang ditulis oleh Sunan Pakubuwana V pada tahun 1814.
(okt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Kebut Penyaluran BLT...
Kebut Penyaluran BLT Kesra 2025 di Mataram, Pos Indonesia Lakukan Ini
Kisah Strategi Cerdik...
Kisah Strategi Cerdik Panembahan Senopati Bikin Pasukan Pajang Kabur dari Mataram
Rebutan Takhta hingga...
Rebutan Takhta hingga Wanita Jadi Penyebab Pemberontakan Berdarah Era Kalingga dan Mataram
Janji Politik Raja Mataram...
Janji Politik Raja Mataram Bangun Tempat Penyeberangan di Tepi Sungai Bengawan Solo
BEM PTNU Gelar Mukernas...
BEM PTNU Gelar Mukernas 2025, Presidium Nasional Tekankan Kolaborasi Gerakan
Anomali Krida Toyota:...
Anomali Krida Toyota: Menyulap Dealer 6 Hektar Jadi Resor Otomotif dan Markas Balap Mandalika
Di Panggung FORNAS VIII,...
Di Panggung FORNAS VIII, NTB Dapat Sinyal Positif dari Menpora untuk PON 2028
Rekomendasi
Tiara Andini dan Alshad...
Tiara Andini dan Alshad Ahmad Sama-sama di Los Angeles, Warganet Ramai Berspekulasi
Daftar Lengkap 32 Tim...
Daftar Lengkap 32 Tim Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Berita Terkini
Cegah Stunting lewat...
Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman
Jelang Hari Bhayangkara...
Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Riau Tuntaskan 110 Jembatan Merah Putih Presisi
Deteksi Bibit Siklon...
Deteksi Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi
Dukung Generasi Alpha...
Dukung Generasi Alpha dan Beta, S-26 Gelar Event di Surabaya dan Jakarta
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Ribuan Warga Padati CFD Sudirman-Thamrin Saksikan Karnaval Budaya
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Infografis
5 Pemain Paling Ikonik...
5 Pemain Paling Ikonik dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved