Sains, Wabah dan Agama

Rabu, 29 April 2020 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Saat ilmuwan berjibaku berusaha menemukan vaksin; dokter dan perawat mempertaruhkan nyawa mengobati para korban wabah; seruan mengkarantina diri digaungkan untuk memutus mata rantai penyebarannya, adalah menyakitkan jika atas nama Tuhan mereka tidak hanya menantang protokol itu, tapi juga mengolok para petugas sebagai manusia yang tak punya iman. Iman yang dewasa adalah iman yang memberi kehidupan, bukan mengajak bunuh diri massal atas nama Tuhan.

Sejarah telah memberi pelajaran, cukuplah kita menggunakan nalar dengan baik untuk menghindari penularan dalam masa wabah. Karantina adalah protokol pemutusan penularan pandemi yang sudah berusia ribuan tahun. Sekalipun orang zaman dulu tidak tahu bagaimana mikroba menyebabkan penyakit, namun nalar sehat mereka bisa menyimpulkan bahwa kontak dengan orang sakit dapat menyebabkan penyakit.

Saat pandemi Wabah Hitam menyerang Eropa di abad ke-14, mikroskop belum ditemukan. Louis Pasteur dan Robert Koch baru berteori tentang kuman pada 1870. Dmitri Iwanosk baru mengidentifikasi virus sebagai agen penyakit pada 1892. Antibiotik pertama baru ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Dan, virus baru sungguh-sungguh terlihat oleh mata pada 1930.

Sekalipun demikian, otoritas Venesia, Itali, dan kota-kota pesisir lain saat itu menerapkan kebijakan karantina bagi kapal-kapal yang datang. Kapal-kapal itu harus dikarantina selama empat puluh hari sebelum berlabuh. Istilah “karantina” saat ini sebetulnya mengacu pada istilah ‘Quarantina” yang diterapkan otoritas Venesia saat itu, yang secara harfiyah berarti “empat puluh”.

Tak perlu tengadah ke langit bagi mereka untuk menyadari bahwa penyakit terjadi saat kapal-kapal dari daerah lain, terutama Timur Tengah, memasuki pelabuhan. Bahkan para dokter saat itu pun salah membuat diagnosis terhadap wabah yang membuat mayat-mayat hanya digeletakkan di jalan-jalan itu. Saat itu, masyarakat awam meyakini wabah sebagai kecamuk roh jahat.

Penggemar ilmu perbintangan berspekulasi bahwa bumi sedang mengeluarkan uap mematikan karena planet sedang dalam susunan tidak normal. Agamawan mengkhotbahkan kemurkaan Tuhan karena kesombongan manusia. Namun mereka semuanya diam-diam menyadari bahwa penyakit itu datang karena sebab-sebab yang bisa dikenali oleh nalarnya. Mengakui atau tak mengakui, itu urusan lain.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan ketaatan dalam beragama. Namun, tak perlu menanggalkan rasio, karena rasio adalah perangkat yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia. Melalui rasio, manusia bisa menemukan mikroskop, antibiotik, vaksin, dan menemukan virus serta jalur-jalur mutasinya. Dengan itu pula, manusia bisa mempersiapkan diri dan memberi jalan keselamatan pada manusia dari kepunahan di dunia. Dan, orang-orang yang taat beragama bisa nyaman melanjutkan beribadah kepada Tuhannya.[]
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bantuan UMKM di Kuala...
Bantuan UMKM di Kuala Pembuang Harus Tepat Sasaran
Putus Penyebaran Virus...
Putus Penyebaran Virus Covid-19, PT SPIL Sukseskan Lomba Kampung Asik
Terdampak Pandemi, Pemkot...
Terdampak Pandemi, Pemkot Bandung Revisi Target Kunjungan Wisata
Kunjungan Wisatawan...
Kunjungan Wisatawan Turun Drastis, Disparbud Pesimistis Samai Tahun Lalu
1 PNS Positif Corona,...
1 PNS Positif Corona, 2 Ruangan di Bale Kota Tasikmalaya Ditutup
Efek Pandemi, Pengembang...
Efek Pandemi, Pengembang Harus Berpikir Ulang Desain Rumah dan Apartemen
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Rekomendasi
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved