Penyiksaan Romusha Bikin Darah Shodanco Soeprijadi Mendidih dan Meletuskan Pemberontakan saat Valentine
Selasa, 14 Februari 2023 - 10:16 WIB
loading...
A
A
A
Perwira Jepang Letnan Satu Tsuchiya Kiso di akhir latihan membuat peringkat kemampuan peserta didiknya. Seoprijadi bukan lulusan terbaik. Begitu juga dengan Soeharto maupun Sudirman. Lulusan terbaik disandang Zulfikli Lubis yang sejak pelatihan di Tangerang, sudah memperlihatkan kecakapannya.
"Dengan mudah Lubis (Zulkifli Lubis) meraih nomor satu, dan nomor dua adalah Daan Mogot. Mereka berada di peringkat atas berkat kemampuanya. Mereka ini hampir seperti perwira Jepang," demikian yang tertulis dalam "Soeharto di Bawah Militer Jepang".
Teman-teman Seoprijadi selama menjalani pelatihan calon perwira PETA, melihat sosok Seoprijadi sebagai pemuda penyendiri sekaligus eksentrik. Sifat serta tabiat tersebut diketahui terlihat sejak Seoprijadi masih sekolah.
Seoprijadi kerap melakukan sesuatu yang kontroversial. Ia biasa berenang sendiri di laut selatan yang terkenal berbahaya. Saat berenang Seoprijadi sengaja mengenakan celana pendek warna hijau.
"Padahal menurut legenda setempat, siapapun yang mengenakan pakaian berwarna hijau akan membuat marah Nyi Roro Kidul dan akan tenggelam," tulis David Jenkins. Seoprijadi merupakan putra seorang pejabat pemerintah. Sesudah perang, ayah Seoprijadi diangkat menjadi Bupati Blitar.
Baca juga: Kisah Legenda Orang-orang Gelap Blitar, dari Bromocorah Sekelas Kusni Kasdut hingga Samanhudi Anwar
Seorang investigator militer Jepang, mencatat bahwa Seoprijadi seorang yang aneh, mudah dipengaruhi tetapi punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Seoprijadi suka menyamakan dirinya dengan Pangeran Diponegoro. Seoprijadi juga suka menyamakan diri dengan penasihat mistik Diponegoro.
Pada tahun 1945, ketidakpercayaan Shodanco Seoprijadi terhadap Jepang, semakin menguat. Pagi hari 14 Feberuari 1945. Shodanco Seoprijadi yang masih berusia 21 tahun, memimpin 360 prajurit untuk keluar barak.
Bersama pasukan serta dukungan hampir seluruh perwira di batalyon PETA, Seoprijadi menyerang Hotel Sakura Blitar yang menjadi markas perwira Jepang. Baku tembak, dan lemparan mortir tidak terelakkan.
Mereka membunuh empat orang Jepang, dan tujuh orang etnis Tionghoa yang dianggap pro Jepang. Seluruh anggota batalyon PETA di Blitar, ikut ambil bagian dalam pemberontakan bersenjata dan untuk pertama kalinya suatu kesatuan Indonesia mengarahkan senjata kepada pembinanya.
Sayang, pemberontakan yang sudah disiapkan berbulan-bulan itu, masih penuh kekurangan. Bantuan kekuatan dari batalyon PETA lain tidak sesuai harapan. Pemberontakan Seoprijadi di Blitar, dalam sekejap berhasil dipadamkan.
Baca juga: Kisah Telik Sandi Cantik Nyimas Utari, Hancur Lebur Ditembak Meriam Usai Penggal Kepala Gubernur Jenderal VOC JP Coen
Karena situasi yang tidak menguntungkan, Seoprijadi bersama pasukannya menyingkir ke luar kota. Tiga rombongan menuju ke arah utara dan satu rombongan ke selatan. Pada 17 Februari 1945 atau tiga hari paska pemberontakan, unit-unit batalyon yang terlibat pemberontakan kembali ke Blitar.
Salah satunya adalah Muradi. Mereka bersedia kembali ke Blitar, setelah Jepang memberi jaminan tidak akan membawa ke pengadilan militer. Namun janji tinggal janji. Khawatir pemberontakan tersebar luas, Jepang melucuti batalyon dan menahan kurang lebih 55 orang perwira beserta anak buahnya.
Jepang mengirim mereka ke Jakarta, untuk disidangkan di Pengadilan Militer. Semua dinyatakan terbukti bersalah. Enam orang dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya di Ancol, Jakarta. Sejak itu nasib Shodanco Seoprijadi tidak diketahui rimbanya.
Dari Pantai Serang, Soeprijadi benar-benar mewujudkan gagasan pemberontakannya. Meski kalah dan banyak tentara PETA yang dihukum gantung, termasuk Soeprijadi sendiri tidak jelas rimbanya, perlawanan itu dicatat dalam sejarah kemerdekaaan bangsa Indonesia.
Untuk mengenang peristiwa itu, sebuah monumen berupa patung setengah badan Soeprijadi didirikan di lapangan Desa Serang, sebelah utara kawasan pantai. Hal ini juga yang membuat warga Blitar, selalu mengenang perjuangan PETA di bawah pimpinan Shodanco Soeprijadi, dengan menggelar aksi napak tilas pemberontakan PETA dari Pantai Serang, setiap 14 Februari.
"Dengan mudah Lubis (Zulkifli Lubis) meraih nomor satu, dan nomor dua adalah Daan Mogot. Mereka berada di peringkat atas berkat kemampuanya. Mereka ini hampir seperti perwira Jepang," demikian yang tertulis dalam "Soeharto di Bawah Militer Jepang".
Teman-teman Seoprijadi selama menjalani pelatihan calon perwira PETA, melihat sosok Seoprijadi sebagai pemuda penyendiri sekaligus eksentrik. Sifat serta tabiat tersebut diketahui terlihat sejak Seoprijadi masih sekolah.
Seoprijadi kerap melakukan sesuatu yang kontroversial. Ia biasa berenang sendiri di laut selatan yang terkenal berbahaya. Saat berenang Seoprijadi sengaja mengenakan celana pendek warna hijau.
"Padahal menurut legenda setempat, siapapun yang mengenakan pakaian berwarna hijau akan membuat marah Nyi Roro Kidul dan akan tenggelam," tulis David Jenkins. Seoprijadi merupakan putra seorang pejabat pemerintah. Sesudah perang, ayah Seoprijadi diangkat menjadi Bupati Blitar.
Baca juga: Kisah Legenda Orang-orang Gelap Blitar, dari Bromocorah Sekelas Kusni Kasdut hingga Samanhudi Anwar
Seorang investigator militer Jepang, mencatat bahwa Seoprijadi seorang yang aneh, mudah dipengaruhi tetapi punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Seoprijadi suka menyamakan dirinya dengan Pangeran Diponegoro. Seoprijadi juga suka menyamakan diri dengan penasihat mistik Diponegoro.
Pada tahun 1945, ketidakpercayaan Shodanco Seoprijadi terhadap Jepang, semakin menguat. Pagi hari 14 Feberuari 1945. Shodanco Seoprijadi yang masih berusia 21 tahun, memimpin 360 prajurit untuk keluar barak.
Bersama pasukan serta dukungan hampir seluruh perwira di batalyon PETA, Seoprijadi menyerang Hotel Sakura Blitar yang menjadi markas perwira Jepang. Baku tembak, dan lemparan mortir tidak terelakkan.
Mereka membunuh empat orang Jepang, dan tujuh orang etnis Tionghoa yang dianggap pro Jepang. Seluruh anggota batalyon PETA di Blitar, ikut ambil bagian dalam pemberontakan bersenjata dan untuk pertama kalinya suatu kesatuan Indonesia mengarahkan senjata kepada pembinanya.
Sayang, pemberontakan yang sudah disiapkan berbulan-bulan itu, masih penuh kekurangan. Bantuan kekuatan dari batalyon PETA lain tidak sesuai harapan. Pemberontakan Seoprijadi di Blitar, dalam sekejap berhasil dipadamkan.
Baca juga: Kisah Telik Sandi Cantik Nyimas Utari, Hancur Lebur Ditembak Meriam Usai Penggal Kepala Gubernur Jenderal VOC JP Coen
Karena situasi yang tidak menguntungkan, Seoprijadi bersama pasukannya menyingkir ke luar kota. Tiga rombongan menuju ke arah utara dan satu rombongan ke selatan. Pada 17 Februari 1945 atau tiga hari paska pemberontakan, unit-unit batalyon yang terlibat pemberontakan kembali ke Blitar.
Salah satunya adalah Muradi. Mereka bersedia kembali ke Blitar, setelah Jepang memberi jaminan tidak akan membawa ke pengadilan militer. Namun janji tinggal janji. Khawatir pemberontakan tersebar luas, Jepang melucuti batalyon dan menahan kurang lebih 55 orang perwira beserta anak buahnya.
Jepang mengirim mereka ke Jakarta, untuk disidangkan di Pengadilan Militer. Semua dinyatakan terbukti bersalah. Enam orang dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya di Ancol, Jakarta. Sejak itu nasib Shodanco Seoprijadi tidak diketahui rimbanya.
Dari Pantai Serang, Soeprijadi benar-benar mewujudkan gagasan pemberontakannya. Meski kalah dan banyak tentara PETA yang dihukum gantung, termasuk Soeprijadi sendiri tidak jelas rimbanya, perlawanan itu dicatat dalam sejarah kemerdekaaan bangsa Indonesia.
Untuk mengenang peristiwa itu, sebuah monumen berupa patung setengah badan Soeprijadi didirikan di lapangan Desa Serang, sebelah utara kawasan pantai. Hal ini juga yang membuat warga Blitar, selalu mengenang perjuangan PETA di bawah pimpinan Shodanco Soeprijadi, dengan menggelar aksi napak tilas pemberontakan PETA dari Pantai Serang, setiap 14 Februari.
(eyt)
Lihat Juga :