Jelang Nataru, Kantor Imigrasi Medan Dibanjiri Pemohon Paspor
Rabu, 11 Desember 2024 - 22:25 WIB
MEDAN - Jelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), jumlah pemohon paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan meningkat. Jumlah permohonan paspor mencapai 525 per hari.
"Kebanyakan di sini pemohon rata-rata tujuan Malaysia. Dia berobat, mungkin berlibur bersama keluarganya," kata Kepala Bidang Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan Ketut Satria Widasmara, Rabu (11/12/2024).
Ketut menambahkan, dari ratusan permohonan paspor setiap hari, ada yang tidak berlanjut atau tidak berproses. Hal ini antara lain disebabkan pihaknya menduga orang-orang tersebut akan bekerja secara ilegal di luar negeri.
"Periode 1 Januari sampai 10 Desember itu ada sekitar 175 penolakan, yang diduga akan bekerja secara ilegal ke luar negeri," ujarnya.
Ketut mengatakan, pada periode 1 Januari sampai 10 Desember, ada 928 penolakan permohonan paspor yang diakibatkan duplikasi paspor, salah jenis permohonan, salah jenis paspor, dan terdapat perbedaan data yang diajukan. "Mungkin dalam jangan waktu yang ditentukan, 14 hari, mereka diminta melengkapi, namun tidak bisa melengkapi, akhirnya permohonan itu batal," jelasnya.
Ketut mengatakan, para pemohon paspor elektronik juga bertambah. Menurutnya, paspor elektronik lebih aman karena telah menggunakan chip. "Bisa untuk menyimpan data pemohon secara aman di sana dan sulit untuk dipalsukan," ujarnya.
Listrina Monica, seorang pemohon paspor, datang bersama suami dan anaknya yang masih balita. Dia membuat paspor elektronik. "Saya memperpanjang paspor dan membuat paspor baru untuk suami dan anak saya," ujarnya.
"Kebanyakan di sini pemohon rata-rata tujuan Malaysia. Dia berobat, mungkin berlibur bersama keluarganya," kata Kepala Bidang Dokumen Perjalanan dan Izin Tinggal Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan Ketut Satria Widasmara, Rabu (11/12/2024).
Ketut menambahkan, dari ratusan permohonan paspor setiap hari, ada yang tidak berlanjut atau tidak berproses. Hal ini antara lain disebabkan pihaknya menduga orang-orang tersebut akan bekerja secara ilegal di luar negeri.
"Periode 1 Januari sampai 10 Desember itu ada sekitar 175 penolakan, yang diduga akan bekerja secara ilegal ke luar negeri," ujarnya.
Baca Juga
Ketut mengatakan, pada periode 1 Januari sampai 10 Desember, ada 928 penolakan permohonan paspor yang diakibatkan duplikasi paspor, salah jenis permohonan, salah jenis paspor, dan terdapat perbedaan data yang diajukan. "Mungkin dalam jangan waktu yang ditentukan, 14 hari, mereka diminta melengkapi, namun tidak bisa melengkapi, akhirnya permohonan itu batal," jelasnya.
Ketut mengatakan, para pemohon paspor elektronik juga bertambah. Menurutnya, paspor elektronik lebih aman karena telah menggunakan chip. "Bisa untuk menyimpan data pemohon secara aman di sana dan sulit untuk dipalsukan," ujarnya.
Listrina Monica, seorang pemohon paspor, datang bersama suami dan anaknya yang masih balita. Dia membuat paspor elektronik. "Saya memperpanjang paspor dan membuat paspor baru untuk suami dan anak saya," ujarnya.
Lihat Juga :
tulis komentar anda