Kisah Engku Puteri Raja Hamidah, Penjaga Regalia Kerajaan Melayu

Jum'at, 11 November 2022 - 15:45 WIB
loading...
Kisah Engku Puteri Raja Hamidah, Penjaga Regalia Kerajaan Melayu
Kompleks makam Raja Ali Haji di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Foto/Antara
A A A
Pulau Penyengat yang ada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menjadi saksi betapa gigihnya putra-putra Nusantara mempertahankan kedaulatannya melawan penjajah. Cerita heroik terukir di pulau yang menjadi pusat Kerajaan Riau-Lingga-Pahang.

Baca juga: Menelusuri Kisah Raja Nong Isa, Penguasa Pertama Pulau Batam

Dalam berbagai pertempuran hebat yang dihadapi Kerajaan Riau-Lingga-Pahang, dalam menghadapi para penjajah, ada peran seorang wanita yang kuat, teguh dan berani. Dia adalah Engku Puteri Raja Hamidah, putri sulung dari pernikahan Raja Haji Fisabilillah dengan Ratu Emas.



Engku Puteri Raja Hamidah yang kala itu akrab disapa Engku Hamidah, memegang peranan penting dalam menjaga kedaulatan kerajaan dari tipu daya tentara Belanda, dan Inggris. Istri dari Sultan Mahmud Riayat Syah itu ,tidak pernah goyah menyerahkan simbol kerajaan kepada Belanda, dan Inggris, meski dibujuk rayu dan ditodong senjata.

Baca juga: Tiga Pahlawan Nasional Asal Kepulauan Riau Berkharisma Ini Berjuang Angkat Senjata dan Pena

Simbol kedaulatan Kerajaan Riau-Lingga-Pahang dan adat melayu itu bernama Regalia. Yakni daun sirih besar yang terbuat dari emas. Regalia hanya digunakan untuk penobatan atau pengangkatan sultan.

Engku Hamidah menyembunyikan simbol sakral itu, untuk menyelamatkan negerinya. Kerajaan akan tunduk kepada penjajah, bila Regalia jatuh di tangan Belanda, atau Inggris. Kini regalia tersebut disimpan di Museum Nasional.

Dalam catatab sejarah, Engku Hamidah merupakan satu-satunya perempuan yang berani berperang mengikuti jejak sang ayah dan suami di Perairan Pulau Penyengat. Engku Hamidah dipandang sebagai tokoh perempuan yang memegang teguh adat istiadat kerajaan.

Sejarawan dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Abdul Malik mengatakan, Engku Hamidah sebelum menikah tinggal di Kota Rebah, bibir Sungai Carang. Ia menolak tinggal di Tanjungpinang, dan Pulau Penyengat, karena tidak ingin minum air dari satu tanah dengan Belanda, dan Inggris.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1728 seconds (10.55#12.26)