Rampogan Macan, Kisah Tradisi Gladiator di Tanah Jawa

Senin, 19 September 2022 - 05:00 WIB
loading...
Rampogan Macan, Kisah...
Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran. Foto/Ist.
A A A
Barisan laki-laki pilihan dengan tombak terhunus, mengepung seekor macan kumbang. Barisan para laki-laki yang disebut gandek itu, dengan buas mencoba menikam macan kumbang menggunakan ujung tombaknya yang sangat tajam, layaknya para gladiator.

Baca juga: Kisah Mataram Dilanda Gelombang Pemberontakan, Usai Panembahan Senopati Mangkat

Kepungan tombak yang terhunus horizontal, berhasil diterobos macan kumbang. Siang itu tahun 1894, lebaran tinggal beberapa hari lagi. Alun-alun Blitar gempar. Sorak-sorai kegembiraan dalam tradisi Rampogan Macan berganti jerit ketakutan.



Sejarawan R. Kartawibawa mengibaratkan kekacauan yang terjadi seperti butiran padi yang sedang ditampi. Kocar-kacir. Terpelanting ke sana-sini. "Polahing tijang saaloen-aloen kados gabah dipoen interi (Tingkah laku orang se alun-alun seperti gabah atau padi yang ditampi)," tulis R. Kartawibawa dalam buku "Bakda Mawi Rampog" terbitan Bale Poestaka 1928.

Baca juga: Kisah Siasat Raja Mataram Utus Wanita Cantik untuk Taklukkan Madiun

Macan kumbang yang berhasil mencari jalan ke luar dari hunusan tombak, lari ke arah penonton. Napasnya terengah-engah. Mulutnya dinarasikan Kartawibawa setengah terbuka. Akibat tusukan tombak, tubuh macan sarat luka, berdarah-darah.

Anak-anak, remaja, sampai orang tua, sontak lari pontang panting. Banyak istri terpisah dari suami. Banyak anak-anak menangis ditinggal lari orang tuanya. Seorang teman tidak ingat lagi di mana kawannya.

Sambil menggendong anak balitanya, ibu-ibu berusaha angkat kaki sejauh-jauhnya. Begitupun para lelaki. Tidak sedikit yang berebut memanjat pohon beringin yang banyak tumbuh di sekitaran alun-alun.

Sementara yang sudah di atas pohon, berusaha naik lebih tinggi. Saking gugupnya, ada yang celaka. Terpeleset jatuh sekaligus terinjak injak massa. Para pedagang makanan dan minuman hanya bisa melongo. Menyaksikan dagangannya porak-poranda terlanggar kaki orang-orang yang lintang pukang.

Dalam situasi mencekam tersebut, masih ada juga orang yang mengambil kesempatan. Kartawibawa menuliskan: "Wonten tijang djaler ingkang anggagapi badanipoen tijang estri, konangan ing oepas poelisi, dipoen sambleg pedang (Ada laki-laki yang mendekap tubuh perempuan, ketahuan upas polisi, langsung disabet pedang,".

Baca juga: Kisah Nyimas Utari, Telik Sandi Cantik dari Mataram yang Memenggal Kepala Gubernur Jenderal JP Coen

Rampogan Macan adalah tradisi masyarakat Jawa membinasakan harimau di dalam arena pertempuran, layaknya pertunjukkan gladiator. Macan dilepas ke tengah barisan laki-laki pilihan atau gandek.

Ada tiga sampai empat lapis barisan melingkar dengan tombak terhunus. Posisi mereka mengepung. Sementara di atas tratag, yakni panggung terbuka yang ditopang tiang-tiang besi, para petinggi penting menyaksikan jalannya acara. Bupati, tamu-tamu undangan Belanda beserta istri-istrinya.

Di panggung lain yang lebih sederhana, berdiri para priyayi dan orang-orang berkantong tebal. Panggung ini milik pengusaha Tionghoa. Mereka yang bisa naik panggung terlebih dahulu membayar ongkos sewa.

Sementara rakyat jelata, kaum kromo berdiri menonton di atas rumput alun-alun dengan jarak 36 kaki dari arena dengan pembatas seutas tali. Diiringi tabuhan gamelan serta tiupan terompet yang memekakkan telinga. Macan dikeluarkan dari sekapan kotak kayu jati.

Macan yang menolak keluar, dipaksa dengan sundutan api serta siraman air mendidih. Di tengah alun-alun. Macan yang usai bertarung melawan kerbau dalam tradisi Sima Maesa (Harimau Kerbau) tersebut, dihabisi.

Baca juga: Kisah Gunung Semeru, Pasak untuk Pulau Jawa Dihuni Keturunan Asli Majapahit
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Aneh! Ilmuwan Temukan...
Aneh! Ilmuwan Temukan Mumi Cheetah Langka di Gurun Arab
Tiga Dekade Dinyatakan...
Tiga Dekade Dinyatakan Punah, Spesies Kucing Liar Ini Terlihat Lagi
Perdagangan Harimau...
Perdagangan Harimau Semakin Merajalela, Indonesia Termasuk Penyumbang Terbesar
Rekomendasi
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
Soal Biaya Lepas Status...
Soal Biaya Lepas Status WNI Rp5 Juta, Menkum Supratman: Kami Kaji Kembali
Pasar Cemas Tarif Baru...
Pasar Cemas Tarif Baru AS, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.963
Berita Terkini
118 Mangrove Rusak di...
118 Mangrove Rusak di Riau, Kapolda: Tidak Ada Ruang bagi Pelaku
Penahanan Babe Aldo...
Penahanan Babe Aldo di Polda Kalsel, Pengacara Mencium Dugaan Ada Pesanan
Perkuat Desa Bugisan...
Perkuat Desa Bugisan Klaten, Pendapatan UMKM di Wisata Candi Plaosan Meningkat
Gempa Magnitudo 5,5...
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Sarmi Papua Sore Ini
Bandung Jadi Tuan Rumah...
Bandung Jadi Tuan Rumah Perdana Erafone Run 2026, Targetkan 2.000 Peserta
Tokoh Masyarakat Merauke:...
Tokoh Masyarakat Merauke: PSN Wanam Harus Jamin Masa Depan Pendidikan Anak
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved