Rampogan Macan, Kisah Tradisi Gladiator di Tanah Jawa

Senin, 19 September 2022 - 05:00 WIB
loading...
A A A
Belanda tahu telah diolok-olok orang Jawa. Mengerti telah disimbolkan sebagai macan yang harus dilawan. Namun tidak ambil pusing. Belanda memilih menikmati tradisi Sima Maesa dan Rampogan Macan yang digelar rutin setiap tahun.

Dalam ideologi kebudayaan masyarakat Belanda, mereka juga kurang menyukai harimau. Selain itu, harimau dipandang sebagai hama yang mengganggu proyek pembukaan perkebunan dan lahan baru. Karenannya tidak masalah jika dihabisi.

Selama berlangsung tradisi Sima Maesa dan Rampogan Macan, pemerintah Belanda tidak pernah melarang. Bahkan ikut menyebarluaskan tradisi yang sebelumnya hanya terpusat di Yogyakarta ke luar daerah.

"Orang-orang Belanda ikut menyebarluaskan tradisi Sima Maesa dan Rampog Macan ke daerah yang belum mengenal acara itu," tulis Peter Boomgaard dalam artikel "Death to The Tiger".

Mulai di atas tahun 1860, tradisi Sima Maesa dan Rampogan Macan tidak lagi terpusat di Yogyakarta. Tradisi Gladiator Jawa tersebut bergeser ke Jawa Timur. Setiap menjelang lebaran atau tahun baru Islam digelar di alun-alun Blitar, dan Kediri.

Baca juga: Mahapatih Gajah Mada Dituduh Lakukan Strategi Licik Saat Pasukan Majapahit Menyerbu Bali

Tradisi Sima Maesa dan Rampogan Macan juga tidak lagi digelar dalam satu paket pagelaran. Digesernya tradisi Rampogan Macan di wilayah Blitar, dan Kediri, diduga tidak terlepas dari masih tingginya populasi harimau di kedua wilayah tersebut.

Sejarawan R Kartawibawa menyebut wilayah Kecamatan Lodoyo, dan Gadungan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Blitar, serta Pare di Kabupaten Kediri, sebagai kadaton sima atau kerajaan harimau.

"Sapamireng koela tanah ingkang ketjeloek kadaton sima poenika: ing Lodaja (Blitar kidoel), Gadoengan (Pare, Kediri), Kedoewang (Wanagiri), Tjilatjap (Sepengetahuan saya tanah yang dipanggil kraton harimau itu Lodaya (Blitar selatan), Gadungan (Pare Kabupaten Kediri), Keduwang (Wonogiri) dan Cilacap)," kata R Kartawibawa dalam buku "Bakda Mawi Rampog".

Kejayaan tradisi Sima Maesa dan Rampog Macan berlangsung tahun 1830-1870. Antara 1830-1860, setiap tahun rata-rata 1.250 ekor harimau mati dibunuh. Pada tahun 1900, jumlah rata rata macan yang mati dibunuh setiap tahun 400 ekor.

Peter Boomgard dalam "Death to The Tiger" menyebut, turunnya angka harimau yang mati akibat populasinya yang merosot drastis. Sebagian diantaranya disebabkan tradisi Sima Maesa dan Rampogan Macan.

Baca juga: Memalukan! Oknum Polisi Cekik Ibu yang Memohon-mohon Maaf, Videonya Viral

Disisi lain jumlah manusia yang mati dibunuh harimau pada tahun 1860-an sebanyak 120 orang per tahun, dan 30 orang sekitar tahun 1900. Mulai tahun 1923 tradisi Rampogan Macan menghilang dari wilayah Jawa Timur. Baik di Alun-alun Blitar maupun Kediri, tidak ada lagi gelanggang pembantaian harimau.

Tradisi gladiator Jawa tersebut punah. Sebelum lenyap, nilai perlawanan terhadap kolonial Belanda yang diusung tradisi Rampogan Macan, lebih dulu bergeser. Simbolisasi harimau sebagai Belanda yang kejam, penindas dan karenanya harus dilawan sampai tumpas, tidak lagi dikenal rakyat.

Pertarungan hidup mati antara seekor harimau melawan para gandek, dengan tombak terhunus hanya menjadi pertunjukan hiburan sekaligus pengiring upacara keagamaan. Harimau ditafsirkan ulang menjadi simbol baru. Tidak lagi dipandang sebagai entitas negatif yang harus dimusnahkan selamanya. Hal ini terkait erat dengan pelaksanaan Rampogan Macan yang selalu digelar jelang lebaran.

Harimau dapat diartikan sebagai sifat-sifat buruk manusiawi yang meskipun dilawan, tetapi hal tersebut akan tetap ada dalam lingkup kehidupan dunia. "Oleh karena itu setiap tahun setidaknya sekali, Rampog Macan diibaratkan sebagai proses untuk mensucikan keburukan-keburukan manusia," kata Dihan Amiluhur.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Aneh! Ilmuwan Temukan...
Aneh! Ilmuwan Temukan Mumi Cheetah Langka di Gurun Arab
Tiga Dekade Dinyatakan...
Tiga Dekade Dinyatakan Punah, Spesies Kucing Liar Ini Terlihat Lagi
Perdagangan Harimau...
Perdagangan Harimau Semakin Merajalela, Indonesia Termasuk Penyumbang Terbesar
Rekomendasi
Soal Jet Pribadi saat...
Soal Jet Pribadi saat Kunker, Menteri PU: Itu Pesawat Negara, Dioperasikan Kemenhub
Oegroseno Buka Suara...
Oegroseno Buka Suara usai Absen dari Panggilan Kortas Tipidkor: Datang Harus Bawa Data
Bahas Efisiensi Anggaran...
Bahas Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya dan Kepala BGN Baru Bakal Bertemu Minggu Depan
Berita Terkini
Sambangi MI Raudhatul...
Sambangi MI Raudhatul Azhar, KB Bank Tanamkan Literasi Keuangan Sejak Dini
Plt Bupati Bekasi Bakal...
Plt Bupati Bekasi Bakal Evaluasi Kinerja Dirum Perumda Tirta Bhagasasi
Hadir di IFBC Yogyakarta...
Hadir di IFBC Yogyakarta 2026, Booth Bingxue Dipadati Calon Mitra
Penyelundupan 3 Ton...
Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling ke Kamboja Terbongkar, Kemenhut Buru Jaringan Internasional
KDM Buka Lowongan Kerja,...
KDM Buka Lowongan Kerja, Buru Begal Komisi Rp50 Juta
Pemkab Bogor Tegaskan...
Pemkab Bogor Tegaskan Komitmen Jalankan Putusan PTUN Bandung Terkait Sentul City
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved