Pimpin Jamasan Dieng Culture Festival, Siti Atiqoh Ganjar Dorong Pelestarian Tradisi
Sabtu, 03 September 2022 - 17:37 WIB
loading...
Siti Atiqoh Ganjar saat Jamasan Dieng Culture Fertival. Foto: Istimewa
A
A
A
BANJARNEGARA - Perhelatan Dieng Culture Festival (DCF) 2022 hari kedua mengadakan kegiatan Kirab Budaya dan Jamasan anak rambut gimbal di Darmasala, Candi Arjuna, Kabupaten Banjarnegara.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta istrinya, Siti Atiqoh, berkesempatan mengikuti rangkaian ini.
Pada sesi Jamasan atau yang berarti pensucian diri dari hal buruk dan kotor, Siti Atiqoh memimpin jalannya rangkaian ruwat anak bajang yang berjumlah 15 anak laki-laki dan perempuan.
Baca juga: Tradisi Potong Rambut Gimbal Pada Puncak Dieng Culture Festival 2020
Atiqoh memimpin prosesi Jamasan ke-15 anak bajang dengan membasuhkan air tujuh rupa yang berasal dari tujuh sumber mata air berbeda, yakni Tuk Bima Lukar, Tuk Sendang Buana, Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido (Tuk Pitu).
Ia menjelaskan, tradisi Jamasan ini merupakan tradisi turun temurun yang tidak semua orang bisa mengikutinya. Sebab, hanya anak-anak berambut gimbal sejak lahir saja yang bisa mengikutinya.
"Karena ini tradisi yang sudah turun temurun dan anak-anak yang berambut gimbal itu memang tertentu, tidak semua orang. Misalnya dalam satu keluarga itu belum tentu adiknya seperti itu rambutnya," ujar Atiqoh, di Candi Arjuna, Sabtu (3/9/2022).
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta istrinya, Siti Atiqoh, berkesempatan mengikuti rangkaian ini.
Pada sesi Jamasan atau yang berarti pensucian diri dari hal buruk dan kotor, Siti Atiqoh memimpin jalannya rangkaian ruwat anak bajang yang berjumlah 15 anak laki-laki dan perempuan.
Baca juga: Tradisi Potong Rambut Gimbal Pada Puncak Dieng Culture Festival 2020
Atiqoh memimpin prosesi Jamasan ke-15 anak bajang dengan membasuhkan air tujuh rupa yang berasal dari tujuh sumber mata air berbeda, yakni Tuk Bima Lukar, Tuk Sendang Buana, Tuk Kencen, Tuk Goa Sumur, Kali Pepek dan Tuk Sibido (Tuk Pitu).
Ia menjelaskan, tradisi Jamasan ini merupakan tradisi turun temurun yang tidak semua orang bisa mengikutinya. Sebab, hanya anak-anak berambut gimbal sejak lahir saja yang bisa mengikutinya.
"Karena ini tradisi yang sudah turun temurun dan anak-anak yang berambut gimbal itu memang tertentu, tidak semua orang. Misalnya dalam satu keluarga itu belum tentu adiknya seperti itu rambutnya," ujar Atiqoh, di Candi Arjuna, Sabtu (3/9/2022).
Lihat Juga :