Legenda Prabu Watugunung, Simbol Wuku dan Horoskop Tradisional Masyarakat Jawa

Sabtu, 13 Agustus 2022 - 05:40 WIB
loading...
A A A
Ketika itu juga turunlah Ida Hyang Padmayoni, bertanya kepada para putri itu, apa sebabnya mereka bersedih. Sang Dewi menghormat sambil menjawab; "Ya, yang terhormat batara, hambamu ini ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak hamba baru mulai hamil hingga sekarang. Sampai kelahiran putra hamba ini belum juga beliau datang (kembali), itulah sebabnya hambamu ini bersedih hati," kata sang dewi.

Itulah ungkapan kesedihan kedua dewi tersebut kepada Ida Hyang Padmayoni yang disebut sebagai Dewa Brahma. Mendengar cerita kedua putri tersebut Dewa Brahman sangat bahagia dan mendoakan supaya bayi itu panjang umur terkenal di dunia serta diberikan anugerah yang hebat tidak terbunuh oleh para dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari maupun pada siang hari, tidak mati dibawah maupun di atas, tidak terbunuh oleh senjata. Kecuali Dewa Wisnu.

Di waktu yang sama pun Dewa Brahman memberi bayi tersebut nama I Watugunung. "Dan karena bayimu lahir di atas batu, aku anugrahi nama I Watugunung."

Usai itu Dewa Brahma kembali ke Kahyangan yang disebut Brahma Loka. Setelah itu sang dewi keduanya ke kraton dengan memangku seorang putra. Tersebutlah bayi itu mengalami pertumbuhan yang amat cepat, sampai-sampai ibunya merasa kewalahan meladeni bayinya untuk memberi makan karena bayinya makan amat kuat. Melihat kejadiaan itu, kedua sang Dewi sangat heran.

Sering satu kali masak atau satu periuk dihabiskan dalam sekali makan tanpa ada sisanya. Hal tersebut akhirnya berlangsung terus menerus hingga suatu hari ibunya sedang memasak di dapur, datanglah sang Watugunung mendekati ibunya seraya minta nasi untuk dimakan.

"Anakku bersabarlah menunggu sementara ini nasinya belum masak," kata sanng ibu.

Mendengar kata sang ibu, Watugunung tidak menghiraukan dan mlahan mendesak supaya cepat-cepat memberikan nasi karena perutnya sudah lapar. Karena tidak tahan ketika itu pula sang Watugunung mengambil dengan sendiri tanpa bantuan ibunya, dan langsung nasi yang sedang dimasak itu disantapnya sampai habis tidak menghiraukan sudah matang atau belum.

Melihat ketidaksopanan putranya, ibunya menjadi sangat marah dan langsung mengambil sodo (siut) dan memukul putranya tepat di kepalanya sampai berlumuran darah, sang Watugunung menangis terisak-isak menahan luka yang diderita. Akibat dari hal itu, Watugunung meninggalkan kraton karena saking krodha dengan marahnya menuju gunung Emalaya.

Diceritakan dalaam perjalanan, Watugunung berbuat seenaknya. Ketika lapar merampok makanan rakyat dan langsung dimakannya. Meliahat kejadian itu, masyarakat di lereng Gunung Emalaya merasa sangat heran melihat perilaku anak kecil itu yang serba berani, memaksa makanan dari penduduk sekitar.

Kejadian itu terus terjadi samapi mengganggu kesejahteraan dan keamanan penduduk. Karena penduduk merasa kewalahan akhirnya masalahnya dilaporkan kepada raja Giriswara. Mendengar laporan itu raja merasa terkejut, dan naik darah seketika itu juga memerintahkan rakyatnya untuk menghabisi sang Watugunung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sasar Timur Jakarta...
Sasar Timur Jakarta dan Trans Jawa, Perusahaan Logistik Ini Tangani Ekspedisi 150 Ton per Hari
Musikal Legenda Sukabumi...
Musikal Legenda Sukabumi Tampil Memukau di Galeri Indonesia Kaya
Kisah Sawerigading,...
Kisah Sawerigading, Putra Raja Luwu yang Jatuh Hati dan Ingin Nikahi Adik Kembarnya
Profil Karaeng Galesong,...
Profil Karaeng Galesong, Putra Sultan Hasanuddin yang Membantu Perlawanan Rakyat Jawa Terhadap Belanda
5 Hal Menarik dari Prabu...
5 Hal Menarik dari Prabu Siliwangi, Mulai dari Asal Usul hingga Mitos Macan Putih
Asal Muasal Penemuan...
Asal Muasal Penemuan Nagarakretagama yang Gambarkan Tiga Kerajaan Besar di Jawa
Navaswara Angkat Legenda...
Navaswara Angkat Legenda Banten Lewat Festival Storytelling Suara Nusantara 2026
Mengapa Orang Jawa Menyebut...
Mengapa Orang Jawa Menyebut Bulan Syaban dengan Kata Ruwah?
Legenda Roro Jonggrang...
Legenda Roro Jonggrang dan Sejarah Candi Prambanan: Fakta, Mitos, dan Makna Budayanya
Rekomendasi
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Liga Bintang Juara Hari...
Liga Bintang Juara Hari Kedua: 32 Tim Bertarung Rebut 16 Tiket ke Babak Utama Jakarta
Berita Terkini
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Ada Demo Mahasiswa,...
Ada Demo Mahasiswa, Rute Transjakarta Dialihkan
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved