Kisah Putri Mandalika, Berwajah Cantik Jelita Rela Berkorban jadi Cacing Laut Demi Kedamaian Abadi
Senin, 08 Agustus 2022 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Awal mula tradisi ini tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun berdasarkan isi Babad Sasak yang dipercaya oleh masyarakat, tradisi ini berlangsung sejak sebelum 16 abad silam.
Baca juga: Kisah Syekh Malang Sumirang, Tetap Hidup saat Dibakar Sunan Kudus di Alun-alun
Tradisi ini dilangsungkan setiap tanggal 20 bulan 10 menurut perhitungan penanggalan tradisional Sasak, atau sekitar bulan Februari bertempat di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah.
Prosesi Tradisi Bau Nyale diawali dengan diadakannya sangkep wariga, yaitu pertemuan para tokoh adat untuk menentukan hari baik, mengenai kapan saat Nyale ini ke luar. Dilanjutkan dengan mepaosan, yaitu pembacaan lontar yang dilakukan oleh para mamik atau tokoh adat.
Pembacaan lontar ini, dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Tradisi Bau Nyale, bertempat di bangunan tradisional dengan tiang empat yang disebut dengan Bale Saka Pat. Pembacaan lontar ini, dengan menembangkan beberapa pupuh atau nyayian tradisional.
Urutan pupuh atau nyanyian tradisional yang dilakukan dalam pembacaan lontar, yakni Pupuh Smarandana, Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang dan Pupuh Ginada. Beberapa piranti yang dipakai dalam prosesi ini antara lain daun sirih, kapur, kembang setaman dengan sembilan jenis bunga, dua buah gunungan yang berisi jajan tradisional khas Sasak, serta buah-buahan lokal.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Upacara Bau Nyale akan digelar dini hari sebelum subuh, seperti undangan yang disampaikan Putri Mandalika kepada para pangeran dan seluruh rakyatnya. Sebelum masyarakat turun ke laut, para tokoh adat menggelar sebuah upacara adat Nede Rahayu Ayuning Jagad.
Dalam prosesi adat Nede Rahayu Ayuning Jagad ini, para Tetua Adat Lombok berkumpul dengan posisi melingkar, di tengah-tengah mereka diletakkan dua buah gunungan berisi jajanan tradisional Sasak, serta buah-buahan lokal. Setelah itu, masyarakat akan berhamburan ke pesisir pantai, berburu Nyale, simbol pengorbanan Putri Mandalika, untuk kedamaian abadi.
Baca juga: Kisah Syekh Malang Sumirang, Tetap Hidup saat Dibakar Sunan Kudus di Alun-alun
Tradisi ini dilangsungkan setiap tanggal 20 bulan 10 menurut perhitungan penanggalan tradisional Sasak, atau sekitar bulan Februari bertempat di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah.
Prosesi Tradisi Bau Nyale diawali dengan diadakannya sangkep wariga, yaitu pertemuan para tokoh adat untuk menentukan hari baik, mengenai kapan saat Nyale ini ke luar. Dilanjutkan dengan mepaosan, yaitu pembacaan lontar yang dilakukan oleh para mamik atau tokoh adat.
Pembacaan lontar ini, dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Tradisi Bau Nyale, bertempat di bangunan tradisional dengan tiang empat yang disebut dengan Bale Saka Pat. Pembacaan lontar ini, dengan menembangkan beberapa pupuh atau nyayian tradisional.
Urutan pupuh atau nyanyian tradisional yang dilakukan dalam pembacaan lontar, yakni Pupuh Smarandana, Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang dan Pupuh Ginada. Beberapa piranti yang dipakai dalam prosesi ini antara lain daun sirih, kapur, kembang setaman dengan sembilan jenis bunga, dua buah gunungan yang berisi jajan tradisional khas Sasak, serta buah-buahan lokal.
Baca juga: Kisah Siu Ban Ci, Cinta Pandangan Pertama Brawijaya V yang Anaknya Menghancurkan Majapahit
Upacara Bau Nyale akan digelar dini hari sebelum subuh, seperti undangan yang disampaikan Putri Mandalika kepada para pangeran dan seluruh rakyatnya. Sebelum masyarakat turun ke laut, para tokoh adat menggelar sebuah upacara adat Nede Rahayu Ayuning Jagad.
Dalam prosesi adat Nede Rahayu Ayuning Jagad ini, para Tetua Adat Lombok berkumpul dengan posisi melingkar, di tengah-tengah mereka diletakkan dua buah gunungan berisi jajanan tradisional Sasak, serta buah-buahan lokal. Setelah itu, masyarakat akan berhamburan ke pesisir pantai, berburu Nyale, simbol pengorbanan Putri Mandalika, untuk kedamaian abadi.
(eyt)
Lihat Juga :