Kisah Bung Hatta Hentikan Kebiasaan Tentara Jepang Tempeleng Kepala Orang Indonesia
Jum'at, 05 Agustus 2022 - 14:00 WIB
loading...
Bung Hatta meminta kebiasaan tentara Jepang menempeleng kepala orang-orang Indonesia dihentikan karena hal itu penghinaan yang menimbulkan rasa malu. Foto/Repro/Ist
A
A
A
PENJAJAH Jepang selama menduduki Indonesia (1942-1945) memiliki kebiasaan kekerasan. Orang-orang Jepang terkenal bertabiat ringan tangan.
Karena gusar atau jengkel yang disebabkan kesalahan sepele orang Indonesia, tentara Jepang dengan mudah menempeleng.
Baca juga: Cerita di Balik Nama Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo
Sasaran yang dituju selalu kepala. Biasanya, tamparan yang dilayangkan disusul sejumlah bogem pada tubuh. Kebiasaan berlaku kasar itu menjadi perhatian Mohammad Hatta atau Bung Hatta saat pertama kali menerima tawaran Pemerintah Jepang bekerja di Kantor Penasihat Umum.
Bung Hatta meminta kebiasaan tentara Jepang menempeleng kepala orang-orang Indonesia sebaiknya dihentikan. Bagi adat istiadat orang Indonesia, tempeleng kepala adalah penghinaan yang menimbulkan rasa malu.
Rasa malu yang tak tertahankan bisa menjadikan gelap mata sekaligus berbuat nekat.
“Kepala bagi orang Indonesia, kata Hatta dipandang sebagai bagian yang suci pada badan manusia,” tulis Deliar Noer dalam buku Mohammad Hatta Biografi Politik (1990).
Baca juga: Kisah Hasjim Ning, Raja Mobil Indonesia Berdarah Minang Keponakan Bung Hatta
Bung Hatta optimistis nasihatnya akan diperhatikan. Sebab sejak penjajah Jepang berhasil memaksa Kolonial Belanda menyerah, ia menjadi salah satu tokoh pergerakan Indonesia yang dipercaya.
Kolonial Belanda menyerah pada tentara Jepang pada 8 Maret 1942.
Di Kalijati, Jawa Barat, Jenderal Ter Poorten menyerahkan kekuasaan tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura. Di waktu yang sama itu Hatta diajak kerja sama. Ia tak mampu menolak karena mengingat sifat kejam fasisme Jepang.
Karena gusar atau jengkel yang disebabkan kesalahan sepele orang Indonesia, tentara Jepang dengan mudah menempeleng.
Baca juga: Cerita di Balik Nama Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo
Sasaran yang dituju selalu kepala. Biasanya, tamparan yang dilayangkan disusul sejumlah bogem pada tubuh. Kebiasaan berlaku kasar itu menjadi perhatian Mohammad Hatta atau Bung Hatta saat pertama kali menerima tawaran Pemerintah Jepang bekerja di Kantor Penasihat Umum.
Bung Hatta meminta kebiasaan tentara Jepang menempeleng kepala orang-orang Indonesia sebaiknya dihentikan. Bagi adat istiadat orang Indonesia, tempeleng kepala adalah penghinaan yang menimbulkan rasa malu.
Rasa malu yang tak tertahankan bisa menjadikan gelap mata sekaligus berbuat nekat.
“Kepala bagi orang Indonesia, kata Hatta dipandang sebagai bagian yang suci pada badan manusia,” tulis Deliar Noer dalam buku Mohammad Hatta Biografi Politik (1990).
Baca juga: Kisah Hasjim Ning, Raja Mobil Indonesia Berdarah Minang Keponakan Bung Hatta
Bung Hatta optimistis nasihatnya akan diperhatikan. Sebab sejak penjajah Jepang berhasil memaksa Kolonial Belanda menyerah, ia menjadi salah satu tokoh pergerakan Indonesia yang dipercaya.
Kolonial Belanda menyerah pada tentara Jepang pada 8 Maret 1942.
Di Kalijati, Jawa Barat, Jenderal Ter Poorten menyerahkan kekuasaan tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura. Di waktu yang sama itu Hatta diajak kerja sama. Ia tak mampu menolak karena mengingat sifat kejam fasisme Jepang.
Lihat Juga :