Kisah Hasjim Ning, Raja Mobil Indonesia Berdarah Minang Keponakan Bung Hatta
Kamis, 04 Agustus 2022 - 11:06 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bayi Tewas Akibat Persalinan Normal Macet, IDI Sesalkan Langkah Hukum Polisi terhadap RSUD Jombang
Hasjim Ning yang sejak kecil mendapat pendidikan (sekolah) dan mengaji secara ketat, belajar ilmu ekonomi dari Bung Hatta. Dari Bung Hatta juga Hasjim bisa kenal dekat dengan Bung Karno dan Sutan Sjahrir. Bahkan ketika di Jakarta, Hasjim Ning sempat menempati paviliun di mana rumah besarnya (induk) menjadi tempat tinggal Sutan Sjahrir.
Pada Agustus tahun 1951 itu, Hasjim Ning tidak segera mengiyakan permintaan Margono Djojohadikusumo yang menginginkan dirinya menjabat Presiden Direktur ISC. Bahkan Hasjim menolak dengan alasan telah memiliki usaha sendiri. Dengan bahasa Belanda ia mengatakan: Ik denk veel beter als een kleine baas dan een grote knecht (Aku kira lebih baik jadi tuan kecil dari pada kuli besar).
"Tapi di ISC jij (kamu) akan menjadi een grote baas, bukan een kleine knecht," jawab Margono Djojohadikusumo. Hasjim Ning bergeming. Ia kukuh dengan sikapnya. Ia mengatakan, sudah senang dengan usahanya sendiri di mana dirinya optimis bisnis itu bakal berkembang besar.
"Ya itu ide yang baik. Justru itulah yang menyebabkan aku memilih jij (kamu)," kata Margono Djojohadikusumo yang berusaha keras melobi. Karena gagal melunakkan hati Hasjim Ning, Margono menemui Bung Hatta untuk meminta bantuan. Jika Bung Hatta yang meminta, Margono berharap Hasjim akan bersedia.
Lantas apa jawaban Bung Hatta?. "Kalau saudara memilih Hasjim karena ia keponakanku, aku tidak setuju," kata Bung Hatta dikutip dari Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Otobiografi Hasjim Ning.
Baca juga: Komplotan Pembobol 26 Mesin ATM di Sumatera Selatan Dilumpuhkan Polisi, Begini Modus Operandinya
Dalam percakapan itu, Margono mampu merasionalkan alasannya di mana Bung Hatta akhirnya memanggil Hasjim Ning. Bung Hatta mengatakan mendukung tawaran Margono dan ia berharap Hasjim Ning bisa membantunya. Hasjim Ning tak kuasa menolak.
Ia pegang erat pesan Bung Hatta yang mengatakan ISC bukan usaha pribadinya, melainkan milik negara di mana amanah negara harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. "Pakailah prinsip kakek Hasjim dalam berusaha. Harta orang jangan dimakan, harta Hasjim jangan diambil orang," pesan Bung Hatta.
Pada 1 Oktober 1951, Hasjim Ning resmi menjabat sebagai Presiden Direktur ISC, perusahaan perakitan mobil pertama di Indonesia. Perakitan atau assembling plant merupakan langkah awal. Berikutnya bangsa Indonesia diharapkan bisa memiliki pabrik mobil sendiri.
Berbagai kendala coba diatasi Hasjim Ning, terutama tekanan politik. Hal itu mengingat ada dua perusahaan milik orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia), yakni NV Putera dan Zoro Coporation yang ikut memiliki saham di ISC. Sementara saat itu isu politik anti PSI lagi panas-panasnya.
Hasjim Ning yang sejak kecil mendapat pendidikan (sekolah) dan mengaji secara ketat, belajar ilmu ekonomi dari Bung Hatta. Dari Bung Hatta juga Hasjim bisa kenal dekat dengan Bung Karno dan Sutan Sjahrir. Bahkan ketika di Jakarta, Hasjim Ning sempat menempati paviliun di mana rumah besarnya (induk) menjadi tempat tinggal Sutan Sjahrir.
Pada Agustus tahun 1951 itu, Hasjim Ning tidak segera mengiyakan permintaan Margono Djojohadikusumo yang menginginkan dirinya menjabat Presiden Direktur ISC. Bahkan Hasjim menolak dengan alasan telah memiliki usaha sendiri. Dengan bahasa Belanda ia mengatakan: Ik denk veel beter als een kleine baas dan een grote knecht (Aku kira lebih baik jadi tuan kecil dari pada kuli besar).
"Tapi di ISC jij (kamu) akan menjadi een grote baas, bukan een kleine knecht," jawab Margono Djojohadikusumo. Hasjim Ning bergeming. Ia kukuh dengan sikapnya. Ia mengatakan, sudah senang dengan usahanya sendiri di mana dirinya optimis bisnis itu bakal berkembang besar.
"Ya itu ide yang baik. Justru itulah yang menyebabkan aku memilih jij (kamu)," kata Margono Djojohadikusumo yang berusaha keras melobi. Karena gagal melunakkan hati Hasjim Ning, Margono menemui Bung Hatta untuk meminta bantuan. Jika Bung Hatta yang meminta, Margono berharap Hasjim akan bersedia.
Lantas apa jawaban Bung Hatta?. "Kalau saudara memilih Hasjim karena ia keponakanku, aku tidak setuju," kata Bung Hatta dikutip dari Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Otobiografi Hasjim Ning.
Baca juga: Komplotan Pembobol 26 Mesin ATM di Sumatera Selatan Dilumpuhkan Polisi, Begini Modus Operandinya
Dalam percakapan itu, Margono mampu merasionalkan alasannya di mana Bung Hatta akhirnya memanggil Hasjim Ning. Bung Hatta mengatakan mendukung tawaran Margono dan ia berharap Hasjim Ning bisa membantunya. Hasjim Ning tak kuasa menolak.
Ia pegang erat pesan Bung Hatta yang mengatakan ISC bukan usaha pribadinya, melainkan milik negara di mana amanah negara harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. "Pakailah prinsip kakek Hasjim dalam berusaha. Harta orang jangan dimakan, harta Hasjim jangan diambil orang," pesan Bung Hatta.
Pada 1 Oktober 1951, Hasjim Ning resmi menjabat sebagai Presiden Direktur ISC, perusahaan perakitan mobil pertama di Indonesia. Perakitan atau assembling plant merupakan langkah awal. Berikutnya bangsa Indonesia diharapkan bisa memiliki pabrik mobil sendiri.
Berbagai kendala coba diatasi Hasjim Ning, terutama tekanan politik. Hal itu mengingat ada dua perusahaan milik orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia), yakni NV Putera dan Zoro Coporation yang ikut memiliki saham di ISC. Sementara saat itu isu politik anti PSI lagi panas-panasnya.
Lihat Juga :