Bripda Diego Rumaropen Gugur, Ratusan Keluarga Datangi Kapolda Papua Tuntut Keadilan
Selasa, 21 Juni 2022 - 21:30 WIB
loading...
A
A
A
"Moyang Diego pionir pembangunan di Wamena, dan juga Polri di Papua. Jadi kami minta hukum ditegakkan. Kenapa komandannya pergi sendiri, meninggalkan anak yang masih magang. Terlalu keji peristiwa ini. Kami minta ada keadilan," tegas Alexander Mauri.
Baca juga: Pernikahan Sejenis Gemparkan Jambi, Pengacara: Terdakwa Sayang Korban
Alexander Mauri menyebut, ada yang telah merusak citra Polri. "Proses ini benar-benar janggal, senjata digunakan untuk menembak sapi. Kami menduga ada penjualan senjata, dan menumbalkan anak kami," tegasnya.
Sementara itu Mathius D. Fakhri mengatakan, atas nama pribadi dan Polda Papua, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya putra Papua terbaik, almarhum Bripda Fernando Diego Rumaropen.
"Kami akan cari sampai kemanapun. Kami tidak akan toleransi. Saya minta dukungan keluarga dengan bantuan doa, agar kami temukan pelaku. Masalah ini sementara ditangani dan kami trasparan. Komandannya bersalah secara SOP, dan kami copot dari jabatannya," tegas Mathius.
Menurutnya, dalam institusi Polri ada dua aturan, yakni proses secara internal dan peradilan. Sehingga akan terlihat apakah yang bersangkutan melanggar SOP dan pidana. "Saya meminta keluarga untuk bersabar, dengan proses penyelidikan yang sementara dilakukan. Saya mohon waktu, kita percayakan proses yang sedang berjalan. Tidak perlu saling berburuk sangka, karena duka keluarga bisa dimanfaatkan pihak lain," pungkasnya.
Baca juga: Pernikahan Sejenis Gemparkan Jambi, Pengacara: Terdakwa Sayang Korban
Alexander Mauri menyebut, ada yang telah merusak citra Polri. "Proses ini benar-benar janggal, senjata digunakan untuk menembak sapi. Kami menduga ada penjualan senjata, dan menumbalkan anak kami," tegasnya.
Sementara itu Mathius D. Fakhri mengatakan, atas nama pribadi dan Polda Papua, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya putra Papua terbaik, almarhum Bripda Fernando Diego Rumaropen.
"Kami akan cari sampai kemanapun. Kami tidak akan toleransi. Saya minta dukungan keluarga dengan bantuan doa, agar kami temukan pelaku. Masalah ini sementara ditangani dan kami trasparan. Komandannya bersalah secara SOP, dan kami copot dari jabatannya," tegas Mathius.
Menurutnya, dalam institusi Polri ada dua aturan, yakni proses secara internal dan peradilan. Sehingga akan terlihat apakah yang bersangkutan melanggar SOP dan pidana. "Saya meminta keluarga untuk bersabar, dengan proses penyelidikan yang sementara dilakukan. Saya mohon waktu, kita percayakan proses yang sedang berjalan. Tidak perlu saling berburuk sangka, karena duka keluarga bisa dimanfaatkan pihak lain," pungkasnya.
(eyt)
Lihat Juga :