COVID-19 di Jatim Hampir Samai DKI Jakarta, Ini 3 Pesan Doni Monardo
Rabu, 24 Juni 2020 - 19:12 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, harus ada pelibatan dengan tokoh masyarakat maupun tokoh agama dan berbagai kalangan di Jatim. Sehingga, kasus pengambil alihan jenazah tidak terulang lagi. “Sangat disayangkan, dimana pemerintah harus melindungi warga negaranya, akhirnya terdampak COVID-19 akibat karena ketidaktahuan,” kata dia.
Kedua, langkah Pemprov Jatim menggelar tes massal COVID-19 bersama dengan kabupaten dan kota patut diapresiasi. Sebab, dari tes tersebut, mampu mendapatkan sebanyak 2.000 spesimen per hari. Sehingga wajar, dalam sehari ada rata-rata 100 hingga 300 kasus positif COVID-19 baru di Jatim. “Perlu diperhatikan langkah isolasi mandiri tingkat RT atau RW. Saya melihat langkah ini sudah dilakukan. Hanya mungkin perlu lebih agresif,” kata Doni.
Sehingga, kata dia, mereka yang sudah positif COVID-19, dan juga mereka yang kontak erat dengan yang positif, untuk disiplin dan tidak melakukan kegiatan di luar rumah. Maka, dia meminta agar TNI dan Polri turun ke lapangan untuk mendisiplinkan masyarakat. “Sehingga seluruh warga memiliki kepatuhan. Namun kita harapkan agar kepatuhan itu bukan hanya karena kehadiran TNI Polri, tapi karena kesadaran personal,” kata dia.
Ketiga, kata Doni, penting untuk melakukan kampanye sosial dalam upaya pencegahan. Upaya pencegahan bisa menjadi bagian dari ibadah. Menurut dia, pendekatan ini bagus. Jika bisa melindungi diri sendiri dan melindungi orang lain dari COVID-19, maka bisa menjadi pahlawan kemanusiaan. “Imbauan ini harus digalakkan untuk kurangi sikap berani hadapi penyakit. Sikap berani hadapi penyakit ini kurang bagus. Dapat mengakibatkan kerugian diri sendiri dan lingkungan,” pungkas dia.
Kedua, langkah Pemprov Jatim menggelar tes massal COVID-19 bersama dengan kabupaten dan kota patut diapresiasi. Sebab, dari tes tersebut, mampu mendapatkan sebanyak 2.000 spesimen per hari. Sehingga wajar, dalam sehari ada rata-rata 100 hingga 300 kasus positif COVID-19 baru di Jatim. “Perlu diperhatikan langkah isolasi mandiri tingkat RT atau RW. Saya melihat langkah ini sudah dilakukan. Hanya mungkin perlu lebih agresif,” kata Doni.
Sehingga, kata dia, mereka yang sudah positif COVID-19, dan juga mereka yang kontak erat dengan yang positif, untuk disiplin dan tidak melakukan kegiatan di luar rumah. Maka, dia meminta agar TNI dan Polri turun ke lapangan untuk mendisiplinkan masyarakat. “Sehingga seluruh warga memiliki kepatuhan. Namun kita harapkan agar kepatuhan itu bukan hanya karena kehadiran TNI Polri, tapi karena kesadaran personal,” kata dia.
Ketiga, kata Doni, penting untuk melakukan kampanye sosial dalam upaya pencegahan. Upaya pencegahan bisa menjadi bagian dari ibadah. Menurut dia, pendekatan ini bagus. Jika bisa melindungi diri sendiri dan melindungi orang lain dari COVID-19, maka bisa menjadi pahlawan kemanusiaan. “Imbauan ini harus digalakkan untuk kurangi sikap berani hadapi penyakit. Sikap berani hadapi penyakit ini kurang bagus. Dapat mengakibatkan kerugian diri sendiri dan lingkungan,” pungkas dia.
(nth)
Lihat Juga :