Kisah Ken Umang, Cinta Pertama Ken Arok dan Pejuang Singasari yang Hanya Menjadi Selir
Senin, 06 Juni 2022 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Dikisahkan dalam buku "Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit" karya Slamet Muljana, Ken Arok merupakan hasil hubungan gelap antara Ken Ndok dengan laki-laki lain yang berujung hingga perceraian Ken Ndok dengan suaminya, Gajah Para.
Gadjah Para memutuskan untuk menceraikan istrinya, dan kembali pulang ke Dusun Campara. Sedangkan Ken Endok kembali pulang ke Dusun Pangkur. Lima hari usai berpisah dengan istrinya, Gadjah Para dikabarkan meninggal dunia.
Sementara, Ken Ndok yang malu bahwa karena telah hamil usai berhubungan gelap dengan laki-laki bukan suaminya, berniat membuang bayinya. Niat itu diwujudkan setelah bayi mungil darah dagingnya sendiri terlahir ke dunia. Ken Ndok membuang bayinya di pemakaman.
Pada malam harinya, bayi mungil tersebut ditemukan seorang pencuri bernama Lembong. Pencuri itu diceritakan melihat cahaya terang di pemakaman, yang ternyata seorang bayi laki-laki sedang menangis.
Lembong akhirnya tertarik memungut Ken Arok dan mengambilnya menjadi anak angkat. Setelah beberapa hari kemudian, seorang pembantu Lembong menyiarkan informasi bahwa sang majikan telah menemukan anak bayi yang diambil di kuburan, dengan kondisi anak itu memancarkan sinar.
Baca juga: Mencekam! Sepasang Kekasih Dihajar Massa Usai Tertangkap Mencuri Motor Petani
Informasi yang berkembang dari mulut ke mulut itu sampailah ke telinga Ken Ndok. Lalu Ken Ndok mendatangi Lembong, dan bercerita bahwa bayi yang ditemukannya adalah anaknya bernama Ken Arok, yang merupakan keturunan batara Brahma.
Ken Ndok tetap mengizinkan Ken Arok hidup bersama Lembong semasa kecilnya. Saat diasuh Lembong, Ken Arok kecil juga suka berjudi hingga menghabiskan harta kekayaan orang tua pungutnya.
Lembong yang jatuh miskin, akhirnya mengusir Ken Arok. Kemudian Ken Arok diasuh oleh seorang penjudi asal Desa Karuman (yang kini diduga sebagai wilayah Garum, Kabupaten Blitar) bernama Bango Samparan.
Bango Samparan senang dengan Ken Arok, karena dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Dalam perjalanannya, Ken Arok tidak betah diasuh oleh Genukbuntu, istri tua Bango Samparan.
Ken Arok akhirnya berkelana, dan berkawan dengan Tita yang merupakan anak seorang Kepala Desa Siganggeng (yang kini diduga sebagai wilayah Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang).
Baca juga: Memalukan! 2 Kubu Mahasiswa PMII Bentrok di Kantor Bupati Bulukumba
Gadjah Para memutuskan untuk menceraikan istrinya, dan kembali pulang ke Dusun Campara. Sedangkan Ken Endok kembali pulang ke Dusun Pangkur. Lima hari usai berpisah dengan istrinya, Gadjah Para dikabarkan meninggal dunia.
Sementara, Ken Ndok yang malu bahwa karena telah hamil usai berhubungan gelap dengan laki-laki bukan suaminya, berniat membuang bayinya. Niat itu diwujudkan setelah bayi mungil darah dagingnya sendiri terlahir ke dunia. Ken Ndok membuang bayinya di pemakaman.
Pada malam harinya, bayi mungil tersebut ditemukan seorang pencuri bernama Lembong. Pencuri itu diceritakan melihat cahaya terang di pemakaman, yang ternyata seorang bayi laki-laki sedang menangis.
Lembong akhirnya tertarik memungut Ken Arok dan mengambilnya menjadi anak angkat. Setelah beberapa hari kemudian, seorang pembantu Lembong menyiarkan informasi bahwa sang majikan telah menemukan anak bayi yang diambil di kuburan, dengan kondisi anak itu memancarkan sinar.
Baca juga: Mencekam! Sepasang Kekasih Dihajar Massa Usai Tertangkap Mencuri Motor Petani
Informasi yang berkembang dari mulut ke mulut itu sampailah ke telinga Ken Ndok. Lalu Ken Ndok mendatangi Lembong, dan bercerita bahwa bayi yang ditemukannya adalah anaknya bernama Ken Arok, yang merupakan keturunan batara Brahma.
Ken Ndok tetap mengizinkan Ken Arok hidup bersama Lembong semasa kecilnya. Saat diasuh Lembong, Ken Arok kecil juga suka berjudi hingga menghabiskan harta kekayaan orang tua pungutnya.
Lembong yang jatuh miskin, akhirnya mengusir Ken Arok. Kemudian Ken Arok diasuh oleh seorang penjudi asal Desa Karuman (yang kini diduga sebagai wilayah Garum, Kabupaten Blitar) bernama Bango Samparan.
Bango Samparan senang dengan Ken Arok, karena dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Dalam perjalanannya, Ken Arok tidak betah diasuh oleh Genukbuntu, istri tua Bango Samparan.
Ken Arok akhirnya berkelana, dan berkawan dengan Tita yang merupakan anak seorang Kepala Desa Siganggeng (yang kini diduga sebagai wilayah Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang).
Baca juga: Memalukan! 2 Kubu Mahasiswa PMII Bentrok di Kantor Bupati Bulukumba
Lihat Juga :