Belum Vaksin Gegara Idap Penyakit, Pelajar di Bulukumba Tak Diikutkan PTM

Jum'at, 07 Januari 2022 - 13:24 WIB
loading...
Belum Vaksin Gegara...
Suasana belajar mengajar di sekolah. Saat ini, proses pembelajaran dengan metode PTM secara terbatas mulai dilakukan. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
BULUKUMBA - Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Bulukumba tidak mengizinkan salah seorang siswanya yang belum vaksin mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) , meski siswa tersebut memiliki keterangan tidak bisa vaksin. Sang pelajar belum kunjung divaksin Covid-19 karena mengidap penyakit.

Kepala SMA Negeri 2 Bulukumba, H Supri, menegaskan bahwa siswa yang belum vaksin tidak boleh mengikuti PTM meskipun memiliki keterangan tidak boleh vaksin .

Baca Juga: Disdukcapil Bulukumba Lakukan Perekaman Biometrik ODGJ

Supri mengungkapkan bahwa pihaknya hanya menjalankan aturan yang sebelumnya telah diatur dalam surat edaran Bupati Bulukumba tentang pelaksanaan PTM dan edaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan soal penerapan scan barcode.

"Saya hanya melaksanakan aturan yang merupakan edaran dari kadis Provinsi dan Bupati. Jangan sampai saya dikatakan kaku membaca aturan," ungkap Supri.

Berdasarkan surat edaran Bupati Bulukumba nomor 188.6/2449/Dikud yang diperlihatkan oleh Supri, pada poin 3 huruf a dan b memang mengatur soal kewajiban tenaga pendidik dan siswa untuk vaksin apabila tidak dilakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Soal siswi atas nama GT yang tidak dapat divaksin karena memiliki penyakit penyerta, menurut Supri pihaknya tetap memberikan pembelajaran dengan sistem PJJ. "Pihak sekolah tidak merugikan yang bersangkutan (GT) sudah diberikan kebijaksanaan dengan memberikan PJJ," ujarnya.

"Jelas sekali dalam edaran bahwa kalau tidak (belum) vaksin , belajar dari rumah dengan PJJ. Kan untuk kebaikan sendiri sehingga dibelajarkan dari rumah," sambung Supri.

Baca Juga: 70 Persen Masyarakat Bantaeng dan Bulukumba Telah Divaksin

Sebelumnya, salah seorang orang tua siswa mempersoalkan kebijakan sekolah yang tidak membolehkan siswa belajar tatap muka karena belum vaksin . Warga Kecamatan Bulukumpa atas nama Hasanuddin Hamid mencurahkan isi hatinya di sosial media miliknya.

Ia mengaku dilema atas kebijakan pemerintah yang tidak membolehkan siswa sekolah mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) sebelum divaksin . Hasanuddin mengungkapkan bahwa anaknya sekarang duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA), dimana pihak sekolah tidak membiarkan anaknya mengikuti PTM.

Bukannya tidak mau divaksin , kata dia, tetapi anaknya menderita penyakit yang membuatnya tidak cocok untuk divaksin. "Anak saya adalah Penderita Syndrom Nefrotik Lupus. Penyakit ini akan diderita seumur hidupnya karena belum ditemukan obat yg bisa menyembuhkannya hingga saat ini," kata dia.

"Di beberapa tempat pelaksanaan vaksin, anak saya sudah mengantri untuk ikut vaksin namun hasil skrining tetap tidak membolehkan anak saya untuk divaksin," lanjutnya.

Meski anaknya telah memiliki keterangan tidak bisa divaksin dari dokter puskesmas, namun pihak sekolah masih tetap tidak membiarkannya ikut sekolah tatap muka.

"Persoalannya kemudian adalah Sekolah tidak membolehkan anak saya untuk ikut pembalajaran tatap muka dengan dalih menjalankan aturan," ujarnya.

Baca Juga: Polres Bulukumba Tangkap 2 Pelajar Pelaku Penganiayaan

Hasanuddin mengatakan bahwa bukannya dirinya tidak taat terhadap protokol kesehatan namun, ia meminta kebijakan pihak sekolah agar memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mendapatkan pembelajaran tatap muka, mengingat anaknya sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan memasuki masa ujian akhir.

"Jika mengacu pada aturan herd immunity, dimana Bulukumba oleh data Disdukcapil, jumlah penduduknya yang telah melakukan vaksin sudah mencapai 70 persen. Artinya herd immunity (kekebalan kelompok) telah terbentuk," tukasnya.
(tri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inisiatif Inklusif untuk...
Inisiatif Inklusif untuk Mengembangkan Akses Layanan Kesehatan di Sulawesi Selatan
Vaksinasi Covid-19 Penguat...
Vaksinasi Covid-19 Penguat Kedua untuk Lansia, Pemprov Kepri Tunggu Kemenkes
Nyalakan Tanda Bahaya!...
Nyalakan Tanda Bahaya! 25 Kasus Baru Covid-19 Muncul di Kepri
PTM Digelar 100 Persen,...
PTM Digelar 100 Persen, Pelajar di Kota Bandung Diminta Taat Prokes
Cegah Penularan COVID-19,...
Cegah Penularan COVID-19, Masuk Wilayah Kepri Wajib Vaksin Booster
Masuk Mall Wajib Sudah...
Masuk Mall Wajib Sudah Booster, Warga Manado Banjiri Gerai Vaksin
Vaksin Covid-19 Berbayar...
Vaksin Covid-19 Berbayar Ratusan Ribu Tahun Depan, Menkes Imbau Vaksinasi Sekarang Mumpung Gratis
Vaksinasi Dinilai Tetap...
Vaksinasi Dinilai Tetap Penting meski Covid-19 di Indonesia Terkendali
Masyarakat Diimbau agar...
Masyarakat Diimbau agar Disiplin Lagi Memakai Masker
Rekomendasi
Presiden Korea Selatan...
Presiden Korea Selatan Bingung Taegeuk Warriors Tersingkir di Piala Dunia 2026
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Berita Terkini
Kepala UPTD Diciptabintar...
Kepala UPTD Diciptabintar Pemkot Bandung Dorong Penegakan Aturan Pemanfaatan Ruang
JKF Fun Padel Competition...
JKF Fun Padel Competition 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Instansi di Jakarta
Isak Tangis Keluarga...
Isak Tangis Keluarga Kecelakaan Maut di Bekasi Timur: Saya Nggak Kuat Anaknya Masih Kecil
Manfaat MBG Dirasakan...
Manfaat MBG Dirasakan Petani dan Pedagang di Pedesaan dan Daerah 3T
Jro Bima, Memperluas...
Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali lewat Jalur Politik
Polisi Amankan Sopir...
Polisi Amankan Sopir Truk Kecelakaan Maut di Bekasi
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved