Jenazah PDP COVID-19 Dibawa Pulang Paksa Keluarga dari RSKD Dadi
Kamis, 04 Juni 2020 - 16:37 WIB
loading...
A
A
A
Arman mengatakan, permintaan rujukan itu dilakukan pihak RS Akademis melalui aplikasi sistem rujukan terintegrasi (Sisrute). Kemudian pihaknya mengevaluasi lebih dulu riwayat penyakit pasien tersebut dengan memperhatikan foto rontgen.
Dari situ diketahui si pasien memiliki riwayat bronkopneumonia, salah satu jenis pneumonia, yaitu infeksi yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada paru-paru disebabkan virus, bakteri, atau jamur.
"Setelah dievaluasi foto rontgennya ada bronkopneumonia makanya langsung dicurigai dia stroke disertai COVID. Tim kami setuju menerima rujukan. Jadi dirujuk sebagai PDP. Setelah itu dirawat, langsung masuk ICU ventilator, tanggal 3 makin jelek, makin susah komunikasi beberapa dokter ahli sudah tangani tapi kondisinya makin parah, akhirnya tanggal 3 hari Rabu, pukul 14.00 Wita meninggal," papar Arman.
Saat mengetahui bahwa pasien yang bersangkutan telah meninggal dunia, lanjut Arman, pihak rumah sakit segera menghubungi tim satgas Gugus Tugas COVID-19 untuk memproses penjemputan. Sementara rumah sakit mempersiapkan proses pemulasaraan jenazah.
"Nah proses menunggu itu, tiba-tiba muncul keluarganya hampir 200 orang, baru anak Jalan Layya, preman-preman semua ada yang bawa senjata tajam, bawa badik, pisau. Saya sementara masih di kantor, sekitar jam setengah empat sore itu," terang Arman.
Melihat jumlah massa yang disebutkan Arman sampai ratusan orang, petugas sekuriti kewalahan. dia meminta pihaknya tidak melakukan perlawanan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab mereka berjumlah banyak dan membawa senjata tajam.
Dari situ diketahui si pasien memiliki riwayat bronkopneumonia, salah satu jenis pneumonia, yaitu infeksi yang mengakibatkan terjadinya peradangan pada paru-paru disebabkan virus, bakteri, atau jamur.
"Setelah dievaluasi foto rontgennya ada bronkopneumonia makanya langsung dicurigai dia stroke disertai COVID. Tim kami setuju menerima rujukan. Jadi dirujuk sebagai PDP. Setelah itu dirawat, langsung masuk ICU ventilator, tanggal 3 makin jelek, makin susah komunikasi beberapa dokter ahli sudah tangani tapi kondisinya makin parah, akhirnya tanggal 3 hari Rabu, pukul 14.00 Wita meninggal," papar Arman.
Saat mengetahui bahwa pasien yang bersangkutan telah meninggal dunia, lanjut Arman, pihak rumah sakit segera menghubungi tim satgas Gugus Tugas COVID-19 untuk memproses penjemputan. Sementara rumah sakit mempersiapkan proses pemulasaraan jenazah.
"Nah proses menunggu itu, tiba-tiba muncul keluarganya hampir 200 orang, baru anak Jalan Layya, preman-preman semua ada yang bawa senjata tajam, bawa badik, pisau. Saya sementara masih di kantor, sekitar jam setengah empat sore itu," terang Arman.
Melihat jumlah massa yang disebutkan Arman sampai ratusan orang, petugas sekuriti kewalahan. dia meminta pihaknya tidak melakukan perlawanan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab mereka berjumlah banyak dan membawa senjata tajam.
Lihat Juga :