Kisah Pasukan Tameng dan Klewang, Penumpas Antek-antek PKI di Bali
Sabtu, 02 Oktober 2021 - 05:00 WIB
loading...
Apel Siaga kebulatan tekan mendukung Presiden Soekarno di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali pada 22 Februari 1966. Foto/Repro/Arsip ANRI
A
A
A
DENPASAR - Perayaan Tumpek Landep, hari ritual Hindu Bali untuk benda-benda pusaka, dilakoni Komang dengan membersihkan benda-benda warisan leluhurnya sejak pagi di sebuah desa di Kabupaten Jembrana.
Ia mengumpulkan benda itu dari prapen, tempat pembuatan senjata dan benda-benda dari besi, warisan keluarga besarnya yang terawat bersih dengan cat tembok sekelilingnya berwarna merah.
Jejeran senjata dan benda-benda bersejarah itu ia turunkan, dilap bersih menggunakan minyak kelapa. Setelah itu semua benda akan diupacarai di taman, sebuah pusat mata air yang disakralkan dekat rumahnya. Menginjak siang, Komang menyiapkan sesaji dan membawa benda-benda itu ke taman.
Baca juga: Pesan Terakhir Kolonel Sugiyono Sebelum Dibunuh PKI: Bu Hari Ini Aku Tidak Jadi Makan di Rumah
Ada yang tidak biasa pada perayaan tumpek landep kali ini. Komang hafal betul senjata dan benda-benda warisan leluhur yang harus diupacarainya.
![Kisah Pasukan Tameng dan Klewang, Penumpas Antek-antek PKI di Bali]()
Tapi kali ini, ia melihat sebuah benda baru yang terselip di antara kain kasa, kain putih untuk membungkus mayat saat upacara pengabenan. Benda itu terbungkus sobekan kain putih yang sudah lusuh, dengan warna kehitam-hitaman dari bercak darah yang sudah terawetkan oleh waktu.
Komang membuka balutan kain kasa itu dan ia melihat sebuah klewang, samurai panjang, terbungkus di dalam tempat kayu panjang dengan patra, ukiran-ukiran Bali, bercat hitam. Sungguh panjang klewang itu.
Komang penasaran. Tanpa ragu dia hunus klewang itu. Ia tercengang, darimana asal benda ini? Apakah ini peninggalan leluhurnya? Untuk apa klewang ini? Apa karena ia keturunan seorang empu, pembuat keris dan senjata-senjata, ia harus mewariskan sebuah klewang yang sungguh mengagumkan ini? Kalau ini memang warisan leluhur, kenapa tidak disungsung, disembah sebagai senjata yang disucikan?
Baca juga: Kisah Sanjoto, Kapten Polisi Militer Pemburu Gembong PKI DN Aidit di Semarang
Rasa penasaran dan segudang pertanyaan itu ia tumpahkan pada neneknya. Sang nenekpun terkejut saat Komang menunjukkan klewang tersebut. “Barang tenget, de ampah (barang sakral jangan sembarangan membawanya)," ujar sang nenek mengambil klewang secara tiba-tiba dari tangan Komang.
Selanjutnya, klewang itu kembali dibawa ke prapen, bahkan oleh nenek dihaturkan canang, sesaji, untuk memohon maaf.
Begitulah I Ngurah Suryawan mengawali esai panjangnya berjudul "Lorong Gelap Ingatan (Etnografi Kekerasan dan Kesaksian Tameng)". Esai itu juga menjadi bagian isi bukunya yang terkenal "Ladang Hitam di Pulau Dewa: Pembantaian Massal di Bali 1965".
Nenek Komang oleh masyarakat sekitar akrab dipanggil Odah Mangku karena memang ia adalah seorang pemangku, pemimpin upacara-upacara ritual keagamaaan Hindu untuk melanjutkan suaminya yang telah meninggal tahun 1980-an.
Suaminya, Ketut Darta adalah tokoh masyarakat terpandang di desa, menjadi veteran pejuang, dan menjadi pemimpin PNI (Partai Nasionalis Indonesia) saat tahun 1960-an di desa.
Orang-orang desa setempat sering menyebutkan Zaman Gestok (Gerakan 1 Oktober 1965) itu sebagai Gumi Wug, Gumi Genting (bumi hancur, bumi gawat).
Saat seruan gerakan mengikis habis komunis sampai ke akar-akarnya dicanangkan akhir November 1965, rumah Darta menjadi markas barisan tameng dan massa Front Pancasila untuk “Pengganyangan Komunis”.
Ini tidak lepas dari posisi Darta sebagai tokoh PNI. Setiap hari rumahnya ramai dengan pasukan tameng, milisi sipil dari massa PNI dan pemburu PKI. Mereka berseragam serba hitam, berbaret merah bersenjata klewang.
Sore hari mereka berkumpul di rumah Darta dan bersiap untuk menghabiskan jatah (daftar bagian orang yang harus dicari) di desa tetangga. Sebelum eksekusi dilakukan, massa akan melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah orang yang dituduh anggota dan simpatisan PKI.
Tengah malam mereka datang dan acara berlanjut dengan pesta lawar (makanan tradisi Bali dari daging babi) dan arak. Odah Mangku menyaksikan saat para tameng ini datang dengan berbaju hitam, klewang terhunus dengan tangan yang berlumuran darah.
Semua barisan massa ini dikoordinasi oleh Darta yang selalu sibuk menghadiri rapat-rapat tokoh PNI di berbagai desa. Setiap bepergian, ia selalu dikawal oleh seorang Tameng dan selalu membawa sebuah klewang yang dianggapnya sangat bertuah menyelamatkan nyawanya dalam berbagai perkelahian antar geng di desa.
Ia mengumpulkan benda itu dari prapen, tempat pembuatan senjata dan benda-benda dari besi, warisan keluarga besarnya yang terawat bersih dengan cat tembok sekelilingnya berwarna merah.
Jejeran senjata dan benda-benda bersejarah itu ia turunkan, dilap bersih menggunakan minyak kelapa. Setelah itu semua benda akan diupacarai di taman, sebuah pusat mata air yang disakralkan dekat rumahnya. Menginjak siang, Komang menyiapkan sesaji dan membawa benda-benda itu ke taman.
Baca juga: Pesan Terakhir Kolonel Sugiyono Sebelum Dibunuh PKI: Bu Hari Ini Aku Tidak Jadi Makan di Rumah
Ada yang tidak biasa pada perayaan tumpek landep kali ini. Komang hafal betul senjata dan benda-benda warisan leluhur yang harus diupacarainya.

Tapi kali ini, ia melihat sebuah benda baru yang terselip di antara kain kasa, kain putih untuk membungkus mayat saat upacara pengabenan. Benda itu terbungkus sobekan kain putih yang sudah lusuh, dengan warna kehitam-hitaman dari bercak darah yang sudah terawetkan oleh waktu.
Komang membuka balutan kain kasa itu dan ia melihat sebuah klewang, samurai panjang, terbungkus di dalam tempat kayu panjang dengan patra, ukiran-ukiran Bali, bercat hitam. Sungguh panjang klewang itu.
Komang penasaran. Tanpa ragu dia hunus klewang itu. Ia tercengang, darimana asal benda ini? Apakah ini peninggalan leluhurnya? Untuk apa klewang ini? Apa karena ia keturunan seorang empu, pembuat keris dan senjata-senjata, ia harus mewariskan sebuah klewang yang sungguh mengagumkan ini? Kalau ini memang warisan leluhur, kenapa tidak disungsung, disembah sebagai senjata yang disucikan?
Baca juga: Kisah Sanjoto, Kapten Polisi Militer Pemburu Gembong PKI DN Aidit di Semarang
Rasa penasaran dan segudang pertanyaan itu ia tumpahkan pada neneknya. Sang nenekpun terkejut saat Komang menunjukkan klewang tersebut. “Barang tenget, de ampah (barang sakral jangan sembarangan membawanya)," ujar sang nenek mengambil klewang secara tiba-tiba dari tangan Komang.
Selanjutnya, klewang itu kembali dibawa ke prapen, bahkan oleh nenek dihaturkan canang, sesaji, untuk memohon maaf.
Begitulah I Ngurah Suryawan mengawali esai panjangnya berjudul "Lorong Gelap Ingatan (Etnografi Kekerasan dan Kesaksian Tameng)". Esai itu juga menjadi bagian isi bukunya yang terkenal "Ladang Hitam di Pulau Dewa: Pembantaian Massal di Bali 1965".
Nenek Komang oleh masyarakat sekitar akrab dipanggil Odah Mangku karena memang ia adalah seorang pemangku, pemimpin upacara-upacara ritual keagamaaan Hindu untuk melanjutkan suaminya yang telah meninggal tahun 1980-an.

Suaminya, Ketut Darta adalah tokoh masyarakat terpandang di desa, menjadi veteran pejuang, dan menjadi pemimpin PNI (Partai Nasionalis Indonesia) saat tahun 1960-an di desa.
Orang-orang desa setempat sering menyebutkan Zaman Gestok (Gerakan 1 Oktober 1965) itu sebagai Gumi Wug, Gumi Genting (bumi hancur, bumi gawat).
Saat seruan gerakan mengikis habis komunis sampai ke akar-akarnya dicanangkan akhir November 1965, rumah Darta menjadi markas barisan tameng dan massa Front Pancasila untuk “Pengganyangan Komunis”.
Ini tidak lepas dari posisi Darta sebagai tokoh PNI. Setiap hari rumahnya ramai dengan pasukan tameng, milisi sipil dari massa PNI dan pemburu PKI. Mereka berseragam serba hitam, berbaret merah bersenjata klewang.
Sore hari mereka berkumpul di rumah Darta dan bersiap untuk menghabiskan jatah (daftar bagian orang yang harus dicari) di desa tetangga. Sebelum eksekusi dilakukan, massa akan melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah orang yang dituduh anggota dan simpatisan PKI.
Tengah malam mereka datang dan acara berlanjut dengan pesta lawar (makanan tradisi Bali dari daging babi) dan arak. Odah Mangku menyaksikan saat para tameng ini datang dengan berbaju hitam, klewang terhunus dengan tangan yang berlumuran darah.
Semua barisan massa ini dikoordinasi oleh Darta yang selalu sibuk menghadiri rapat-rapat tokoh PNI di berbagai desa. Setiap bepergian, ia selalu dikawal oleh seorang Tameng dan selalu membawa sebuah klewang yang dianggapnya sangat bertuah menyelamatkan nyawanya dalam berbagai perkelahian antar geng di desa.
Lihat Juga :