Kisah Habib H Mutahar dan Lagu Mars Hari Merdeka
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 05:58 WIB
loading...
A
A
A
Setelah Agresi Militer II Belanda, 6 Juli 1949, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Yogyakarta dari pengasingan. Kemudian pada 17 Agustus 1949, bendera pusaka yang dibawa H Mutahar dikibarkan kembali di Gedung Agung Yogyakarta untuk memperingati hari ulang tahun ke-4 RI. Atas jasanya menjaga bendera pusaka, Mutahar mendapatkan anugerah Bintang Mahaputera pada 1961.
H Mutahar dalam karirnya pernah bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947). Selanjutnya, dia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya sebagai pejabat negara barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973).[4] Ia diketahui menguasai paling tidak enam bahasa secara aktif. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974)
Selama hidup ia tidak menikah, namun mempunyai delapan anak semang (6 laki-laki dan 2 perempuan). Sebagian merupakan ”serahan” dari ibu mereka —yang janda— atau bapak mereka —beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Ada pula bapak/ibu yang sukarela menyerahkan anaknya untuk diakui sebagai anak sendiri. Semua sudah berumah tangga dan mempunyai 15 orang cucu (7 laki-laki dan 8 perempuan).
Karya terakhirnya adalah lagu Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia. Sementara Lagu anak-anak ciptaannya, antara lain: "Gembira", "Tepuk Tangan Silang-silang", "Mari Tepuk", "Slamatlah", "Jangan Putus Asa", "Saat Berpisah", dan "Hymne Pramuka".
H Mutahar meninggal dunia pada pada 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Sang Sayyid memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan sesuai wasiat beliau. Padahal H Mutahar berhak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata karena kiprahnya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sumber :
- id.wikipedia.org
- rri.co.id
- diolah dari berbagai sumber
H Mutahar dalam karirnya pernah bekerja sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta, kemudian menjadi pegawai tinggi Sekretariat Negara di Yogyakarta (1947). Selanjutnya, dia mendapat jabatan-jabatan yang meloncat-loncat antardepartemen. Puncak kariernya sebagai pejabat negara barangkali adalah sebagai Duta Besar RI di Tahta Suci (Vatikan) (1969-1973).[4] Ia diketahui menguasai paling tidak enam bahasa secara aktif. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974)
Selama hidup ia tidak menikah, namun mempunyai delapan anak semang (6 laki-laki dan 2 perempuan). Sebagian merupakan ”serahan” dari ibu mereka —yang janda— atau bapak mereka —beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Ada pula bapak/ibu yang sukarela menyerahkan anaknya untuk diakui sebagai anak sendiri. Semua sudah berumah tangga dan mempunyai 15 orang cucu (7 laki-laki dan 8 perempuan).
Karya terakhirnya adalah lagu Dirgahayu Indonesiaku, menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia. Sementara Lagu anak-anak ciptaannya, antara lain: "Gembira", "Tepuk Tangan Silang-silang", "Mari Tepuk", "Slamatlah", "Jangan Putus Asa", "Saat Berpisah", dan "Hymne Pramuka".
H Mutahar meninggal dunia pada pada 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Sang Sayyid memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan sesuai wasiat beliau. Padahal H Mutahar berhak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata karena kiprahnya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Sumber :
- id.wikipedia.org
- rri.co.id
- diolah dari berbagai sumber
(sms)
Lihat Juga :