Ajoeba Wartabone, Pejuang Indonesia Timur yang Gelorakan Persatuan di Awal Republik
Senin, 03 November 2025 - 17:45 WIB
loading...
Bedah buku bertajuk, Suara dari Timur: Mengenang Ajoeba Wartabone dan Perjuangan Menuju Indonesia Bersatu yang digelar dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival 2025. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ketika Republik Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945, masa depan bangsa berada dalam situasi genting. Serangan militer Belanda, manuver diplomasi, dan strategi federalisme kolonial mengancam keutuhan negara.
Di tengah tekanan tersebut, muncul suara-suara dari daerah yang ikut menopang keberlangsungan Republik. Salah satunya berasal dari Gorontalo: Ajoeba Wartabone (1894–1957), pemimpin progresif yang menegaskan sikap antipecah belah di Indonesia Timur.
Kisah intelektual dan politik tersebut menjadi topik diskusi buku bertajuk, Suara dari Timur: Mengenang Ajoeba Wartabone dan Perjuangan Menuju Indonesia Bersatu yang digelar dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival 2025, Sabtu, 1 November 2025.
Baca juga: Prabowo Berlutut ke Teungku Nyak Sandang, Penghormatan Jejak Pembelian Pesawat Seulawah RI-001
Diskusi menghadirkan sejarawan Bali Anak Agung Bagus Wirawan, penulis buku, dosen, dan peneliti Basri Amin, serta peneliti partisipasi publik dari Inggris Isabella Roberts, dipandu Maruschka Niode, dengan moderator Amanda Katili.
Di tengah tekanan tersebut, muncul suara-suara dari daerah yang ikut menopang keberlangsungan Republik. Salah satunya berasal dari Gorontalo: Ajoeba Wartabone (1894–1957), pemimpin progresif yang menegaskan sikap antipecah belah di Indonesia Timur.
Kisah intelektual dan politik tersebut menjadi topik diskusi buku bertajuk, Suara dari Timur: Mengenang Ajoeba Wartabone dan Perjuangan Menuju Indonesia Bersatu yang digelar dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival 2025, Sabtu, 1 November 2025.
Baca juga: Prabowo Berlutut ke Teungku Nyak Sandang, Penghormatan Jejak Pembelian Pesawat Seulawah RI-001
Diskusi menghadirkan sejarawan Bali Anak Agung Bagus Wirawan, penulis buku, dosen, dan peneliti Basri Amin, serta peneliti partisipasi publik dari Inggris Isabella Roberts, dipandu Maruschka Niode, dengan moderator Amanda Katili.
Lihat Juga :